SEJARAH KOTA AGATS Permulaan dan Kontak Awal Hingga pertengahan abad ke-20, wilayah pesisir selatan Papua, dari kawasan Mimika hingga bagian barat wilayah Merauke, merupakan kawasan yang relatif jarang tersentuh oleh dunia luar. Masyarakat yang mendiami wilayah ini hidup dalam tatanan sosial yang kuat, dengan para pejuang (warriors) yang mempertahankan wilayah dan kehormatan kelompok masing-masing. Ketika interaksi dengan dunia luar mulai terbuka, kehidupan sosial, kebudayaan, serta seni masyarakat di wilayah ini kemudian menarik perhatian para pendatang dan peneliti. Catatan mengenai perjumpaan paling awal dengan dunia luar muncul pada tahun 1606, ketika kapal San Pedro yang dinahkodai Kapten Luis Váez de Torres melintas di perairan selatan New Guinea. Torres mencatat keberadaan perahu-perahu di kawasan hutan mangrove yang oleh para peneliti diyakini berada di wilayah perairan Asmat. Pada tahun 1623, penjelajah Belanda Jan Carstensz juga melintas di kawasan ini, meskipun tidak tercatat melakukan kontak langsung dengan masyarakat setempat. Kontak fisik yang lebih langsung tercatat pada 3 September 1770, ketika Kapten James Cook mendarat di wilayah Asmat. Kedatangan rombongan Cook mendapat perlawanan dari pejuang lokal yang melemparkan debu kapur dan tombak sehingga Cook memilih untuk mundur. Peristiwa serupa kemudian dialami oleh penjelajah Belanda, Kolff, pada tahun 1826. Perjumpaan-perjumpaan tersebut belum serta-merta menghasilkan kehadiran permanen. Baru pada awal abad ke-20, serangkaian ekspedisi mulai membuka hubungan yang lebih intensif dengan wilayah Asmat, antara lain Ekspedisi Zuid Nieuw Guinea yang dipimpin H.A. Lorentz pada 1907, Ekspedisi Militer pada 1913, serta ekspedisi Lord Moyne pada 1936. Dr. H. A. Lorentz 1907 Sebelum tahun 1950, istilah “Asmat” belum digunakan secara luas untuk menyebut masyarakat yang mendiami wilayah ini. Orang-orang Mimika menggunakan sebutan “Manawe”, yang berarti pengayau atau pemburu kepala. Ketegangan antara kelompok-kelompok di wilayah Asmat dan masyarakat Mimika menjadi salah satu alasan pemerintah kolonial mulai menempatkan pos-pos pengawasan di wilayah perbatasan. 1936–1943 Felix Maturbongs Dalam konteks inilah Felix Maturbongs menjalankan tugasnya sebagai Bestuurs Assistent. Dari 14 Januari 1937 hingga 28 April 1938, ia bertugas di Yapero, Mimika, Papua Bagian Selatan. Pos Yapero dibangun antara lain untuk menjaga keamanan karena pada masa itu orang-orang dari wilayah Asmat sering datang ke wilayah Mimika dan terlibat dalam konflik antarkelompok. Masyarakat Mimika yang tinggal di kampung-kampung dekat sungai dan pantai yang berbatasan dengan wilayah Asmat hidup dalam situasi yang penuh kekhawatiran. Felix Maturbongs Sebagai Bestuurs Assistent, Felix Maturbongs kemudian mendapat tugas mencari lokasi yang sesuai untuk mendirikan pos pemerintahan di wilayah Asmat. Ia melakukan perjalanan keliling (tournee) menyusuri wilayah Asmat untuk mencari tempat yang dianggap paling tepat. Setelah berbulan-bulan, Felix Maturbongs menemukan sebuah lokasi cocok untuk mendirikan pos pemerintahan. Lokasi tersebut memiliki nama asli Blutseweu atau Buciew, yang berarti “mata air”. Karena nama tersebut dianggap sulit diucapkan, Felix kemudian menggunakan nama Akatsj, yang berarti “baik” atau “bagus”. Dalam pengucapan orang Belanda, Akatsj kemudian terdengar sebagai “Agats”, nama yang digunakan hingga sekarang. Sekembalinya dari perjalanan, Felix melaporkan hasil temuannya kepada Assistent Resident di Fak-Fak. Rencana pendirian pos baru tersebut kemudian mendapat persetujuan dari pihak Fak-Fak maupun Ambon. Pada 1 Mei 1938, Felix Maturbongs diangkat sebagai Bestuurs Assistent di wilayah Pomatsj dan menetap di Akatsj. Pada masa inilah sebuah permukiman awal mulai dibangun. Rumah-rumah darurat didirikan berjajar di sepanjang pantai, sementara jalan-jalan dibuat menggunakan papan karena kondisi tanah yang masih berupa rawa dan selalu berair. Permukiman tersebut berada di tengah-tengah, antara Kampung Ayam di sebelah kanan dan Kampung Syuru di sebelah kiri. Felix Maturbongs kemudian memulai pekerjaan di wilayah Asmat tengah. Setelah beberapa waktu, ia meminta izin kepada atasannya untuk melanjutkan pekerjaan pembangunan dan permukiman. Berbagai kebutuhan didatangkan dari Ambon, mulai dari bahan bangunan, makanan, hingga pakaian. Kapal pemerintah secara rutin datang setiap bulan untuk membawa logistik bagi penduduk dan pos Agats. Untuk menjaga keamanan, pasukan veldpolitie diganti setiap enam bulan dan didatangkan langsung dari Ambon. Sementara itu, para tukang didatangkan dari Kepulauan Kei-Tual. Masyarakat Asmat dari berbagai kampung juga dilibatkan secara bergiliran dalam pekerjaan pembangunan. Sebagai imbalan, mereka menerima kapak, parang, pisau, dan pakaian. Perintisan pendidikan juga mulai dilakukan. Felix meminta bantuan guru-guru dari Misi di Langgur, Kepulauan Kei. Tiga guru pertama tiba pada April 1941. Pada 1 Agustus tahun yang sama, sekolah mulai beroperasi di Ayam, Syuru, dan Ewer. Kehadiran sekolah menjadi salah satu awal dari perkembangan pelayanan misi di wilayah Asmat. Namun, perkembangan awal tersebut terhenti akibat Perang Dunia II. Ketika tentara Jepang menduduki Timika, Felix Maturbongs menerima telegram dari Residen Merauke yang memerintahkan agar seluruh penduduk (para pendatang) Agats dievakuasi ke Merauke dan pos Agats dimusnahkan. Pada 26 Januari 1943, Felix bersama seluruh warga Agats berangkat menuju Merauke menggunakan kapal Herman dan tiba di sana pada 28 Januari 1943. 1949–1953 Masuknya Para Misionaris MSC Setelah Perang Dunia II berakhir, dua kelompok besar masyarakat Asmat kembali datang ke wilayah Mimika. Pada tahun-tahun itulah karya misi di kalangan orang Asmat dimulai kembali. Ketika pada tahun 1949 kepulangan orang-orang Asmat ke wilayah mereka diatur oleh pihak Pemerintah (Bestuur), para pastor di Mimika mendiskusikan kemungkinan bahwa Pastor Zegwaard akan ikut pergi bersama rombongan Asmat. Hal ini dapat berarti bahwa sekolah-sekolah bersubsidi milik orang Asmat di Mimika akan dipindahkan ke ‘wilayah yang belum diperintah’ (onbestuurd gebied), yaitu Asmat sendiri, dan dengan cara demikian Misi akan memulai karya mereka di sana sebelum Pemerintah mendirikan pos di wilayah tersebut. Pastor Zegwaard menulis: Setelah kepindahan mereka pada tahun 1949, orang-orang Asmat masih secara teratur datang dalam kelompok-kelompok kecil untuk berkunjung secara damai ke Kokonao, sehingga saya dapat mempertahankan hubungan yang telah terjalin dan tetap mendapat gambaran umum tentang apa yang terjadi di Asmat. Selama tahun 1950 sampai 1953, Pastor Zegwaard dan Pastor Welling rutin melakukan perjalanan ke hampir seluruh wilayah Asmat di bagian Barat. Hingga akhirnya Pastor Gerard Zegwaard, MSC, memutuskan untuk menetap di Akatsj dan membangun kembali pos yang sebelumnya pernah didirikan pada masa pemerintahan kolonial sebelum perang. Pemilihan Akatsj bukan tanpa alasan. Lokasinya dianggap strategis karena berada di mulut Teluk Flamingo, tempat bermuaranya Sungai Lorentz (Unir) dan Sungai Pomatsj. Pada tahun 1953, Pastor Zegwaard bersama Pastor Welling mulai membangun permukiman yang lebih permanen. Kondisi geografis Agats menjadi tantangan utama. Lahan rawa yang selalu terendam air pasang harus diperkuat, sementara parit-parit digali untuk membantu mengeringkan tanah. Rumah-rumah
The Love Triangle of Bis, Pis, and Beworpit
Cerita asal: Kampung Atsj Diceritakan oleh: Michael Binkumces Diterjemahkan oleh: Yufen A. Biakai Konon pada zaman dahulu, di pertengahan Sungai Sirets, hiduplah seorang pemuda bernama Pis. Pekerjaannya sehari-hari adalah berburu, dan ia selalu berhasil dalam setiap perburuannya sehingga seluruh warga kampung senantiasa ikut menikmati hasilnya. Pada masa itu, hidup pula seorang gadis jelita bernama Bis, yang di tempat lain disebut juga Bisaut. Namanya tersohor karena kecantikannya yang luar biasa. Bis dikawinkan dengan Pis bukan karena ketampanan pemuda itu, melainkan karena keahliannya berburu agar orang tua Bis selalu mendapat jatah hasil buruan. Alasan lainnya adalah karena Pis memiliki kulit kaskadu (bersisik/penyakit kulit). Kala itu, mengawinkan gadis cantik dengan pria kaskadu dianggap wajar karena ada kepercayaan bahwa pria kaskadu jarang memukul istrinya, sehingga diharapkan Bis akan hidup bahagia dan terpelihara. Namun, harapan itu sirna. Pis justru memperlakukan Bis dengan sangat kejam. Ia mengurung Bis di dalam tapen (tikar) yang dijahit rapat dengan tali akar pandan. Bis dipaksa makan dan minum di dalam bungkusan tikar tersebut. Ia bahkan tidak pernah dibiarkan berdiri meskipun hanya untuk membuang air kecil, sehingga badannya menjadi sangat bau busuk. Pis juga menutup pintu rumahnya dengan belahan perahu bekas yang diikat rotan agar tidak dibuka orang lain. Jika melihat ada tanda pintunya dibuka, Pis akan menyiksa Bis dengan api hingga kulitnya nyaris terbakar habis. Bis menerima nasibnya dengan sabar, dan orang tuanya pun tidak berontak. Namun, masyarakat terus mendorong orang tua Bis untuk bertindak. Akhirnya, secara diam-diam, mereka merencanakan untuk menyelamatkan putri mereka. Suatu ketika, saat Pis sedang keluar, orang tua Bis mendatangi rumahnya. Di sana mereka menemui dua istri Pis yang lain, Fin dan Jak, yang nasibnya tidak semalang Bis. Orang tua Bis menyampaikan rencana mereka, dan kedua istri tersebut setuju untuk membantu karena mereka pun tidak tega melihat penderitaan Bis. Tak lama setelah orang tua Bis pergi, Pis tiba membawa lima ekor babi. Dari perahu ia memanggil Fin dan Jak: “Turun dan ambillah hasil perburuan ini!” Setibanya di rumah, Pis melihat jejak pintu yang pernah dibuka. Seketika itu juga ia memukuli Bis dan membakar tubuh istrinya dengan api. Kekejaman ini terus berulang setiap kali Pis pulang berburu. Kesempatan emas datang ketika pemimpin kampung merencanakan perang dan Pis ikut berangkat. Fin dan Jak segera membantu orang tua Bis membuka tikar yang membungkus tubuh jelita itu. Mereka membuka pintu, membawa Bis ke sungai untuk dimandikan, sementara orang kampung menyaksikan dengan ngeri bekas kekejaman Pis. Ibu Bis, bersama Fin dan Jak, menyiapkan segala perabot, jaring, dan perahu. Bis pun berangkat menuju hilir Sungai Sirets. Ia mendayung melalui jalan pintas bernama Betch wu menuju Sungai Betch. Namun, di tengah jalan perahunya kandas karena air surut. Ia terpaksa menaikkan perahunya ke darat dan berjalan kaki mengikuti arah suara terompet yang seolah memanggilnya. Dalam perjalanannya menuju Sungai Apam, Bis menangis meratapi nasibnya: “Saya belum pernah melihat seorang wanita diperlakukan seperti ini. Bagaimanakah nasibku ini?” Hujan pun turun, seolah nenek moyang ikut bersedih. Ia sempat berteduh di bawah pohon Ci sebelum melanjutkan perjalanan ke Sungai As. Dari kejauhan, ia melihat sebuah rumah di atas pohon jeer. Dengan air mata yang melambangkan akhir penderitaannya, ia mendekat dan melihat seorang ibu tua sedang membelah kayu. Ibu itu terkejut dan bertanya: “Dari mana dan siapa gerangan engkau?” Bis menjawab: “Sebutlah namamu dahulu.” Perempuan tua itu berkata: “Namaku Teweraut. Nama suamiku Botok Simit. Kami mencari kayu api.” Bis kemudian berujar: “Namaku Bis. Suamiku bernama Pis. Saya dikurung dalam tikar yang diikat rapi dengan tali akar pandan. Saya melarikan diri dan saya mencari As Beworpit sebagai calon suami yang baru.” Mendengar itu, Teweraut memeluknya dan berseru: “Aduh, saya punya anak mantu cantik.” Suaminya, Botok Simit, juga sangat gembira. Mereka menyembunyikan Bis di dalam perahu agar tidak terlihat orang lain dan membawanya pulang ke kampung saat sore hari. Di kampung, As Beworpit terus meniup terompet bambunya, tidak menyangka wanita idamannya sudah berada di rumah orang tuanya. Saat turun untuk makan, ia tertegun melihat Bis. Ayahnya memperkenalkan: “Inilah Bis yang selalu menjadi impianmu.” Beworpit seolah tidak percaya dan berkata: “Ah, bukan, itu saudaraku.” Ia kembali ke atas pohon untuk merenung, merasa orang tuanya mungkin hanya berkelakar. Karena penasaran, ia turun lagi dan bertanya langsung: “Apakah engkau sungguh Bis seperti yang dikatakan ayah ibundaku tadi?” Bis menjawab: “Benar, saya Bis.” Beworpit pun memeluk Bis dengan bahagia dan mereka naik ke rumah di atas pohon jeer. Sementara itu, Pis kembali dari perang dan memanggil istrinya: “Bis, ambil tengkorak musuh ini!” Wanita-wanita lain mengolok-oloknya: “Pis, isterimu Bis sudah pergi.” Pis seketika membanting diri ke lumpur dan meratap selama berhari-hari. Pada hari ketiga, ia mengajak Deso, saudara laki-laki Bis, untuk mencari jejak istrinya. Mereka menemukan perahu Bis yang terbalik di Betch wu, namun kehilangan jejak di tengah hutan. Pis hanya bisa meronta menyesali perbuatannya, lalu pulang dengan putus asa. Namun, Deso terus berjalan hingga menemukan rumah di atas pohon jeer. Ia melihat adiknya, Bis, turun dari pohon itu. Keduanya berpelukan sambil menangis. Bis kemudian naik kembali ke rumah pohon dan memeluk suaminya, Beworpit. Hal itu membuat Beworpit heran dan bertanya: “Apa gerangan arti semuanya ini?” Bis menjawab: “Kubuat ini demi keselamatan kakakku Deso, yang sedang berada di bawah mencari aku.” Beworpit terharu dan menjemput kakak iparnya. Deso tinggal di sana selama beberapa hari sementara keluarga Beworpit menyiapkan mas kawin yang banyak untuk dibawa pulang oleh Deso. Kabar kebahagiaan Bis pun tersebar di kampung asalnya. Mendengar Bis telah menjadi istri Beworpit, Pis menangis hingga matanya bengkak. Namun, ia belum menyerah. Ia mengajak Deso kembali untuk merebut Bis secara damai dengan membawa banyak noken penuh kampak batu sebagai tebusan. Sesampainya di sana, hati Pis hancur melihat Bis turun dari pohon jeer. Meskipun Beworpit menerima mereka dengan ramah dan bahkan rela mengembalikan Bis karena terharu melihat perjuangan Pis, keputusan akhir ada pada Bis. Beworpit bertanya kepada Bis: “Bolehkah kamu kembali kepada suamimu Pis?” Namun Bis menolak dengan tegas: “Tidak boleh.” Pis pun pulang dengan kekecewaan mendalam. Ia terus meratapi Bis hingga tubuhnya kurus kering dan akhirnya meninggal dunia. Catatan: Cerita ini memberi pelajaran bagi para pria Asmat agar memberikan perlakuan wajar serta penghargaan yang baik terhadap istri.
The Tale of the Annihilation of the Kaimes Group by the Joerat Group
Cerita asal: Kampung Yamas Diceritakan oleh: Bapak N. Owse Diterjemahkan oleh: Yufen A. Biakai Dalam sejarah Asmat, peperangan di masa lalu telah menyebabkan punahnya beberapa kampung bahkan kelompok besar. Salah satu yang paling tragis adalah punahnya kelompok Kaimes, yang terdiri dari kampung Canir, Sinamer, Watep, Osar, Yaremar, Sikao, Jamau, Pis, One, Jae, Sar, dan Kaimes itu sendiri. Kelompok ini musnah di tangan kelompok Joerat—yang terdiri dari Yamas, Yeni, Yufri, Yaun, As, Atat, Nakai, Kapi, dan Ao. Konon, kelompok Joerat ini berhasil menghabisi kelompok Kaimes berkat bantuan Ucukamor. Ucu berarti pohon beringin, sedangkan Kamor berarti penjelmaan roh halus. Ucukamor adalah penjelmaan roh halus yang mendiami lubang pohon beringin; bahkan menurut kepercayaan orang Asmat, roh itu adalah roh dari pohon beringin itu sendiri. Dua tokoh bersaudara dari kelompok Joerat, yakni Butukfimar dan Karani, menjadi peletak dasar kepercayaan ini bagi orang-orang Joerat untuk memusnahkan kelompok Kaimes. Bagaimana persisnya kejadian tersebut? Butukfimar dan Karani hidup di hulu Sungai Onep, anak Sungai Asaman. Asaman sendiri merupakan anak Sungai Pi yang menghubungkan Kampung Yufri dan Pos Kecamatan Sawa Erma sekarang. Sungai Asaman ini merupakan tempat pemukiman pertama kelompok Joerat setelah mereka pindah dari Sungai Sirets, tempat pemukiman suku Asmat pada zaman dulu sebelum terpencar seperti sekarang. Pada suatu hari, Karani bersama istrinya pergi ke dusun untuk menokok sagu. Istri Butukfimar yang bernama Sipimerakat atau sering disebut Sipi juga pergi bersama mereka. Sementara itu, Butukfimar tinggal sendirian di bivak untuk mengerjakan perahu. Saat sedang mengerjakan perahu, ci fom (rimbas lengkung atau alat pengikis perahu) milik pusakanya patah. Hal ini membuat Butukfimar merasa sangat sedih. Ia bergumam: “Waduh, apa yang terjadi dengan rimbas ini? Saya tidak punya apa-apa lagi.” Butukfimar mengeluh sepanjang hari sambil mencaci dirinya sendiri. Ia bahkan menangis sambil mengisahkan asal-usul rimbas tersebut melalui pantun dan syair. Burung-burung di atas pohon beringin sekeliling bivak bersahut-sahutan, seakan ikut meratapi nasib ci fom tersebut. Dalam suasana sedih itu, tiba-tiba terdengar suara orang memanggil: “Butuk a, Butuk a.” Butukfimar melihat ke samping kiri dan kanan serta ke sekeliling bivak, namun ia tidak melihat seorang pun. Ia berdiri tertegun dan heran mendengar suara aneh itu. Ia kembali memerhatikan sekeliling, dan sekonyong-konyong suara yang sama terdengar lagi dari lubang pohon beringin. Ternyata itu adalah suara Ucukamor yang berkata: “Butuk, jangan takut, saya adalah saudara tuamu.” Butukfimar awalnya tidak berani menoleh ke arah datangnya suara aneh tersebut. Namun, Ucukamor berusaha meyakinkan serta menguatkan hati Butukfimar dengan berkata: “Butuk saudaraku, sayang, saya tak berniat jahat terhadap dirimu, sebab aku sendiri adalah kakakmu. Oleh karena itu marilah, lihatlah wajahku dan jangan takut.” Setelah mendengar kata-kata itu, barulah Butukfimar mencoba menoleh ke arah sumber suara sambil berkata: “Ah, bagaimana mungkin hal ini terjadi? Sungguh ajaib. Sekarang aku dalam cengkeraman maut.” Mendengar itu, Ucukamor tersenyum dan tertawa: “Ha, ha, ha, dormomoo, Dorootipit am oce,” yang berarti: “Ah kasihan, saudaraku sayang.” Kemudian Butukfimar bertanya lagi: “Sungguhkah kau tak akan berbuat jahat terhadap diriku?” Ucukamor menjawab: “Ah benar, saya tidak akan berbuat apa-apa atas dirimu. Saya sangat terharu atas keluhan saudara mengenai rimbas yang telah rusak tadi. Aku rela memberi kepadamu sebuah rimbas yang baru sebagai gantinya, karena bagaimanapun juga kita bersaudara.” Untuk lebih meyakinkan hati Butukfimar, Ucukamor memberikan beberapa nasihat: “Saudara boleh memakai cifom ini dengan baik, aku akan senantiasa menyertai kamu dan kelompokmu waktu perang melawan musuh.” Walaupun begitu, Butukfimar masih meragukan pesan Ucukamor. Melihat keraguan itu, Ucukamor berkata lagi: “Jika anda ke hutan, anda akan melihat seekor babi betina dalam perangkap yang telah kalian pasang. Anda dan kelompok akan senantiasa mendengar suaraku dari belakang kampung untuk memberitahukan tentang siasat apa yang harus disusun untuk menghadapi musuh. Sebagai bukti akan pernyataanku ini saudara kita Cau Epmak Sanpai (orang merah), sebagai penyelenggara dan penjaga dusun sagu akan memperlihatkan saudara bayangan beberapa kelompok yang akan dihabiskan oleh kelompokmu, yaitu kelompok Kaimes yang terdiri dari kampung-kampung Cainir, Sinameer, Watep, Yaremar, Sikao, One, Jae, Pis, Sar, Jamau, dan Kaimes sendiri. Terakhir saudara akan jatuh sakit hingga kelihatan kulit bungkus tulang. Tetapi anda akan sembuh kembali setelah menceriterakan semua peristiwa ini kepada segenap penduduk kampung dalam rumah Je.” Setelah percakapan tersebut berakhir, Ucukamor memberikan cifom baru kepada Butukfimar, lalu ia kembali masuk ke dalam lubang pohon beringin. Sepeninggal Ucukamor, Butukfimar terus memikirkan dialog yang baru saja terjadi. Ia masih meragukan pesan tersebut. Untuk membuktikan kebenarannya, ia menyembunyikan cifom itu sebelum berangkat ke dusun. Baginya, jika rimbas itu hilang, berarti seluruh ucapan itu tidak benar dan ia dalam bahaya. Namun di dusun, ia menemukan segala hal yang telah diramalkan sebelumnya. Setelah kembali, ia melihat cifom yang disembunyikannya ternyata masih ada. Kini, ia tidak lagi meragukan pesan Ucukamor. Ia pun menjalani masa sakit sebagai ujian demi mempertahankan keberadaan kampungnya. Setelah sembuh, Butukfimar mengumumkan keyakinannya kepada penduduk bahwa Ucukamor adalah roh pemberi kekuatan, sesuai pesan bahwa kelompok Joerat akan memusnahkan kelompok Kaimes. NB: Itulah sebabnya kelompok Joerat terkenal sebagai kelompok yang memusnahkan kelompok Kaimes, yang sisa-sisa keturunannya kini masih tersebar di berbagai kampung di kawasan Asmat dan Mimika.
The Origins of Yipawer and Bu-Agani Villages
Origin of the narrative: Yipawer Village Narrated by: Bapak Tamneko Translated by: Yufen A. Biakai It is said that on the banks of the Pomats River, along a tributary named Esee situated near Yamas Village, there lived a small family comprising a father, a mother, and a son named Sot. As he reached manhood, Sot grew into a figure of remarkable comeliness and valor. Residing with them was an elder woman named Bunai. As the tale recounts, Bunai harbored affection for Sot. While the entire family held the youth in great esteem, Bunai’s affection reached beyond familial bonds; she loved Sot deeply and resolved to take him as her husband. To fulfill her intent, Bunai devised a pretense to invite her grandson on a hunt. On a luminous day, while Sot’s parents departed into the forest to pound sago, an aura of tranquility enveloped the land. The birds called out in chorus, as though accompanying the father as he chanted verses honoring the ancestors. It was at this juncture that the elder woman beckoned Sot to hunt, saying, “I have seen the nest of a crowned pigeon.” Sot accepted her call, and they set forth toward the nesting ground. Upon arriving at the river mouth, Sot rested his paddle and inquired, “Where lies the nest of the crowned pigeon?” His grandmother replied, “It remains far beyond.” This inquiry and reply recurred many times until they reached the estuary of the Pomats River. From the Pomats estuary, they paddled upriver along the Unir River until they entered the Por River. This land along the Por is what is known today as Yipawer Village. There, Bunai met with her female spirit companion, the sovereign ruler of the Por River. The female spirit was named Jiwatowor, meaning “the woman from the hollow of the soul tree.” The jiwa is a red-hued tree that flourishes in the highlands bordering the sago swamps. The local inhabitants referred to Jiwatowor as Tojiwar. According to Asmat cosmology, should an infant be born with a reddish complexion, the child is regarded as an incarnation of the spirit dwelling within the hollow of the soul tree. What, then, became of Sot? The young man, who had remained blind to his grandmother's covert design, at last began to comprehend. To his mind, his grandmother’s desire was contrary to all reason. Sot wept throughout the day and pleaded with Bunai to return home, yet his appeals proved futile. He even undertook a hunger strike for several days in an attempt to dissuade her, but without avail. On the contrary, the two elder women (Bunai and Tojiwar) continually sought to soothe Sot and dissuade him from his sorrow. Ultimately, Sot yielded; he ceased his weeping, resumed eating, and resigned himself to becoming the husband of Bunai and Tojiwar. Note: Traditional narrators across various locales, including Yipawer itself, recount that the inhabitants of Yipawer Village are the direct descendants of Tojiwar, whereas the inhabitants of Bu and Agani Villages descend from the Father (Sot).
Sok Becomes a Dweller of the Jii Riverbed
Origin of the narrative: Yamas Village Narrated by: Bapak N. Owse Translated by: Yufen A. Biakai Sok was an esteemed figure from Canir Village, an ancestral settlement of the now-extinct Kaimes clan, formerly situated in the upper reaches of the Wumpok River, a tributary of the Fai River. In every deliberation of ceremonial feasts or warfare, Sok stood ever at the vanguard, igniting the resolve of the entire community. It was therefore natural that all people held him in the highest reverence and deference. It is told that in days past, the community of Canir was observing a sacred feast to honor the spirits of the departed, known in the Asmat language as Jipai or Jipuy. As custom dictated, Sok went one day into the Jew (the ancestral longhouse), adorned with the white feathers of the cockatoo, the traditional regalia of the Asmat people. Sok danced the traditional Asmat dance alone, proclaiming aloud, “My sons, daughters, and brethren, how splendid is the Fai River!” Through this proclamation, he imparted courage and spirit unto his people. Amid his vigorous dance and encouragement, his wife arrived at the Jew and urged him to venture into the forest to set a fish trap (sero). With reluctance, Sok took the trap and departed toward the Esyat tributary, situated near the village. Yet misfortune struck; whilst preparing to set the trap, Sok became entangled and enclosed within his own sero. His wife attempted to deliver him, but her endeavors were in vain. Sok drifted toward the center of the current, briefly rising above the water within the trap to impart a final charge unto his wife: “Return to the village and proclaim this event to all the people. I now dwell in the grasp of the Ndat Jumu, the sacred masked spirits. In truth, this consequence falls upon you, for you dared to summon me forth from the Jew amidst the chanting of sacred verses and in the very presence of the Ndat Jumu.” Having spoken these words, Sok was swept downstream toward the mouth of the Jii River. There, Sok sank into the depths forever, becoming a dweller of the riverbed. His wife returned to the village, lamenting in deep sorrow until she stood before the elders and community. She recounted the misfortune to all. Moved by grief mingled with grievance toward Sok’s wife, the people journeyed in great numbers toward the mouth of the Jii River. Among them, Sok’s sons-in-law felt the foremost duty for their elder's deliverance. They severed a tall mangrove tree (Je) and drove it into the river mouth to serve as a guide into the depths. One by one, the sons-in-law dove along the trunk, from the youngest to the eldest. The eldest son-in-law at last discovered Sok upon the river floor under astonishing circumstances. It was seen that the mangrove pole had landed directly beside a dwelling beneath the river. There, Sok was found immersed in dance within the home. It was revealed that the spirits at the bottom of the Jii River were likewise celebrating the Jipai feast. Though his son-in-law pleaded with him to return, Sok could no longer sever himself from the embrace of the spirits. At last, the son-in-law returned to the surface bearing Sok’s final testament: “Recount unto all the people of the village what you have witnessed here. I shall remain an inhabitant of this sacred realm. And above all, never treat the Ndat Jumu with irreverence.” The son-in-law ascended along the trunk and emerged at the surface, falling unconscious upon the shore. Having regained his senses after some moments, he related the wonders he had beheld and the testament entrusted by Sok. Hearing this extraordinary account, the people returned to the village, mourning Sok's passing throughout the day. Note: It is for this reason that the spirit masks are held as sacred implements imbued with potent power and commanding profound reverence. Sok's decision to depart the Jew amidst a sacred ceremony was deemed an transgression of sanctity, failing to honor the ancestral spirits whose names were invoked by the masks of the Jipai feast.
The Fate of the Nine Grandchildren of Janseaot
Asal Cerita: Kampung Yamas Narasumber: Bapak N. Owse Penerjemah: Yufen A. Biakai Di suatu dusun, hiduplah seorang nenek bernama Janseaot bersama sembilan orang cucunya. Nama mereka berturut-turut dari yang tertua adalah: Ker, Ofopirat, Okoripit, lima orang berikutnya masing-masing bernama Beorpit, serta si bungsu perempuan bernama Ecowasiraot. Ayah dan ibu kesembilan anak ini telah meninggal dunia, sehingga mereka sering berupaya mencari nafkah sendiri. Nenek Janseaot sebenarnya sangat mencintai mereka, meskipun pada akhirnya ia berniat membunuh mereka karena sebuah kesalahan besar. Konon, nenek Janseaot secara diam-diam memelihara seekor ikan gabus (usi atau us). Ikan tersebut diikat dengan tali rotan (tem cima) dan ditambatkan pada batang nipah di pinggir sungai. Janseaot selalu memeriksanya secara sembunyi-sembunyi agar tidak terlihat oleh cucu-cucunya. Suatu hari, Janseaot pergi ke dusun sendirian untuk menokok sagu sebagai bekal makan bersama ikan gabus tersebut yang rencananya akan dipotong dua hari kemudian. Saat sang nenek pergi, Ker bersama saudara-saudaranya (kecuali Ecowasiraot) sedang memanah kolodok menggunakan jubi (apon atau apan). Tanpa sengaja, seekor kolodok hinggap di punggung ikan gabus peliharaan nenek. Mereka memanah kolodok itu hingga menembus tubuh sang ikan. Ketika ikan meronta, barulah mereka menyadari adanya ikan besar. Setelah diraba, mereka menemukan tali pada insangnya dan sadar bahwa itu adalah peliharaan nenek mereka. Meski menyadari hal itu, mereka tetap berniat memakannya sebelum nenek kembali. Mereka memasak dan memakan ikan itu dengan lahap layaknya sebuah pesta, sambil mengolok-olok si bungsu: “Kami tak perlu memberikan daging sepotong pun kepadamu karena engkau pasti akan mengkhianati kami.” Ecowasiraot menangis sepanjang hari karena merasa sedih dan takut dituduh ikut bersalah. Ia pun memeras otak dan mengambil tulang-belulang ikan itu, menyisipkannya di rambut, lalu menemui neneknya di dusun. Ia memohon sang nenek mencari kutu di kepalanya. Neneknya bertanya: “Mengapa kau tidak memohon kepada saudara-saudaramu?” Namun, karena kasih sayang, Janseaot tetap melakukannya. Betapa terkejutnya sang nenek melihat tulang ikan di rambut cucunya. Ia pun meratap dan mengutuk perbuatan cucu-cucunya. Sayangnya, Ecowasiraot yang berniat jujur tetap dianggap bersalah oleh neneknya. Pada puncak kemarahannya, Janseaot mengangkat Ecowasiraot dan membuangnya ke pelepah pohon sagu. “Kau kujadikan kodok. Eco, cobalah bersuara kara… kara…, sebab itulah suaramu sepanjang masa.” Pelarian dan Pohon Jeer yang Sakti Setelah mengutuk si bungsu, Janseaot pulang untuk membalas dendam pada cucu-cucu lelakinya, namun rumah sudah kosong. Ker bersaudara telah mengungsi. Mereka mencoba memanjat beberapa pohon kering yang berlubang, namun selalu tumbang. Akhirnya, mereka menemukan pohon Jeer (sejenis ketapang) yang tumbuh di dataran tinggi dan memiliki kekuatan misteri (cesar). Sebelum memanjat, mereka menggosok batang pohon dengan jimat (eram jini) sambil bermantra: “Kami memberi kau nama nenek moyang kami. Jika Janseaot menebangmu, berteriaklah: sia saka, sia saka! (kapak batu patahlah!). Jika ia berhasil menjatuhkanmu, meloncatlah hingga ke tengah sungai dan hanyutkanlah kami ke tempat yang layak untuk memulai kehidupan baru.” Janseaot mengejar mereka dengan membawa satu noken penuh kapak batu. Saat ia mulai menebang, terdengarlah suara “sia saka, sia saka” dari dalam pohon. Janseaot berteriak geram: “Kasihan cucu-cucuku, hendak ke mana kalian? Aku membawa satu noken penuh kapak batu untuk menghabiskan kalian!” Satu per satu kapaknya patah dan diganti, hingga akhirnya pohon itu tumbang. Namun, sebelum menyentuh tanah, pohon Jeer itu meloncat ke tengah kali sesuai permohonan Ker bersaudara. Janseaot sangat kecewa dan akhirnya hidup seorang diri dengan kekayaannya. Kampung-Kampung Wanita dan Suara Lebah Kayu Jeer itu hanyut menuju muara. Di tengah jalan, mereka melewati beberapa perkampungan yang hanya berpenduduk wanita. Ada Kokotam Cepes yang berkaki pedang namun berwajah cantik, serta Bi Jimiis Cepes yang bertubuh montok namun berhidung pesek. Setiap kali melewati kampung-kampung ini, para wanita mencoba menyergap kayu tersebut untuk dijadikan kayu api (jis). Untuk menghindar, Ker bersaudara mengeluarkan suara menirukan lebah: “Ngenggg… ngenggg…”. Karena takut disengat lebah, para wanita itu pun melepaskan kayu tersebut hingga hanyut terus sampai ke muara sungai. Kehidupan di Taar Cepes Di muara, mereka memasuki wilayah Taar Cepes (Wanita Bunga Bakung), tempat para wanita yang kecantikannya luar biasa. Kali ini, Ker bersaudara tidak mengeluarkan suara lebah karena tertarik pada kecantikan mereka. Wanita-wanita Taar Cepes pun membawa kayu itu ke tepi pantai. Bitiaot (si sulung) menyerukan agar adik-adiknya pergi ke dusun mengambil ulat sagu. Sambil berjalan mereka berteriak: “Ke dusun, dan ke tepian adalah berjalan.” Ungkapan ini mengandung makna filosofis bahwa hidup adalah perjuangan untuk menjaga keseimbangan antara darat (wasen are) dan air (bu are). Sementara para wanita pergi, Ker keluar dari kayu dan bertemu Taaraot. “Siapakah gerangan mahluk ajaib ini? Tipenya seperti manusia, sungguh ganteng.” tanya Taaraot. “Namaku Ker, aku anak sulung.” jawabnya. Keduanya saling jatuh cinta. Berdasarkan urutan umur, saudara-saudara Ker lainnya juga dipasangkan dengan para wanita Taar Cepes dan disembunyikan di dalam gulungan tikar (tapen) di dekat tungku api. Taaraot membasahi tikar-tikar itu dengan air agar tampak seolah-olah baru saja terjadi hujan lebat. Saat para wanita lain pulang dari dusun, mereka terkejut melihat tikar mereka basah dan kemudian berteriak kegirangan menemukan suami yang ganteng: “Aia dormipit akat a! (Aduh, aku punya suami ganteng!).” Hanya si bungsu Taar (Aikunaot) yang awalnya tidak mendapat pasangan karena saudaranya sengaja membiarkan Beorpit bungsu tetap di dalam kayu. Namun, akhirnya Beorpit bungsu ditemukan; ia adalah yang paling ganteng dan mahir dalam segala hal (cescu). Tragedi Sukun dan Awal Kehidupan Baru Waktu berlalu dan mereka memiliki banyak anak. Suatu hari, saat Beorpit bungsu memetik buah sukun, sebuah buah jatuh dan mengenai kepala bayinya hingga mati. Istrinya mencaci maki dengan tajam: “Kau menindih anakku hingga habis nyawanya!” Beorpit merasa sangat malu dan sedih. Ia mengajak kakak-kakaknya pindah secara diam-diam. Di tempat yang baru, mereka membangun rumah panjang. Namun, si bungsu tidak ikut membangun rumah; ia pergi ke hutan untuk mengukir patung-patung yang menyerupai istri-istri mereka. Setelah tiga hari bekerja, ia menggosokkan jimat (eram) pada patung-patung tersebut dan menabuh tifa. Ajaibnya, patung-patung itu mulai bergerak dan berubah menjadi wanita-wanita cantik. Ker dan saudara-saudaranya pun hidup kembali berbahagia seperti sediakala.
The Origin of the Emak-Cem Feast
Asal Cerita: Kampung Yamas Narasumber: Bapak Norbertus Owse Penerjemah: Yufen A. Biakai Kelahiran dari Pohon Beringin Kisah Ufiripits, seperti halnya Fumiripits, sangat tersohor di tanah Asmat sebagai mitos asal-usul perayaan pesta Emak-cem. Peletak dasar pesta ini dikisahkan menyusuri pantai menuju wilayah Emari (Barat) demi mencari tempat kebahagiaan dan kedamaian abadi. Konon, di hulu sungai Ayip, hiduplah dua gadis di dalam lubang pohon beringin. Karena tempat tinggal mereka, keduanya disebut Ucukamoraot (Ucu: pohon beringin; Kamor: penjelmaan roh halus; Aot: wanita). Menurut legenda, mereka sering menjelma menjadi burung nuri yang terbang kian kemari di dusun sagu, berteriak di atas pepohonan seakan mencari sahutan dari manusia. Di wilayah yang sama, hiduplah seorang lelaki tua bernama Ufiripits. Suatu hari saat berburu, Ufiripits hendak memanah burung-burung nuri tersebut. Namun, burung-burung itu menghilang dan kembali ke pohon beringin untuk menunggu sang lelaki tua. Setibanya Ufiripits di sana, tanpa sepatah kata pun, kedua roh tersebut menghampiri dan masuk ke dalam tubuhnya. Kelahiran Omoraot dan Bafaraot Ufiripits seketika kemasukan roh. Tangan kanannya menjadi tak berdaya dan terasa panas. Tak lama kemudian, muncul bisul besar yang sangat menyakitkan hingga ia tidak bisa tidur. Dalam mimpinya, roh-roh itu membisikkan nama mereka dan meminta agar bisul tersebut dibelah keesokan harinya. Saat dibelah, keluarlah dua bayi kecil. Sesuai pesan di mimpi, Ufiripits menamai yang tertua Omoraot dan adiknya Bafaraot. Ia membesarkan kedua putri tersebut dengan penuh kasih sayang. Tipu Muslihat Ufiripits Setelah kedua putrinya dewasa, Ufiripits mulai merasa tertarik pada mereka. Ia pun menyusun rencana licik dengan membangun sebuah rumah di hilir sungai Ayip serta membuat jalan potong (Bes) di daratan agar lebih cepat sampai ke sana dibandingkan melalui sungai yang berliku. Ufiripits kemudian berpura-pura sakit parah. Di hadapan kedua putrinya yang sedang menangis, ia memberikan pesan terakhir: “Jika aku meninggal, buatkanlah para-para (ko) yang tidak terlalu tinggi dan bungkuslah mayatku dengan tikar (tapen) yang baik tanpa perlu mengikatnya dengan kuat. Setelah itu, pergilah kalian menyusuri sungai ini hingga menemukan sebuah rumah. Di sana kalian akan bertemu dengan ‘bapak muda’ yang wajah dan sifatnya persis denganku.” Setelah berkata demikian, Ufiripits berpura-pura mati. Saat Omoraot dan Bafaraot pergi melaksanakan pesannya, Ufiripits segera bangkit, membongkar bungkus tikarnya, lalu berlari lewat jalan potong menuju rumah di hilir. Di sana, ia menunggu kedua putrinya untuk dijadikan istri. Ketika mereka tiba sambil menangis, Ufiripits bersandiwara seolah ikut berduka atas “kematian” kakaknya. Penyesalan dan Hukuman Singkat cerita, Omoraot dan Bafaraot akhirnya menjadi istri Ufiripits. Omoraot melahirkan Kurap, dan tiga tahun kemudian Bafaraot melahirkan Sawarap. Suatu hari, saat kedua wanita itu sedang menokok sagu, alat milik Bafaraot rusak. Ia pun pulang untuk mengambil alat baru. Dari kejauhan, ia mendengar Ufiripits sedang membujuk anaknya, Sawarap, yang tengah menangis dengan berkata: “Engkau adalah anakku, sekaligus cucuku sendiri.” Mendengar rahasia itu, Bafaraot merasa sangat terhina dan malu karena telah menikahi ayahnya sendiri. Ia segera memberitahu kakaknya. Meski awalnya Omoraot ragu, kebenaran itu tak lagi terbantahkan. Mereka pun bertekad membunuh Ufiripits. Mereka membuat jebakan berupa bubu raksasa (Sasa) yang telah diolesi obat-obatan magis di muara sungai. Saat Ufiripits turun untuk mandi, ia terjebak di dalam bubu tersebut. Sebelum tenggelam selamanya menjadi raksasa laut (Cesar Pak), Ufiripits memberikan pesan terakhir agar mereka pergi ke arah Barat (Emari) menggunakan perahu yang terbuat dari batang pohon sagu. Dalam perjalanan, lahir seorang anak bernama Seos dari rahim Bafaraot. Seos adalah anak ajaib yang sudah bisa berbicara sejak dalam kandungan dan langsung mengambil alih kepemimpinan. Ia menuntun rombongan tersebut hingga tiba di Upuye dan Esamu. Keadaan dan Kehidupan di Upuye dan Esamu Sehari setelah tiba di Upuye dan Esamu, Omoraot dan Bafaraot pergi menjaring ke tengah laut. Dalam upaya tersebut, mereka berhasil mendapatkan seekor paus raksasa. Atas perintah Seos, kulit paus itu diambil untuk dijadikan atap rumah Jew, sementara tulang belakangnya digunakan sebagai tiang-tiang tungku api yang dalam bahasa Asmat disebut Jew bisip. Setelah bahan-bahan itu terkumpul, Seos berseru: “Wahai atap dan tiang-tiang, jadilah rumah Jew!” Maka terjadilah rumah itu sesuai dengan perkataannya. Keesokan harinya, Kurap dan Sawarap pergi mengambil bahan-bahan tambahan untuk mendirikan rumah pesta yang disebut Emak-cem. Nama ini berarti “Rumah Tulang” (Emak: tulang; Cem: rumah), karena separuh dari ramuan bangunannya menggunakan sisa-sisa tulang paus tersebut. Setelah Emak-cem berdiri, mereka mulai memukul tifa sepanjang malam dengan iringan terompet bambu (Fu) yang melantunkan nada biku wompa secara silih berganti. Pada pagi berikutnya, muncul seorang tua bernama Jisbermerat yang datang dari hutan membawa noken penuh berisi benda-benda jimat. Ia memberitahu Kurap dan Sawarap bahwa lagu-lagu yang mereka nyanyikan semalam belum lengkap. Jisbermerat kemudian memberikan noken jimat tersebut untuk melengkapi ritual mereka sebelum ia pergi menghilang. Namun, sebuah keanehan terjadi. Selama dua malam berturut-turut, rumah yang telah mereka bangun selalu ditemukan dalam keadaan bongkar bangkir tanpa diketahui pelakunya. Untuk mengakhiri kekacauan itu, Seos diminta berjaga pada malam ketiga. Ternyata, sosok yang selama ini merusak rumah tersebut adalah seekor biawak raksasa (Jok) yang naik dari dasar laut. Dengan kekuatannya, Seos berhasil membunuh biawak tersebut malam itu juga. Sejak saat itu, Seos menetap di dalam Rumah Tulang hingga akhir hayatnya. Jasadnya diyakini berubah menjadi tulang-tulang dan kepingan besi yang kemudian digunakan oleh masyarakat untuk membangun rumah-rumah di Upuye dan Esamu. Sebagai jejak perjalanan mereka, di setiap pantai yang pernah disinggahi Omoraot dan Bafaraot, mereka menggali sumur dan menanam ruas bambu di pinggirnya. Hingga kini, sumur-sumur tersebut tetap mengeluarkan air tawar yang segar meski letaknya sangat dekat dengan air laut yang asin.
Otapor Seized by the Python (Bini) in the Pi River
Origin of the narrative: Yeni Village Narrated by: Darius Faya Translated by: Yufen A. Biakai There lived a young warrior of formidable might named Otapor. His daily pursuit was the hunt, and the valiant youth ever returned bearing an abundance of game. Yet, unawares, upon returning home, Otapor became the target of a serpent spirit in the guise of a maiden. The serpent was named Baci, described in the Asmat tongue as short, brown of hue, and deadly venomous. It is related in this narrative that Baci was wedded to Bini, the black python. In the Asmat idiom, Bini is often designated as wasan barukipit, signifying the “king of the forest.” This honorific is bestowed because within the Asmat forests there dwell no predatory beasts such as tigers or lions. Whenever Otapor walked past their dwelling, Baci looked upon him with intent. This stirred fierce jealousy in the heart of the forest king. On one occasion, Bini assumed physical form and struck Baci. From the severity of the blow, Baci cried aloud in agony: “Otapor, know that Bini is consumed with jealousy toward you.” This cry reached Otapor from afar. Otapor, who chanced to pass by, spoke quietly to himself: “Alas, I know not your wife. You are dwellers of this boundless wilderness. Moreover, we have never crossed paths.” Having uttered these words, Otapor quickened his stride homeward. He perceived that his life stood in peril, for the voice arose from the spirits that abide in the forest. From that moment forward, he exercised great vigilance and hunted only in the company of many companions, so that the king of the forest found no occasion to harm him. One day, Otapor went forth once more to hunt alongside his fellows, and they secured an abundant harvest. On this occasion, each of his companions was allotted a portion of game, and likewise Otapor. Otapor carried his share of wild boar to his dwelling and instructed his kin to prepare it without delay. Overcome by exhaustion, he fell into slumber while the blood of the boar still clung to his flesh. Awaking several hours later, Otapor proceeded directly to the river to bathe, without so much as rubbing the sleep from his eyes. Yet misfortune awaited; as he cast himself into the water, Otapor entered directly into the jaws of Bini. The sovereign serpent seized him in retribution, under the charge that Otapor had wronged his wife, Baci. An elder who witnessed Otapor descend to bathe wondered when the youth failed to re-emerge. He promptly warned the inhabitants of the longhouse upon the banks of the Pi River to investigate. Soon after, Otapor appeared amidst the river current and cried aloud: “Brethren, heed my words! I am taken by the serpent who accuses me of entangling with his wife.” Seeing and hearing this, his companions hastily boarded their canoes and strove to rescue him, yet their endeavors were in vain. The colossal serpent submerged, carrying Otapor away. It is told that the serpent bore Otapor away from the Pi River, traversing the Es tributary, crossing into the Asuwets River, following the Jets River, until reaching the Sirets River. From there, they entered the Cakao tributary. Having arrived at his dwelling, Bini presented Otapor before Baci, declaring: “I have taken your intended, and I shall torment him across these coming days. I shall swallow him by slow measures until the third day, when I shall consume his head as the final act.” Hearing this, Baci felt compassion for Otapor and sought to inform the youth’s kin through a vision. On the second day, Baci appeared as a maiden of great beauty in the dream of Otapor’s brother-in-law. In that same vision, Otapor appeared and informed his relative that his earthly span drew near its end. He bequeathed this final word: “Should you arrive late at the Cakao River in Sirets, I shall no longer live, even if only my head remains.” Upon waking, the brother-in-law related the vision to his kin. They departed at once toward the Cakao tributary in Sirets. As if guided by Maiden Baci, they at last discovered Otapor in the exact state revealed in the vision. They then slew the colossal serpent. The serpent's belly was split open to deliver Otapor. Yet, as his body had already begun to decay, the remains were severed and only his head—which miraculously retained the power of speech—was taken. The head of Otapor then recounted the entire journey and the events that had transpired until the slaying of the serpent. The party of his in-laws was overcome with grief, weeping bitter lamentations over the misfortune. Upon arriving back at the Pi River, precisely in the realm of the Akamoman River, the head of Otapor was laid to rest atop a banyan tree. From that time forth, it is believed that Otapor remains the guardian spirit of that place. Note: This narrative imparts an ancestral admonition regarding vigilance toward the unseen forces of the wilderness, and how misunderstandings born of jealousy can yield tragedy. Furthermore, it recounts the sacred origins of why specific sites are revered as sanctified grounds.
Beres dan Sokorew Bersekutu
Cerita asal: Mbait Diceritakan oleh: Bapak Willem Wof Diterjemahkan oleh: Yufen Biakai Di sebuah kampung yang terletak di tepi Sungai Mamats, hiduplah seorang tokoh gagah perkasa bernama Beres. Istrinya bernama Mamats. Sebagai seorang Tesipits (pemimpin), Beres memiliki hubungan baik dengan para pemimpin kampung lain di kawasan Asmat. Namun, karena suatu penghinaan, Beres akhirnya bersekutu dengan Sokorew, pemimpin tersohor di kawasan Sungai As dan Bets. Kisah ini bermula pada suatu hari ketika Mamats pergi menjaring ikan di sebuah anak sungai bersama teman-teman wanitanya. Beres mengikuti rombongan itu dari belakang dengan sebuah perahu kecil. Saat sedang menjaring, kaki Mamats terkena duri ikan yang menyebabkan rasa sakit luar biasa hingga ia menjerit sepanjang hari. Dari kejauhan, Beres yang mendengar jeritan itu tersentak, lalu segera mendekat untuk mengintip. Ternyata benar, itu adalah istrinya. Tanpa menemui istrinya, Beres justru pergi mengikuti jejak perempuan-perempuan lain dalam rombongan tersebut. Ia menemui mereka secara terpisah dan menggauli mereka. Setelah itu, barulah Beres menemui Mamats yang masih mengerang kesakitan. Mamats terkejut dan sempat menyangka suaminya adalah hantu. Setelah sadar bahwa itu adalah Beres, tanpa rasa curiga ia memohon agar suaminya memanggil teman-teman wanitanya. Beres pun pergi memanggil mereka untuk pulang. Di saat itulah, Beres kembali berkencan dengan seorang wanita bernama Teweraut, bekas kekasihnya yang ia rencanakan untuk dibawa lari ke kampung lain. Pada saat yang sama, Beorpit, suami Teweraut, tiba di tempat tersebut. Wanita-wanita lain terus memanggil Teweraut, sementara Beorpit menunggu dengan hati yang tidak menentu. Kecurigaannya memuncak karena Teweraut berada sangat jauh dari perahu. Dalam kemarahan yang besar, Beorpit membunuh istrinya sendiri. Ia kemudian mencaci Beres sebagai pemimpin yang hanya mencari popularitas murahan di kalangan wanita dan menjuluki Beres sebagai cowut apom, yang berarti “perempuan betul.” Melihat pembunuhan itu dan mendengar caci maki tersebut, Beres merasa sangat malu. Ia hanya diam, namun kemarahan besar terpendam di hatinya. Setelah rombongan kembali ke kampung, Beorpit menyerang Beres dan menghancurkan perahunya. Beres tidak membalas, namun ia menyadari bahwa tindakan keras Beorpit adalah isyarat bahwa ia harus meninggalkan kampung halaman untuk mencari tempat tinggal baru. Beres pun berangkat menuju Sungai As bersama istrinya setelah menyiapkan perahu baru selama satu bulan. Mereka bermaksud bersekutu dengan Sokorew. Sepanjang perjalanan melewati muara-muara besar di Teluk Flamingo, mereka sempat dikejar oleh masyarakat sekitar. Namun, begitu mendengar bahwa yang berada di perahu adalah Beres dan Mamats, masyarakat tersebut segera meletakkan senjata mereka karena rasa hormat terhadap nama besar Beres. Setibanya di muara Sungai Bets, Beres dan Mamats meratapi sanak saudara yang mereka tinggalkan di Mamats. Sebagai tanda berkabung, mereka mandi lumpur, seolah-olah keluarga mereka telah meninggal dunia. Sebelum memasuki dunia baru, mereka mandi di muara sungai sebagai simbol melepaskan masa lalu, meski keinginan Beres untuk membalas dendam kepada Beorpit tetap membara. Beres pun pergi berburu dan berhasil mendapatkan beberapa ekor babi untuk dipersembahkan kepada Sokorew sebagai tanda persahabatan. Sokorew Menerima Beres Suami istri itu mendayung hingga mencapai As Arep (hulu Sungai As) pada tengah malam. Karena belum mengenal medan, perahu mereka menabrak panggung rumah Sokorew yang berdiri di tengah sungai. Awalnya mereka mengira telah menabrak kayu gelondongan, namun setelah melihat perahu tertambat, mereka sadar itu adalah rumah Sokorew. Sokorew yang belum tidur merasa ada orang di kolong rumahnya. Ia turun dengan berpura-pura hendak buang air kecil. Di bawah sana, ia melihat seseorang berdiri di depan perahu. Sokorew bertanya: “Siapa gerangan engkau.” Beres menyahut: “Sebutlah namamu dahulu karena saya hanya seorang tamu saja.” Sokorew menjawab: “Saya Sokorew, saya penguasa sungai As.” Lalu Beres berkata: “Saya Beres, pemilik sungai Mamats.” Keduanya pun berpelukan sebagai tanda dimulainya persahabatan. Sokorew membangunkan istri-istrinya untuk menyiapkan tempat tidur bagi tamu mereka. Sejak saat itu, Beres tinggal bersama Sokorew di As Arep dan menjadi sekutu kuat dalam menguasai kawasan Sungai As dan Bets. Sokorew Menyerbu Beorpit di Sungai Mamats Keakraban kedua pemimpin ini semakin erat hingga mereka merencanakan penyerbuan terhadap Beorpit di Sungai Mamats. Setelah strategi disusun dengan seksama, mereka berangkat menyerang. Terjadilah pertempuran hebat yang berakhir dengan kematian Beorpit di tangan Sokorew yang memanahnya. Sejak peristiwa itu, nama Sokorew semakin dijunjung tinggi oleh masyarakat di sekitar Sungai Mamats. Penduduk kampung asal Beres meratapi kematian Beorpit, namun mereka juga merasa sedih karena Beres ikut berperang melawan orang dari kampungnya sendiri, sehingga mereka merasa kehilangan sosok orang tua atau pemimpin. Catatan: Cerita ini menggambarkan bagaimana persekutuan antar-pemimpin di Asmat sering kali dipicu oleh rasa malu (sir) dan keinginan untuk memulihkan harga diri melalui bantuan kekuatan dari wilayah lain.
Asal Usul Asmat Versi Awok
Konon di Sitan hidup sekelompok manusia. Sitan berarti daerah di atas batu, yaitu daerah pegunungan. Dikatakan bahwa kelompok manusia ini mengukir patung dari batu, tetapi bentuknya tidak seperti patung Asmat yang dikenal sekarang. Pada suatu waktu mereka mengadakan pesta ulat sagu. Selain masyarakat manusia, terdapat pula masyarakat hewan yang hidup di sekitar mereka, seperti tikus tanah, tikus kecil, kuskus, dan berbagai jenis ular. Kedua kelompok ini hidup bermusuhan sejak tikus tanah (pirau) memasuki kampung manusia dan memakan makanan yang ditinggalkan di rumah ketika manusia sedang mengadakan pesta ulat sagu. Penduduk kampung selalu heran siapa yang mencuri makanan mereka. Suatu hari manusia membuat rencana dan menyusun strategi untuk menangkap pencuri yang merusak kampung itu. Semua orang pergi ke hutan untuk mengambil ulat sagu. Hanya dua orang yang tinggal di Jew untuk menjaga kampung, yaitu Osakape dan Beorpit. Kedua orang itu telah memberitahukan kepada masyarakat bahwa apabila terdengar bunyi tifa dan terompet bambu, berarti pencuri telah tertangkap dan dibunuh. Jika mendengar bunyi tersebut, semua orang diminta segera kembali ke kampung. Sementara kedua orang itu duduk di wair, yaitu tungku api utama di dalam Jew, terdengar suara dari luar yang mengatakan bahwa penduduk kampung itu terlalu rakus sehingga selalu meninggalkan kampung tanpa ada yang menjaga. Mendengar suara itu Osakape dan Beorpit terdiam. Kemudian Beorpit mengintip melalui lubang dinding Jew. Ternyata yang dilihatnya bukan manusia, melainkan tikus tanah bermoncong panjang. Osakape segera mengambil busur panah dan memanah tikus tersebut. Setelah mati, tikus itu diletakkan di tungku api utama. Kemudian mereka memukul tifa dan meniup terompet bambu sesuai dengan kesepakatan untuk memanggil pulang penduduk kampung. Konon tifa itu dibuat dari pohon kelapa, sedangkan terompet dibuat dari bambu yang dalam bahasa Asmat disebut wakan. Seluruh warga kampung kembali dan bersama-sama mengadakan pesta pengayauan yang pertama. Kepala tikus tanah itu diambil dan digantungkan pada leher saudara-saudara Osakape dan Beorpit secara bergantian sebagai tanda kegembiraan dan kebanggaan. Semua orang menari dan bergoyang semalam suntuk di dalam Jew. Rencana Pindah Kampung Pada malam hari Osakape dan Beorpit bersama para tetua kampung merencanakan untuk pindah ke tempat lain. Rencana ini muncul karena mereka khawatir kelompok hewan akan terus mengganggu manusia. Selain itu, bunyi tifa dan terompet yang dimainkan sepanjang malam diyakini akan menyinggung perasaan masyarakat hewan. Diputuskan bahwa keesokan harinya Osakape harus pergi ke hutan untuk mencari sungai, agar mereka dapat segera pindah. Sementara itu Beorpit akan memimpin masyarakat manusia jika terjadi serangan balasan dari masyarakat hewan. Reaksi Masyarakat Hewan Di hutan, masyarakat hewan menunggu pirau kembali. Namun tikus itu tidak pulang seperti biasanya. Mereka mulai curiga bahwa ia telah dibunuh oleh manusia. Dua putri pirau kemudian pergi ke hutan untuk memanggil ayah mereka. Setelah beberapa saat mereka mendengar jawaban yang samar-samar, seolah-olah itu suara ayah mereka. Ketika dipanggil untuk kedua kalinya, jawaban itu terdengar lagi. Kedua anak pirau merasa senang. Namun mereka mulai merasa aneh. Ketika dipanggil kembali, suara yang sebelumnya jauh tiba-tiba terdengar dekat. Ketika dipanggil lagi, suara itu tiba-tiba terdengar jauh kembali. Hal itu terjadi berulang-ulang hingga akhirnya mereka menyadari bahwa ayah mereka telah dibunuh. Suara yang menjawab hanyalah roh atau nyawa, yang dalam bahasa Asmat disebut yuwus ipits. Kedua putri itu meratapi ayah mereka dan kembali ke rumah. Sesampainya di rumah, seluruh masyarakat hewan berkumpul untuk mendengar kabar dari kedua anak pirau, pemimpin mereka. Setelah mendengar bahwa pirau telah dibunuh oleh manusia, seluruh masyarakat hewan menjadi panik. Kampung mereka menjadi ribut. Para pemimpin berbagai jenis hewan kemudian sepakat menyatakan perang terhadap manusia. Perang antara Manusia dan Hewan Keesokan harinya masyarakat hewan menyerang masyarakat manusia. Ketika berhadapan dengan Beorpit, para pemimpin hewan menanyakan di mana Osakape berada. Dengan cerdik Beorpit menjawab bahwa Osakape sedang sakit keras. Perang pun berkecamuk hingga sore hari. Banyak hewan dan manusia yang mati dalam pertempuran itu. Penemuan Dunia Baru Sementara itu Osakape, bersama anjing hitamnya, pergi berburu babi di hutan. Akhirnya mereka berhasil memanah seekor babi. Babi itu melarikan diri dengan anak panah masih tertancap di pahanya. Osakape dan anjingnya mengikuti jejak babi itu hingga melihat bekasnya masuk ke dalam sebuah lubang. Lubang itu berada tepat di akar bambu (wakan) yang juga digunakan untuk membuat terompet. Osakape kemudian memotong kayu warau (sejenis kayu damar) untuk digunakan sebagai alat menggali lubang. Bersama anjing hitamnya ia turun ke dalam lubang tersebut dan menemukan dunia yang sama sekali baru. Di tempat itu terdapat banyak pepohonan dan kekayaan alam. Osakape kemudian memberi isyarat kepada anjingnya untuk naik ke atas dan mencari air atau sungai. Ia berpesan agar anjing itu menggonggong keras jika menemukan sungai. Ternyata anjing itu menemukan sebuah sungai. Setelah mendengar gonggongannya, Osakape segera menyusul. Ia sangat gembira menemukan tempat yang penuh dengan kekayaan alam. Di sana terdapat berbagai jenis siput, kepiting, dan ikan, serta pohon nipah, sejenis palma. Osakape mengambil berbagai makanan itu dan membungkusnya dengan daun nipah. Kepulangan Osakape Ketika Osakape kembali ke kampung, Beorpit dan seluruh masyarakat menyambutnya dengan gembira. Beorpit bertanya: “Apakah kamu telah menemukan suatu sungai?” Osakape menjawab: “Belum.” Beorpit kemudian bertanya lagi: “Lalu benda apa saja yang terbungkus dalam daun itu?” Osakape berkata: “Memang benar katamu. Ada sesuatu yang saya bawa dalam bungkusan itu. Inilah berbagai jenis ikan, kepiting, dan siput yang saya bungkus dengan daun nipah sebagai bukti agar kita segera pindah ke tempat baru itu.” Kemudian Osakape bertanya kepada Beorpit: “Bagaimana perang melawan para hewan?” Beorpit menjawab: “Kami baru saja berhenti berperang melawan mereka. Para pemimpin hewan menanyakan ke mana kamu pergi. Aku menjawab bahwa kamu sakit keras semalam.” Setelah percakapan itu, Osakape dan Beorpit merencanakan perpindahan ke tempat baru yang ditemukan Osakape. Ketika masyarakat mencoba makanan yang dibawa Osakape, mereka muntah, karena belum pernah memakan makanan seperti itu sebelumnya. Namun setelah makan untuk kedua kalinya, mereka tidak muntah lagi. Mereka kemudian menyadari bahwa makanan itu sangat enak. Karena itu ketika Osakape dan Beorpit mengajak mereka pindah ke tempat baru, seluruh masyarakat setuju. Perjalanan Menuju Sungai Keesokan harinya mereka pindah ke tempat baru yang penuh makanan. Mereka tinggal di hulu sungai selama beberapa tahun. Karena kekurangan air, mereka kemudian pindah ke arah muara sungai. Namun mereka tidak dapat keluar ke hilir karena terhalang oleh raksasa laut








