Nama saya Natalis Wiriyawe Subade, biasa disapa Natalis. Saya tumbuh dalam keluarga sederhana yang penuh kasih sayang. Dibesarkan dengan nilai-nilai tersebut, saya memiliki cita-cita besar untuk menjadi pribadi yang bermanfaat bagi keluarga maupun sesama. Salah satu titik balik penting dalam hidup saya adalah ketika bergabung dengan Asmat Archives—sebuah Lembaga Pusat Pengarsipan dan Penelitian Sejarah dan Kebudayaan Asmat. Di tempat inilah, cakrawala berpikir saya terbuka luas melalui berbagai informasi, pengetahuan, dan pemahaman mendalam mengenai kehidupan masyarakat Asmat di masa lalu. Jujur saja, awalnya saya mengira Asmat Archives hanyalah sebuah lembaga yang berfokus pada catatan pelayanan misi pastoral. Namun, setelah aktif membaca, berdiskusi, dan terlibat dalam berbagai penelitian budaya, kesadaran saya mulai berubah. Saya menyadari bahwa Asmat Archives bukan sekadar tempat penyimpanan dokumen biasa, melainkan sebuah “ruang ingatan” yang tetap hidup melalui tulisan, foto, dan dokumentasi visual lainnya. Bagi saya, Asmat Archives adalah wadah krusial untuk mengembangkan potensi diri. Ketertarikan saya semakin dalam saat mulai menyelami arsip-arsip di perpustakaan Biara OSC. Salah satu karya yang sangat berkesan adalah buku Mgr. Alfons Sowada, “Mencerep Kehidupan Asmat dan Seni”. Dalam buku tersebut, ia menggambarkan pandangan kontekstual kehidupan orang Asmat yang dirangkum dalam filosofi: “Ja Asamanam Apcamar” — Hidup dalam Keseimbangan yang Penuh. Selain itu, saya menemukan banyak catatan misionaris awal yang mendokumentasikan kondisi geografis, situasi sosial, hingga dinamika kebudayaan Asmat yang terus berevolusi hingga saat ini. Melalui arsip ini pula, saya mengenal sosok penulis-penulis inspiratif seperti Abraham Kuruwaip, Bonifasius Jakfu, Yuvensius A. Biakai, dan Ernes Ndcim. Mereka adalah tokoh-tokoh hebat yang mendedikasikan pemikiran mereka untuk menghidupkan nilai-nilai budaya Asmat di tengah derasnya arus zaman. Sebagai orang muda yang menyadari keterbatasan pengetahuan saya akan sejarah, membaca arsip-arsip lama di Biara OSC menjadi perjalanan reflektif bagi saya. Hal ini memotivasi saya untuk terus belajar dan berproses di Asmat Archives. Saya berharap, pengalaman ini tidak hanya memperluas wawasan saya pribadi, tetapi juga dapat menjadi pedoman bagi generasi muda lainnya dalam menjaga dan melestarikan warisan luhur kebudayaan Asmat.
Jiwi: The Rendezvous with the Ancestors
At the end of 2022, several traditional elders from Esmapan Village visited my house in Er Village. The distance between the two villages is about 30 kilometers by fiber boat. They invited me to attend the Jiwi ceremony and assist in documenting it. In the Asmat indigenous community, which practices an oral tradition, photography is a means of maintaining collective memory and creating a legacy for future generations. I took pictures and recorded songs and the events of the feast. This series of photos documents a Jiwi ritual in the Asmat community of Esmapan Village. The Jiwi ceremony is a special occasion for the Asmat people to commemorate their deceased ancestors. Through the ritual, they reestablish a balanced relationship between the living and the ancestral spirits.Unfortunately, there is a misconception among outsiders that this ceremony is called the Devil’s Celebration. This view creates a negative impression that does not align with the ritual’s true meaning, which is to show respect for ancestors. The ritual provides the Asmat people with certainty and a sense of security. By visually representing their ancestors through carvings on Bisj (ancestral statues), the Asmat people make the invisible tangible. During the Jiwi ceremony, ancestors “visit” the world of the living, providing strength and ensuring a lasting connection. These visits dispel fear and doubt while serving as proof that their ancestors will continue to protect and support them. In a fragmented world, the Asmat people believe that human existence is inseparable from the spirits of ancestors, nature, humans, and God. Amidst the current wave of modernization that is beginning to affect the lives of the Asmat people, the Jiwi rituals are a true manifestation of coexisting with the invisible. Having lived with the Asmat community since 2016, I photograph from within, not as an outsider. My work is not tourist documentation, but rather a form of respect for the Asmat world. Through my photographs, I aim to show the audience how the Asmat community maintains a deep connection with the spirits of their ancestors and their land. Amidst the ecological crisis and the alienation of modern humans, the Jiwi ritual offers valuable lessons in sustainability and respect for life. Ndoro, standing on the banks of the Momats River, preparing to return to the forest—the world of spirits. The Tifa players began to sing sacred hymns inviting the spirits. The ancestral tifa—heritage began to be heated in the fireplace. The young men representing each clan began to weave spirit masks. Ong, ensured that all masks were woven according to ancestral traditions. Timno, accompanied by his son, made a new Tifa to be presented to the ancestors. In between this series of traditional rituals, Father Vince led a holy mass to pray for the ancestors in accordance… A Noken with the words, 'West Papua' belonging to Matias was hung near the spirit masks that would be prayed… Bepja and other traditional figures, weaved "Manmar" a special mask as the Mother of the spirits who would lead the… The spirits began to be invited from the forest—the world of spirits to return to the village. Simon with a special shield decorated with sacred symbols that will be offered to the ancestors. Children run to avoid evil spirits that also come to the village. They throw fruits at evil spirits so that evil spirits do not bring bad things into the midst of life… Markus stands in the middle of the traditional house, starting to call the names of the ancestors they are praying… Ndoro walks through the village. They give offerings of sago worms to the ancestral spirits. Grief covers them when the ancestors visit the family one by one. Peto is unable to let go of the ancestors who will return to the forest Taksa, letting go of his longing for the spirit of his father, who is visiting.
Sejarah Bandara Ewer-Asmat
Landasan Udara Ewer: Gerbang Baru Menuju Asmat Disusun oleh Andreas Wahyu – Asmat Archives Pada awal tahun 1950-an, Pastor Zegwaard MSC memulai karya misi Katolik di wilayah Asmat. Beberapa tahun kemudian, tepatnya pada akhir 1958, hadir pula kelompok misionaris OSC dari Amerika. Seluruh aktivitas misi ketika itu bergantung pada transportasi air, mulai dari perahu dayung hingga perahu bermotor. Secara administratif, Asmat masih menjadi bagian dari Keuskupan Merauke yang dipimpin Uskup Mgr. Herman Tillemans MSC. Dalam perjalanan waktu, para misionaris mulai menyadari perlunya membangun sebuah landasan pacu yang lebih dekat ke Agats, pusat kegiatan misi, untuk mendukung pelayanan dan mobilitas. Ewer dipilih sebagai lokasi pembangunan landasan udara karena letaknya strategis—hanya sekitar 1,5 jam perjalanan dengan perahu motor dari pusat kota Agats. Jarak ini jauh lebih dekat dibandingkan dengan Pirimapun, lokasi landasan udara lama yang beroperasi sejak 1960. Dari Agats ke Pirimapun diperlukan waktu hingga dua belas jam perjalanan. Sayangnya, pada tahun 1972, landasan udara lama itu harus ditutup setelah terkikis dan akhirnya ditelan laut. Selain lokasinya yang lebih dekat, Ewer juga memiliki keunggulan lain: tanah liat yang padat dan kokoh hanya berada 90 cm di bawah lapisan lumpur lunak. Kondisi ini dianggap ideal untuk dijadikan dasar landasan pacu. Pada tahun sebelumnya, Br. Joseph De Louw OSC mengoordinasikan pembukaan hutan seluas 300 x 600 meter sebagai persiapan. Penduduk setempat kemudian membawa tanah liat dari Sungai Pek dengan tangan mereka sendiri, menimbunnya setinggi satu meter agar lebih tinggi dari permukaan air pasang. Br. Joseph mengenang pengalamannya: “Saya membagi rencana landasan pacu menjadi seratus bagian, masing-masing sepanjang 5 meter. Setiap bagian dikerjakan dengan sistem kontrak. Saya memperkirakan berapa hari kerja yang dibutuhkan untuk mengisi satu bagian, lalu menetapkan upah harian yang layak. Kontrak hanya saya buat dengan satu orang—pria atau wanita—yang bertanggung jawab atas bagian itu, termasuk mengatur jumlah asisten dan waktu pengerjaan.” Sementara itu, Pastor David Gallus OSC, yang bertugas di Ewer, memimpin pemeliharaan landasan pacu. Ia kemudian berhasil meningkatkan kualitasnya dengan melapisi seluruh landasan menggunakan “tikar” dari batang bakau sepanjang 4 meter yang disusun ala corduroy road. Setelah ditutup dengan tanah liat, lapisan ini membuat landasan cukup kuat untuk didarati pesawat berbobot lebih besar. Selain di Ewer, misi Katolik dan Protestan juga terus membangun beberapa landasan udara baru di lokasi lain. Pastor Gallus OSC bahkan berperan sebagai penghubung Keuskupan Agats dengan AMA (Associated Mission Aviation), lembaga penerbangan misi Katolik yang berdiri sejak 1959. Pada pertengahan 1968, AMA menjadi badan hukum yang menaungi berbagai tarekat: Fransiskan (OFM), Krosier (OSC), Misionaris Hati Kudus (MSC), dan Agustinian (OSA). AMA melayani salah satu wilayah penerbangan paling menantang di dunia. Pegunungan tinggi yang membentang dari tenggara ke barat laut sepanjang 1.500 mil membelah Pulau Nugini, menghadirkan “pintu masuk” sempit menuju dataran rendah. Sebelum adanya bantuan GPS, pilot Katolik (AMA), Protestan (MAF), Advent, maupun maskapai misi lainnya kerap menghadapi risiko besar, dengan rata-rata satu hingga dua kecelakaan fatal setiap tahunnya. Landasan udara Ewer menjadi titik masuk penting bagi para misionaris OSC berikutnya ke Agats. Pada 13 September 1964, Bruder Tom Luke Benoit OSC menerbangkan pesawat Cessna 185 dari Sentani ke Ewer dalam waktu 1 jam 55 menit. Ini Adalah pendaratan pertama di Ewer. Dalam suratnya kepada Pastor Provinsial OSC di Amerika, ia menuliskan: “Saya lampirkan peta bersama surat ini agar Anda bisa memahami rute-rute penerbangan kami dan lokasi bandara yang ada. Landasan di Ewer adalah yang terbaik yang pernah saya lihat. Kali ini saya tidak mengalami masalah tenggelam. Pastor Miller bahkan sempat menancapkan tongkat besar sedalam satu meter untuk mengikat pesawat—begitu menembus kerak tanah, seolah tidak ada dasarnya. Landasan itu panjangnya 500 meter dengan lebar 8 meter. Sejauh ini, landasan ini telah membuktikan nilainya. Ada wacana untuk memperkerasnya dengan kayu ulin, tetapi hal itu masih sekadar rencana.” Sumber:New Guinea Letter No.21 My Fields Has Been the World. The Memoirs of Brother Joseph DeLouw, OSC. Pada 13 September 1964, Bruder Tom Luke Benoit OSC menerbangkan pesawat Cessna 185 dari Sentani ke Ewer dalam waktu 1 jam 55 menit.
Dari Mitos ke Urban Legend: Pater Yan Smit dan Kota Lumpur Agats
Suatu sore, ketika saya berjalan menuju Pelabuhan Feri Kota Agats, pemandangan di hadapan terasa begitu hidup. Dua kapal bermuatan besar bersandar tenang di dermaga. Orang-orang berdatangan dari berbagai penjuru kota. Burung-burung camar menari dan berkicau di udara, sementara cahaya keemasan senja melukiskan cinta dan harapan di atas aliran Sungai Aswets. Tanpa saya sadari, langkah saya terhenti. Saya menoleh ke belakang dan memandang sebuah patung yang berdiri kokoh di kawasan pelabuhan: Patung Pater Yan Smit, OSC. Ia digambarkan memegang dayung dan kitab Injil, dengan telunjuk mengarah ke tanah di sekitarnya. Area di sekeliling patung tampak kurang terawat, seolah terpisah dari denyut kehidupan kota, tanpa akses yang jelas untuk mendekatinya. Saat saya berdiri memandangi patung itu, tiga orang pemuda duduk tak jauh dari sana, berbincang santai. Percakapan mereka perlahan terdengar jelas. “Patung itu siapa?” tanya salah satu dari mereka. “Mengapa patung itu ada di sini?” Seorang lainnya menjawab pelan, seolah menyampaikan rahasia lama, “Saya pernah dengar, orang dalam patung itu yang mengutuk tanah ini jadi tanah lumpur.” Percakapan itu berlanjut ringan, seakan tak lebih penting dari kegiatan mereka mencari udang dan kepiting di tepian Sungai Aswets. Namun bagi saya, kalimat itu terasa menghentak. Di sanalah saya mulai bertanya dalam hati: mengapa jejak Pater Yan Smit tidak banyak dikenal oleh generasi muda Asmat, sementara mitos tentang dirinya justru terus hidup dan diwariskan? Mengapa kisah “kutukan” itu terdengar lebih akrab dibandingkan cerita tentang pengabdian dan kematiannya? Sebagai seseorang yang pernah mengenyam pendidikan Katolik di sekolah yang memakai nama Pater Yan Smit, saya merasa ada jarak yang ganjil. Nama itu hadir di papan sekolah dan patung kota, tetapi sosoknya justru menghilang dari ingatan kolektif—digantikan oleh cerita-cerita yang samar, ringan, dan sering kali keliru. Sebagai remaja yang tumbuh dan besar di “kota lumpur” ini, saya menyadari bahwa nama Yan Smit tak bisa dilepaskan dari sejarah Agats. Namun dalam cerita yang beredar, ia sering dikaitkan dengan sebab-musabab mengapa kota ini berlumpur dan berawa. Patungnya berdiri menghadap Sungai Aswets—mengalir menuju Laut Arafura—seolah menyambut setiap orang yang datang ke Agats. Ia telah menjadi ikon kota, tetapi juga menjadi simpul lahirnya tafsir dan mitos. Menurut cerita yang berkembang di masyarakat, penembakan Pater Yan Smit oleh seorang kepala pemerintahan setempat pada awal tahun 1965 dianggap sebagai awal mula “kutukan” itu. Konon, sebelum menghembuskan napas terakhir, ia berkata: “Daging saya akan menjadi lumpur, dan darah saya akan menjadi air yang akan terus menggenangi tanah ini.” Dari sinilah mitos itu tumbuh, berulang dari mulut ke mulut, lalu perlahan berubah menjadi urban legend. Namun pertanyaannya: benarkah kata-kata itu pernah diucapkan? Apakah Pater Yan Smit benar-benar mengutuk tanah Asmat? Jika kita merujuk pada fakta sejarah—catatan kronologis penembakan Pater Yan Smit—tidak pernah ditemukan satu pun bukti atau kesaksian yang menyebutkan bahwa ia mengutuk tanah ini. Tidak dalam arsip gereja, tidak dalam laporan investigasi, dan tidak dalam kesaksian para konfraternya. Yang tercatat justru sebaliknya: keinginannya untuk tetap tinggal bersama orang Asmat hingga akhir hidupnya. Penjelasan Ilmiah: Mengapa Agats Berlumpur Secara geografis, Kota Agats dibangun di wilayah delta sungai yang sangat dekat dengan muara laut. Sungai Aswets membawa endapan lumpur, pasir, dan material dari wilayah hulu. Permukaan kota ini berada di bawah atau sejajar dengan permukaan laut, sehingga setiap pasang—terutama pada bulan Juni dan Desember—air akan menggenangi daratan. Inilah sebabnya hampir seluruh bangunan di Agats dibangun di atas tiang. Jalan, rumah, dan fasilitas umum ditinggikan. Ada ungkapan yang sering terdengar: penduduk Agats hidup melayang di atas tanah, karena aktivitas sehari-hari jarang bersentuhan langsung dengan lumpur. Perubahan Iklim dan Kenyataan Global Perubahan iklim global memperparah kondisi ini. Mencairnya es di kutub utara dan selatan menyebabkan kenaikan permukaan laut dari tahun ke tahun. Air pasang semakin tinggi, dan genangan semakin sering terjadi—bukan karena kutukan, melainkan karena hukum alam yang nyata. Menata Ulang Ingatan Mitos dan cerita rakyat akan selalu menjadi bagian dari sejarah sebuah kota. Namun ada saatnya kebenaran perlu diungkap dan diluruskan. Mitos tentang “kutukan Pater Yan Smit” bukan hanya keliru, tetapi juga secara tidak langsung membentuk gambaran negatif tentang seorang misionaris yang dalam kenyataannya hidup, bekerja, dan wafat demi umat yang ia layani. Jika kita membaca kembali kisah perjalanan hidupnya dan kronologi kematiannya, kita menemukan sosok yang jauh dari figur pengutuk. Yang ada adalah seorang pastor yang memilih untuk tetap tinggal, bersuara bagi yang lemah, dan membayar pilihannya dengan nyawa. Mungkin sudah waktunya Agats tidak lagi mengingat Pater Yan Smit sebagai legenda tentang kutukan, melainkan sebagai bagian dari sejarah luka, iman, dan perjuangan seorang misionaris untuk tanah Asmat.