Ceritera asal: Mbait Diceriterakan oleh: Bapak Willem Wof Diterjemahkan oleh: Yufen A. Biakai,BA Cerita Bagian 1 Ceritera asal: Mbait Diceriterakan oleh: Bapak Willem Wof Diterjemahkan oleh: Yufen A. Biakai,BA Asal-usul As Teweraut Di hulu Kali As terdapat sebuah kampung kecil. Pemimpin kampung itu bernama Binukpit. Dari perkawinannya dengan seorang perempuan bernama Teweraut, mereka memiliki beberapa anak laki-laki dan seorang anak perempuan. Anak perempuan itu juga diberi nama Teweraut. Teweraut kemudian dikawinkan dengan seorang pemuda tampan bernama Beorpit. Dalam penulisan selanjutnya ia akan disebut As Beorpit, yang berarti Beorpit dari Kali As. Dari perkawinan As Beorpit dan Teweraut lahirlah seorang anak perempuan yang juga diberi nama Teweraut. Dalam cerita ini ia akan disebut As Teweraut, yang berarti Teweraut dari Kali As. Kecantikan As Teweraut tersohor di seluruh wilayah Asmat. Banyak pemuda ingin mempersuntingnya. Salah seorang pemuda tampan dari wilayah Fayit juga berusaha mendapatkannya. Pemuda itu bernama Beorpit, yang dalam cerita ini akan disebut Safan Beorpit, artinya Beorpit dari Safan. Penjodohan As Teweraut dengan Safan Beorpit Konon pada suatu hari, Binukpit, kakek As Teweraut, membuang kotoran besar di atas akar sebuah kayu gelondongan. Kayu itu kemudian hanyut terbawa arus hingga terdampar di muara Kali Fayit. Di tempat itu burung-burung datang mengerumuni kotoran tersebut. Keesokan harinya Safan Beorpit pergi ke pantai bersama teman-temannya untuk mencari ikan. Ketika melihat kerumunan burung itu, ia tergerak untuk memanahnya. Namun ketika hendak memanah, burung-burung tersebut tiba-tiba beterbangan ke segala penjuru untuk menghindari bahaya. Safan Beorpit bersama teman-temannya kemudian mendekat dan menyandarkan perahu mereka pada kayu gelondongan itu. Di atas akar kayu tersebut ia melihat tumpukan kotoran manusia. Ia tertegun sejenak. Ingatannya kembali pada mimpi yang dialaminya malam sebelumnya. Setelah teringat isi mimpinya, Safan Beorpit tanpa ragu mengambil gumpalan kotoran manusia itu. Ia yakin bahwa kotoran tersebut berasal dari Binukpit, sebagaimana yang ia lihat dalam mimpinya. Peristiwa ini disaksikan oleh teman-temannya. Mereka merasa heran dan bingung melihat sikap Safan Beorpit. Melihat kebingungan mereka, Safan Beorpit menjelaskan bahwa kotoran itu milik Binukpit, kakek dari gadis jelita As Teweraut, sebagaimana yang ia lihat dalam mimpinya semalam. Ia juga menceritakan bahwa dalam mimpi yang sama ia dijodohkan dengan As Teweraut. Perjodohan itu akan terjadi setelah keluarga gadis tersebut mengetahui bahwa ia telah mengambil dan menyimpan kotoran kakeknya dalam sebuah noken baru. Noken Berhias Sesampainya di kampung, Safan Beorpit memohon kepada ibunya agar dibuatkan sebuah noken baru yang dihiasi bulu-bulu burung kakatua putih dan burung nuri. Keesokan harinya ibunya mulai menganyam noken sesuai keinginan anaknya. Setelah noken itu selesai, Safan Beorpit mengambil kotoran Binukpit dan memasukkannya ke dalam noken berhias tersebut. Noken itu kemudian digantung di dekat tempat tidurnya di Jew. Berita tentang peristiwa ini segera tersebar ke seluruh wilayah Asmat, termasuk ke keluarga besar Binukpit di hulu Kali As yang dalam peta Asmat disebut Kali Asuwe. Ketika mendengar kabar itu, seluruh keluarga besar Binukpit merasa sangat terharu dan kasihan atas sikap Safan Beorpit. Bagi mereka tidak ada benda yang cukup berharga untuk membalas ketulusan hatinya. Satu-satunya hal yang dapat mereka berikan hanyalah seorang gadis dari keluarga mereka. Namun Binukpit menjadi bingung. Ia tidak memiliki anak perempuan yang sesuai aturan adat untuk dijodohkan dengan Safan Beorpit. Yang ada hanyalah cucunya, As Teweraut. Tetapi menurut adat, yang dapat diberikan adalah anak perempuan, bukan cucu. Semua anggota keluarga besar pun ikut bingung. Keputusan As Beorpit Dalam kebingungan itu, As Beorpit merasa turut bertanggung jawab terhadap ayah mertuanya, Binukpit. Walaupun tidak sepenuhnya sesuai dengan adat, ia berani mengambil keputusan: menjodohkan anaknya, As Teweraut, dengan Safan Beorpit. Niat itu ia sampaikan kepada isterinya. Baginya akan sangat disayangkan jika sikap dan perbuatan Safan Beorpit tidak segera dibalas dengan penghormatan yang setimpal. Ia menyadari bahwa jika tidak ada balasan, hal itu bisa mendatangkan musibah bagi ayah mertuanya. Setidaknya seluruh keluarga mereka dapat terseret dalam permainan politik yang disebut “main baku tipu”—saling menipu dan memperdaya. Selain itu, jika tidak ada balasan, kampung Binukpit dapat diserang. Safan Beorpit dikenal sebagai pejuang yang tangguh, jauh lebih kuat dibandingkan keluarga besar Binukpit di As Arep—sebutan bagi hulu Kali As dalam bahasa setempat. Bahaya lainnya, kotoran Binukpit dapat dijadikan obat atau guna-guna (arau) yang dapat menyebabkan kematian. Karena itu As Beorpit mengambil keputusan secara diam-diam. Bahkan sebagian keluarga besar tidak mengetahui niatnya, meskipun menurut adat wewenang penjodohan sebenarnya berada di tangan para iparnya. Cerita Bagian 2 Persiapan Perkawinan As Teweraut Walaupun telah mengambil keputusan menjodohkan anaknya, As Beorpit tidak segera memberitahukan rencananya kepada keluarga besar. Ia hanya menyampaikan niat tersebut kepada isterinya. Pada suatu hari As Beorpit sedang membuat gagang kampak batu yang dalam bahasa Asmat disebut siwin. Karena tidak memiliki alat ukir, ia meminta isterinya, Teweraut, meminjam pahat dari saudara-saudaranya. Namun permintaan itu ditolak. Saudara-saudaranya bahkan berkata dengan kasar: “Cukup kau beri alat kelaminmu sebagai alat mengukir.” Mendengar kata-kata itu Teweraut sangat marah. Ia segera pulang dan menceritakan semua sikap serta perkataan saudara-saudaranya kepada suaminya. Mendengar hal itu As Beorpit merasa sangat malu sekaligus marah. Sejak saat itu ia memutuskan mengambil alih seluruh wewenang dan tanggung jawab penjodohan dari para iparnya. Ia bertekad sendiri yang akan mengatur pernikahan antara As Teweraut dan Safan Beorpit. Persiapan Perhiasan untuk As Teweraut Untuk melaksanakan rencananya, As Beorpit bersama isterinya pergi ke hutan mengumpulkan berbagai bahan untuk menghias anak mereka. Mereka mengambil daun sagu muda untuk membuat cawat baru. Dari rotan mereka membuat gelang kaki, gelang tangan, dan kalung. Setelah semua bahan terkumpul, As Beorpit mengambil pucuk sagu dan ulat sagu, lalu membungkusnya dengan rapi. Makanan itu kemudian diberikan kepada As Teweraut sebagai tanda bahwa ia akan menyampaikan suatu hal penting. Setelah makan, As Beorpit berkata kepada anaknya bahwa ia akan dijodohkan dengan Safan Beorpit dari Fayit. Mendengar hal itu As Teweraut menyambutnya dengan senang hati. Walaupun ia belum pernah bertemu dengan Safan Beorpit, bagi dirinya pemuda itu telah menjadi idaman hatinya. Dengan penuh kasih sayang, ayah dan ibunya menghiasi tubuh As Teweraut dengan semua atribut yang telah mereka siapkan. Setelah itu mereka pergi menemui Binukpit untuk memberitahukan niat tersebut. Binukpit Terharu Ketika mendengar keputusan itu, Binukpit sangat terharu melihat sikap As Beorpit, menantunya. Ia merasa sangat berterima kasih
Tafo yang Mati Lalu Hidup Kembali
Cerita asal: Kampung Yamas Diceritakan oleh: Bapak Norbertus Owso Diterjemahkan oleh: Yufen A. Biakai, BA Suatu malam, pemimpin kampung yang lazim disebut kepala perang mengumumkan rencana penyerangan terhadap musuh. Selesai pengumuman tersebut, Tafo menjadi orang pertama yang memekikkan sorak khas Asmat dengan berseru: “Aunh, wuaaaaa, aikum tii a aa, ses akat des aare a, to jiia baumasom.” yang berarti: “Saudara-saudara, anak-anak, istirahatlah baik-baik, besok kita harus membasmi musuh.” Seluruh penduduk pun ikut bertempik sorak, menambah semarak suasana kampung malam itu. Keesokan harinya, seluruh laki-laki di kampung berangkat ke medan perang. Saat berhadapan dengan lawan, pecahlah pertempuran yang sangat sengit. Tafo berada di barisan paling depan untuk menyerang, namun malang, ia tewas terkena serangan balasan musuh. Seketika itu juga, jagat raya seolah tertutup kabut kelam; guntur dan kilat sambar-menyambar, seakan-akan turun untuk menjemput nyawa Tafo. Pertempuran itu memakan banyak korban jiwa dari kedua belah pihak. Setelah peperangan dihentikan oleh para pemimpin masing-masing, perahu-perahu pun mulai bergerak pulang. Di pihak kampung Tafo, suasana diselimuti kesedihan mendalam karena mereka kehilangan pemimpin muda yang sangat gagah berani. Kabar tentang kematian Tafo pun tersebar dengan cepat hingga ke kampung halamannya. Namun, sebuah kejadian aneh menanti mereka. Saat iring-iringan perahu pembawa hasil perang mendekati kampung dengan tiupan terompet bambu, tiba-tiba terdengar suara tabuhan tifa dari rumah Jew (pusat kegiatan adat). Orang-orang tercengang saat melihat Tafo-lah yang sedang memukul tifa sembari menyanyi dan menari, seolah sedang menyambut kemenangan perang. Kepanikan dan ketakutan melanda warga karena mereka tahu Tafo sudah meninggal. Mereka bertanya-tanya: “Dia sudah mati, tetapi mengapa dia pukul tifa lagi, menyanyi sambil menari?” Suasana kampung menjadi penuh keanehan karena peristiwa seperti itu belum pernah terjadi sebelumnya. Setibanya rombongan perang di darat, kepala perang segera mengumumkan hasil perolehan mereka kepada para wanita dan orang tua. Ketika nama Tafo disebut dalam daftar pejuang yang gugur, seorang ibu tua berteriak: “Ah, Tafo masih hidup! Dialah yang membawa berita kemenangan dan memukul tifa, menyanyi dan menari. Dia pula yang menyemarakkan suasana kampung seperti yang anda sekalian saksikan sekarang.” Di tengah keheranan penduduk, Tafo berkata dengan suara lantang: “Anak-anak dan saudara-saudari, mari ikutlah jejakku ini. Yang saudara-saudara bawa adalah batang kayu. Buang saja batang kayu itu. Saya tidak mati. Saya manusia sesungguhnya yang telah hidup kembali. Saya bukan spok atau hantu seperti yang anda duga. Saya sungguh-sungguh manusia sejati. Mari, saudara-saudaraku, ikutilah jalan yang saya rintis ini. Manusia setelah mati harus bangkit kembali menjadi manusia sejati.” Setelah ia berkata demikian, alam kembali bereaksi dengan kabut kelam serta gemuruh guntur dan kilat. Bagi orang Asmat, tanda-tanda alam tersebut menandakan adanya perubahan dahsyat dalam pengalaman hidup. Semua orang terdiam terpaku mendengarkan perkataan Tafo. Setelah cuaca kembali tenang, Tafo kembali mengumumkan bahwa inilah jalan baru yang benar agar semua orang bisa bangkit kembali setelah mati. Namun, banyak orang yang tetap tidak mau menerima kenyataan tersebut. Untuk membuktikan bahwa ia benar-benar hidup seperti sediakala, Tafo menawarkan diri untuk tinggal kembali di rumah saudara-saudaranya. Sayangnya, mereka tetap menolaknya karena ketakutan. Tafo kemudian mencoba pindah ke kampung lain, tetapi di sana pun ia ditolak karena berita kematiannya dalam perang sudah tersebar luas. Akhirnya, Tafo pergi mengembara masuk ke dalam hutan belantara dan hidup seorang diri. Konon, ia terus hidup di sana dan tidak pernah mati.
Oanaut Melahirkan Anak Buaya
Cerita Asal: Mbait Diceritakan oleh: Bapak Willem Wof Diterjemahkan oleh: Yufen A. Biakai, BA Ada sepasang suami istri yang hidup dalam rasa saling curiga yang mendalam. Dalam bahasa Asmat, sifat ini disebut bifo. Mereka adalah warga kampung Mbait yang tinggal di tepian kali Bufit. Bufit merupakan anak sungai Mamatsj. Dari Bufit inilah bermula kisah kehancuran kampung Mbait, yang dalam jangka waktu lama hidup berdampingan dengan kampung Syuru. Kini, dalam lima tahun terakhir sejak tahun 1988, masyarakat kampung Mbait berupaya memisahkan diri dari kampung Syuru. Beginilah kisahnya: Nama suami istri itu adalah Cikokor dan Oanaut. Suatu hari, Cikokor mengajak istrinya ke hutan untuk mengambil ulat sagu. Setelah selesai, Cikokor mengajak istrinya berhubungan intim. Dalam persetubuhan itu, tanpa disadari oleh Cikokor, Oanaut memasukkan duri ikan ke dalam alat kelaminnya. Setibanya di rumah, Cikokor merasa sangat sakit karena tertusuk duri ikan yang telah disiapkan istrinya tersebut. Akibatnya, alat kelamin Cikokor membengkak dan rasa sakitnya kian memuncak selama beberapa hari. Dalam keadaan yang baru setengah sembuh, Cikokor pergi ke Jew (rumah bujang) dengan niat menikmati daging dan telur buaya. Di sana, ia diberikan daging dan telur secukupnya oleh orang yang menangkapnya. Sebutir telur buaya ia simpan secara sembunyi-sembunyi untuk membalas perbuatan istrinya. Keesokan harinya, Cikokor kembali mengajak Oanaut ke hutan untuk mengambil ulat sagu. Saat mereka berhubungan badan, telur buaya yang disimpannya itu ia masukkan ke dalam rahim istrinya. Setelah selesai, istrinya merasa ada sesuatu yang tertinggal di dalam rahimnya. Selama Oanaut mengandung, suaminya tidak pernah lagi mengunjunginya. Cikokor memilih tinggal di dalam Jew. Dari sana, ia dengan mudah menghubungi saudara-saudaranya secara diam-diam untuk merencanakan perpindahan. Mereka berencana pindah ke muara sungai Bufit dan meninggalkan Oanaut serta ibu mertuanya. Rencana itu pun terlaksana. Seluruh warga masyarakat pindah meninggalkan Oanaut dan ibunya yang saat itu sedang berada di hutan untuk mengambil pucuk sagu. Sekembalinya dari hutan, Oanaut dan ibunya hanya bisa menerima kenyataan pahit tersebut. Kian hari, anak buaya di dalam kandungan Oanaut pun bertambah besar. Konon, setelah anak buaya itu lahir dan tumbuh besar, ia sering keluar-masuk rahim ibunya sedemikian rupa sehingga Oanaut merasa sangat kesakitan. Pengalaman ini berlangsung cukup lama, sampai-sampai sang ibu turut merasakan penderitaan anaknya. Hingga pada suatu saat, ketika anak buaya itu sedang keluar mencari makan, Oanaut dan ibunya naik ke atas sipam (para-para). Anak buaya itu terus-menerus mencari ibu dan neneknya. Di tengah kesibukan anak itu mencari, sang ibu berpesan dari atas sipam: “Cobalah turun ke air.” “Jika keadaan nyaman, tinggallah di dalam air.” “Jika kami memanggilmu untuk makan, barulah kau boleh naik ke darat.” Anak buaya itu melakukan apa yang dipesan oleh ibunya. Ia hidup di dalam air dan tumbuh semakin besar. Sebagai anak yang memiliki kekuatan hebat, ia merasa berkewajiban untuk menghidupi ibu dan neneknya yang tinggal sendirian. Ia pun mencoba menangkap anak babi dan kasuari sekaligus dalam sehari. Hasil perburuan itu dibawakannya kepada ibu dan neneknya. Ibu serta neneknya merasa sangat senang dan bahagia karena dapat menikmati daging setiap hari. Suatu saat, anak ini menanyakan siapa nama ayahnya. Ibunya menjawab: “Kau tidak mempunyai ayah.” Jawaban tersebut tidak memuaskannya, sehingga ia berulang kali bertanya di mana dan siapa nama ayahnya. Karena rasa jengkel terhadap sikap dan perbuatan suaminya dahulu, Oanaut sama sekali tidak mau memberitahukan nama pria itu kepada anaknya. Namun, karena anak buaya itu terus mendesak, Oanaut terpaksa memberitahunya: “Ayahmu bernama Cikokor.” “Dia takut dan meninggalkan Mama saat Mama sedang mengandungmu.” “Ayahmu adalah tokoh penggerak massa untuk pindah ketika Mama dan nenekmu berada di tengah hutan mengambil pucuk sagu.” “Maksudnya adalah agar Mama dan nenek menderita sendirian mengurusi kamu setelah lahir hingga besar seperti sekarang.” “Sekarang, setelah kamu dewasa dan menanyakan di mana ayahmu, ketahuilah bahwa ayahmu hidup bersama seluruh warga masyarakat Mbait di muara sungai Bufit ini.” Mendengar hal itu, anak buaya tersebut merasa sangat iba kepada ibu dan neneknya. Tekad untuk membalas kejahatan ayahnya pun mulai muncul di benaknya. Ia sempat merasa bingung dan pening memikirkan nasib keluarganya. Di tengah kebingungan itu, anak buaya tersebut menenggelamkan diri dan berenang menuju muara Bufit, tempat ayahnya tinggal. Setelah tiba di muara, ia muncul di permukaan air sambil memasang telinga kalau-kalau ada orang yang memanggil nama ayahnya. Ia berputar-putar di sekeliling kampung, namun belum terdengar nama itu disebut. Akhirnya, di ujung kampung, terdengarlah seseorang memanggil nama Cikokor. Perlahan-lahan ia mendekat ke pinggir sungai di dekat rumah ayahnya. Untuk menarik perhatian seluruh anggota keluarganya, anak buaya tersebut menarik haluan perahu kecil milik ayahnya ke dalam air. Beberapa pria dan wanita berupaya mengeluarkan perahu itu, namun usaha mereka sia-sia. Akhirnya, tibalah giliran Cikokor untuk turun ke air dan mencobanya. Saat hendak menarik perahu miliknya, Cikokor ditangkap oleh anaknya sendiri di hadapan sanak saudaranya. Konon, buaya itu dapat berbicara dan memberitahu Cikokor bahwa dialah anak yang ditinggalkan ayahnya saat masih dalam kandungan. Setelah itu, Cikokor dibawa ke tengah sungai. Anak buaya itu menyampaikan beberapa pesan agar disampaikan oleh ayahnya kepada pihak keluarga di darat: “Yang menangkap saya adalah anak saya sendiri, anak kita, dan saudaramu.” “Dia akan mengantar kita kembali ke kampung lama, tempat Oanaut ditinggalkan.” “Jika tidak menuruti kehendaknya, dia berencana membunuh saya sekarang juga dan akan berperang melawan warga Mbait hingga menghabisi kalian semua.” Mendengar ancaman itu, orang-orang Mbait segera mengumpulkan barang-barang dan turun ke perahu masing-masing untuk menuju kampung lama tempat Oanaut tinggal. Cikokor pun dibawa oleh anaknya menuju tempat ibunya berada. Setibanya di kampung lama, Cikokor berpura-pura menyayangi istrinya. Istrinya memaafkan perbuatannya dan memberikan ampunan atas tindakan suaminya. Dengan demikian, keduanya berdamai kembali dengan disaksikan oleh anak buaya tersebut. Namun, setelah beberapa hari berlalu, Cikokor berpura-pura mengajak Oanaut untuk memanggil anak buaya itu naik ke darat menuju Jew. Tujuannya yang sebenarnya adalah untuk membunuh buaya raksasa itu di dalam Jew. Tanpa mengetahui rencana jahat tersebut, Oanaut memanggil anaknya dari air dan mengizinkannya masuk ke rumah Jew. Di dalam rumah Jew, warga merias buaya tersebut dengan wasa (kapur merah) dan bi (kapur putih) sambil memuji ketangkasannya dalam menangkap babi dan kasuari. Mereka berpura-pura berharap agar kelak, bukan hanya hewan, melainkan juga manusia dari kampung musuh yang menjadi sasarannya. Mendengar pujian dan harapan warga Mbait, anak buaya
Asal Mula Pohon Sagu
Cerita asal: Mbait Diceritakan oleh: Bapak Willem Wof Diterjemahkan oleh: Yufen A. Biakai, BA Di tepian Kali Powets, hiduplah seorang pria gagah perkasa bernama Biwirpits bersama istrinya yang jelita, Teweraut. Mereka hidup bersama saudara-saudaranya dalam kesederhanaan. Kala itu, mereka belum mengenal sagu; makanan sehari-hari mereka hanyalah ikan, pucuk dan buah nipah, siput, serta kepiting. Suatu hari, Biwirpits bermimpi menemukan sejenis pohon palma berduri di tengah hutan. Dalam mimpi tersebut, ia bersama istri-istrinya menebang pohon itu, menokok batangnya, mengolah sari tepungnya, dan memakannya. Rasanya sungguh enak dan lezat! Setelah terbangun, Biwirpits terus termenung memikirkan isi mimpinya. Keesokan harinya, ia mulai masuk ke hutan untuk mencari pohon impian tersebut. Biwirpits merahasiakan usahanya ini. Setiap kali pulang dari hutan, ia tidak pernah menceritakan tujuannya kepada siapa pun, termasuk kepada Teweraut yang mulai curiga dan bertanya-tanya. Karena sikapnya yang tertutup, istri-istrinya menjadi jengkel. Mereka khawatir sesuatu yang buruk menimpa suaminya, apalagi Biwirpits melarang mereka untuk ikut. Akibat ketegangan itu, Biwirpits memilih pindah ke Jew (rumah adat). Di sana, saudara-saudaranya sering mengajaknya berburu, namun ia selalu menolak hingga mereka menganggapnya pemalas. Tanpa mereka ketahui, setiap kali saudara-saudaranya pergi berburu, Biwirpits justru menyelinap ke hutan untuk mencari pohon sagu. Agar tidak ketahuan, ia selalu pulang lebih awal dan berada di Jew sebelum yang lain tiba, sehingga memberi kesan seolah-olah ia tidak pernah pergi ke mana-mana. Saudara-saudaranya sering memarahinya, mengejeknya tidak bertulang, dan mencacinya sebagai pemalas. Karena dianggap tidak berkontribusi, Biwirpits jarang mendapat bagian hasil buruan, namun ia hanya berkata: “Dor capok baman pak a” yang artinya: “Saya tak berniat memakan hasil buruanmu.” Suatu hari, saat kembali mencari di hutan, kaki Biwirpits tertusuk duri. Sesampainya di rumah, ia menggunakan taf (duri ikan kakap) untuk mencabut duri tersebut. Begitu melihat bentuk durinya, ia yakin itulah duri dari pohon yang ada dalam mimpinya. Ia membawa duri itu kembali ke hutan dan menanamnya di lumpur hulu sebuah anak sungai. Ajaib! Keesokan paginya, di tempat itu tumbuh sebatang pohon palma berduri persis seperti dalam mimpinya. Biwirpits melompat kegirangan. Ia memelihara pohon itu dengan teliti hingga berbunga tanpa diketahui siapa pun. Ketika tiba waktunya, ia mengambil bunga pohon tersebut dan memperlihatkannya kepada istri dan saudara-saudaranya. Semua orang bersuka ria dan memeluk Biwirpits dengan penuh kerinduan yang akhirnya terjawab. Biwirpits kemudian memerintahkan mereka menyiapkan peralatan sesuai mimpinya: amoses (alat penokok) dari kayu dan bambu, of (penyaring) dari nipah, serta bow ese (noken dari akar pandan). Ia secara khusus meminta dibuatkan noken yang paling besar untuk dirinya sendiri. Biwirpits lalu mengantar keluarganya ke tempat pohon itu tumbuh. Mereka menebang pohon tersebut, membersihkan durinya, mengupas kulitnya, lalu menokok dan meramas sarinya. Semua noken diisi penuh dengan tepung sagu. Namun, saat perjalanan pulang, Biwirpits tergelincir di titian kayu setapak karena beban noken yang sangat berat. Ia terperosok ke dalam lumpur hingga sebatas leher. Saudara-saudaranya berusaha sekuat tenaga untuk mengangkatnya, namun sia-sia. Dalam keadaan terjepit, Biwirpits berpesan: “Biarlah kamu pulang dahulu ke rumah.” “Ketahuilah, akan ada hari buruk nanti malam. Taruhlah belahan perahu di atas rumah.” “Bumi akan menjadi gelap. Guntur, kilat serta hujan akan melanda bumi ini semalaman.” Mereka pun pulang dengan ratapan sedih. Malam itu, terjadilah badai dahsyat seperti yang dipesankan. Keesokan harinya, saat mereka kembali ke tempat tersebut, Biwirpits sudah lenyap. Di tempat ia tertanam, kini tumbuh rimbun pohon-pohon sagu. Mereka meratapi kepergian Biwirpits yang telah berubah menjadi pohon sagu. Sejak saat itu, orang Asmat mengenal dan memakan sagu yang disebut Ambas atau Amos. Kata ini berasal dari om os, yang berarti pohon palma yang tepungnya diambil untuk dimakan. Memelihara pohon sagu dianggap sebagai bentuk penghormatan kepada Biwirpits. Ia melenyapkan dirinya demi kelangsungan hidup keluarganya; sebuah simbol pengorbanan tubuhnya sendiri menjadi sumber kehidupan bagi umat manusia Asmat.
Terjadinya Sungai Siretsj
Cerita asal: Kampung Yamasj Diceritakan oleh: Norbertus Owse Diterjemahkan oleh: Yufen A. Biakai, BA Dalam kehidupan masyarakat Asmat, setiap individu maupun kelompok sering kali mencari jati diri melalui perbedaan-perbedaan tertentu. Perbedaan tersebut, baik yang disengaja maupun tidak, akhirnya membentuk identitas unik tentang siapa mereka di tengah kesamaan yang ada. Cerita berikut merupakan versi kelompok Joerat, khususnya kampung Yamas-Yeni, mengenai asal-usul keberadaan mereka dan terbentuknya Sungai Siretsj. Konon, di masa lalu, Sungai Siretsj belum ada. Di hilir wilayah tersebut, hiduplah seorang pria bernama Wai bersama anak gadisnya yang bernama Taarot. Wai memelihara sebatang pohon sagu dengan sangat baik. Ia sering mengumpulkan daun kering dan memberi tanda pada batang pohon itu agar tidak dicuri oleh orang asing. Namun, tanpa sepengetahuan Wai, seekor ular piton hitam yang disebut Bini juga melakukan hal yang sama; ia merawat pohon tersebut secara gaib. Suatu hari, Wai kehabisan bahan makanan. Ia pergi ke hutan untuk menebang pohon sagu miliknya. Saat pohon itu mulai ditebang, terdengarlah teriakan: “Bee a.., biniaaaa.., bee a.., bini aaa….” yang berarti: “Hingga jatuh.” Suara itu berasal dari roh pohon sagu yang bernama Beorpit. Ia berteriak seolah memanggil Bini, ular piton yang telah menjaganya sejak kecil. Bini yang tinggal tidak jauh dari sana mendengar jeritan Beorpit, namun Wai tidak merasa ada yang aneh. Setelah pohon itu tumbang, Wai mengupas kulitnya dan mulai menokok sagu. Karena kelelahan, Wai tertidur di dekat pucuk pohon (cawara). Konon, Bini telah meniupkan guna-guna agar Wai tertidur sangat nyenyak. Saat itulah, Bini turun dari atas pohon beringin dan menelan Wai bulat-bulat. Di dalam perut ular raksasa itu, Wai tersadar dan terbangun. Ia berteriak: “Waduh, saya dalam keadaan gawat, sungguh mengerikan.” Dari dalam perut ular, ia memanggil anaknya, Taarot. Taarot yang mendengar suara ayahnya segera mencari sumber suara tersebut. Ia memanggil balik, dan ayahnya menjawab: “De, dor arera” yang berarti: “Mari, saya ada di sini.” Wai melanjutkan: “Ici pecak anakal” yang berarti: “Sungguh mengerikan.” Saat Taarot mendekat dan melihat raja hutan itu, ia meronta ketakutan. Wai kemudian memberikan pesan terakhir kepada putrinya: “Cabutlah penyaring sagu dan ikutlah di sampingku, jangan takut.” “Engkau tidak mungkin sanggup berhadapan sendirian dengan raksasa hutan ini.” “Pergilah, jika ada orang yang menyahut, mintalah bantuan. Barangsiapa yang berhasil membunuh binatang raksasa ini, niscaya dia akan menjadi suamimu.” Taarot menjalankan pesan ayahnya. Sepanjang jalan ia terus berseru memanggil bantuan hingga samar-samar terdengar suara sahutan. Orang-orang yang menyahut itu adalah para leluhur orang Asmat yang telah bermukim di dekat pantai, di antaranya: Jamasap, Waise, Atsjakap, Amerepakat, Ndendewakap, Ewerakap, dan Jaunakap. Dalam pertempuran itu, Waise berhasil menikam kepala ular dengan kamen (tombak). Sementara itu, Jamasap menikam ekornya dengan omocan (tombak dari pohon palma raja). Setelah ular itu mati, mereka membagi-bagikan dagingnya untuk dibakar dan dimakan. Akibat peristiwa tersebut, terjadilah air bah dahsyat yang membuat mereka terpencar ke seluruh wilayah Asmat. Catatan: Peristiwa ini terjadi di Amunpum Ciai, daerah antara Sungai Bayir menuju Kampung Atsj dan pulau di bawah Kampung Yaosakor. Dikisahkan bahwa lintasan tubuh ular piton raksasa inilah yang membentuk jalur air dari arah gunung, yang kini menjadi Sungai Siretsj.
Tuutam Dikejar Penjelmaan Roh Buaya Betina
Cerita asal: Yamas – Yeni Diceritakan oleh: Norbertus Owse Diterjemahkan oleh: Yufen A. Biakai, BA Konon, di sebuah dusun hiduplah seorang pemuda tampan bernama Tuutam. Pekerjaannya sehari-hari adalah berburu, dan ia dikenal dermawan karena selalu membagikan hasil buruannya kepada seluruh isi kampung. Ketampanan dan kebaikannya membuat banyak wanita tertarik padanya, tak terkecuali sosok roh penjelmaan buaya betina yang berusaha memikatnya. Suatu pagi, demi menunjang pekerjaannya, Tuutam pergi ke hutan untuk menebang kayu guna membuat perahu baru. Ia bekerja dengan giat tanpa sarapan terlebih dahulu. Saat sedang memotong ujung kayu tersebut, ia berhenti sejenak dan menggerutu: “Mengapa perempuan ini (istrinya) tidak menyusul saya untuk mengantar makanan.” Keluhan ini rupanya terdengar oleh roh buaya betina, yang dalam bahasa Asmat disebut ea kamor cowot. Tak lama kemudian, muncul seorang wanita yang menyerupai istri Tuutam. Ia membawa sagu bungkus, yang dalam bahasa Asmat disebut amos jimin. Setelah memberikan sagu tersebut, wanita itu segera mengajak Tuutam untuk berkencan. Namun, Tuutam merasa ada yang ganjil; ia tidak langsung memakan sagu itu, tidak pula melayani ajakan sang wanita. Tuutam menyadari bahwa perempuan di hadapannya bukanlah istrinya yang asli. Ia memperhatikan gelagat aneh: wanita itu selalu menyembunyikan bagian belakang tubuhnya agar tidak terlihat, berjalan di atas kayu seolah-olah melayang, dan ajakannya terdengar memaksa. Yakin bahwa ia sedang berhadapan dengan roh buaya betina, Tuutam terus menolak desakannya. Ia meminta wanita itu berjalan di depannya, namun sang roh menolak. Sebaliknya, Tuutam pun tidak mau berjalan di depan karena takut telinganya akan ditempeleng. Dalam kepercayaan mereka, jika roh buaya memukul telinga manusia hingga tuli, maka orang tersebut tidak akan bisa membalas atau meloloskan diri. Tuutam akhirnya mengalah untuk berjalan bersama, namun ia terus beralasan saat diajak berkencan dengan mengatakan: “tunggu dulu sampai dekat perahu.” Sesampainya di dekat serumpun pohon sagu yang tak jauh dari perahu, Tuutam meminta wanita itu menyiapkan tempat untuk mereka. Sementara itu, Tuutam sendiri turun ke perahu dan diam-diam melepas talinya sebagai persiapan untuk kabur. Setelah perahu siap, ia kembali menemui roh wanita tersebut. Saat hendak memulai kencan, Tuutam segera menyergap kedua tangan wanita itu, mengangkatnya, lalu mencampakkannya ke dalam rimbunnya pohon sagu yang berduri. Tuutam langsung berlari kencang menuju perahunya dan mendayung sekuat tenaga menuju kampung. Roh wanita itu berteriak dengan penuh amarah: “waduh, sungguh kesal aku, mengapa aku tak segera menampar telinganya. Kau tak pernah lari jauh, biarlah kau pergi dulu untuk hanya sebentar.” Dengan susah payah, roh itu keluar dari rumpun sagu dengan tubuh penuh luka tusukan duri. Setibanya di kampung, Tuutam segera memerintahkan saudara-saudaranya untuk membelah perahu-perahu lama dan menyiapkan kulit pinang (gagar). Pecahan perahu tersebut diikat rapat mengelilingi rumahnya, bahkan lantainya pun dilapisi belahan perahu baru. Pintu-pintu diikat kuat menggunakan rotan dan kulit pinang, sementara atapnya diperkuat dengan perisai yang terikat rapat agar roh tersebut tidak bisa masuk. Selama tiga bulan, Tuutam berlindung di dalam rumah bersama saudara-saudaranya yang berjaga siang dan malam. Mereka tidak ingin kakak tertua mereka dibawa ke alam baka oleh roh tersebut. Akibat terus mengurung diri, tubuh mereka menjadi kurus kering dan penuh daki. Akhirnya, penduduk kampung sepakat untuk membunuh buaya tersebut agar Tuutam bisa kembali hidup normal. Kaum pria dikerahkan untuk menebang kayu di sepanjang sungai kecil sambil menunggu air pasang. Tuutam kemudian dikeluarkan dari persembunyiannya untuk mandi di kali sebagai pancingan. Saat buaya tersebut mendekat untuk menyergap Tuutam, para tetua kampung yang sudah bersiap di tepi sungai segera menghujani buaya itu dengan tombak. Meski mencoba melawan, buaya itu akhirnya mati lemas karena banyaknya luka tikaman. Seluruh warga kampung kemudian berpesta merayakan kemenangan mereka dan memakan daging buaya tersebut. Sejak saat itu, Tuutam kembali hidup tenang seperti sediakala. Catatan: Cerita ini memberikan pelajaran bagi para pemuda agar tidak sembarangan menjalin hubungan dengan wanita asing saat bekerja atau dalam perjalanan di hutan, terutama jika tidak bersama istri. Selain itu, ditekankan pula agar jangan mudah membuat janji pertemuan di tempat terpencil dengan wanita yang tidak dikenal.
Zine #1 Pater Yan Smit OSC
FacebookTwitterLinkedInWhatsAppEmail
Sejarah Bandara Ewer-Asmat
Landasan Udara Ewer: Gerbang Baru Menuju Asmat Disusun oleh Andreas Wahyu – Asmat Archives Pada awal tahun 1950-an, Pastor Zegwaard MSC memulai karya misi Katolik di wilayah Asmat. Beberapa tahun kemudian, tepatnya pada akhir 1958, hadir pula kelompok misionaris OSC dari Amerika. Seluruh aktivitas misi ketika itu bergantung pada transportasi air, mulai dari perahu dayung hingga perahu bermotor. Secara administratif, Asmat masih menjadi bagian dari Keuskupan Merauke yang dipimpin Uskup Mgr. Herman Tillemans MSC. Dalam perjalanan waktu, para misionaris mulai menyadari perlunya membangun sebuah landasan pacu yang lebih dekat ke Agats, pusat kegiatan misi, untuk mendukung pelayanan dan mobilitas. Ewer dipilih sebagai lokasi pembangunan landasan udara karena letaknya strategis—hanya sekitar 1,5 jam perjalanan dengan perahu motor dari pusat kota Agats. Jarak ini jauh lebih dekat dibandingkan dengan Pirimapun, lokasi landasan udara lama yang beroperasi sejak 1960. Dari Agats ke Pirimapun diperlukan waktu hingga dua belas jam perjalanan. Sayangnya, pada tahun 1972, landasan udara lama itu harus ditutup setelah terkikis dan akhirnya ditelan laut. Selain lokasinya yang lebih dekat, Ewer juga memiliki keunggulan lain: tanah liat yang padat dan kokoh hanya berada 90 cm di bawah lapisan lumpur lunak. Kondisi ini dianggap ideal untuk dijadikan dasar landasan pacu. Pada tahun sebelumnya, Br. Joseph De Louw OSC mengoordinasikan pembukaan hutan seluas 300 x 600 meter sebagai persiapan. Penduduk setempat kemudian membawa tanah liat dari Sungai Pek dengan tangan mereka sendiri, menimbunnya setinggi satu meter agar lebih tinggi dari permukaan air pasang. Br. Joseph mengenang pengalamannya: “Saya membagi rencana landasan pacu menjadi seratus bagian, masing-masing sepanjang 5 meter. Setiap bagian dikerjakan dengan sistem kontrak. Saya memperkirakan berapa hari kerja yang dibutuhkan untuk mengisi satu bagian, lalu menetapkan upah harian yang layak. Kontrak hanya saya buat dengan satu orang—pria atau wanita—yang bertanggung jawab atas bagian itu, termasuk mengatur jumlah asisten dan waktu pengerjaan.” Sementara itu, Pastor David Gallus OSC, yang bertugas di Ewer, memimpin pemeliharaan landasan pacu. Ia kemudian berhasil meningkatkan kualitasnya dengan melapisi seluruh landasan menggunakan “tikar” dari batang bakau sepanjang 4 meter yang disusun ala corduroy road. Setelah ditutup dengan tanah liat, lapisan ini membuat landasan cukup kuat untuk didarati pesawat berbobot lebih besar. Selain di Ewer, misi Katolik dan Protestan juga terus membangun beberapa landasan udara baru di lokasi lain. Pastor Gallus OSC bahkan berperan sebagai penghubung Keuskupan Agats dengan AMA (Associated Mission Aviation), lembaga penerbangan misi Katolik yang berdiri sejak 1959. Pada pertengahan 1968, AMA menjadi badan hukum yang menaungi berbagai tarekat: Fransiskan (OFM), Krosier (OSC), Misionaris Hati Kudus (MSC), dan Agustinian (OSA). AMA melayani salah satu wilayah penerbangan paling menantang di dunia. Pegunungan tinggi yang membentang dari tenggara ke barat laut sepanjang 1.500 mil membelah Pulau Nugini, menghadirkan “pintu masuk” sempit menuju dataran rendah. Sebelum adanya bantuan GPS, pilot Katolik (AMA), Protestan (MAF), Advent, maupun maskapai misi lainnya kerap menghadapi risiko besar, dengan rata-rata satu hingga dua kecelakaan fatal setiap tahunnya. Landasan udara Ewer menjadi titik masuk penting bagi para misionaris OSC berikutnya ke Agats. Pada 13 September 1964, Bruder Tom Luke Benoit OSC menerbangkan pesawat Cessna 185 dari Sentani ke Ewer dalam waktu 1 jam 55 menit. Ini Adalah pendaratan pertama di Ewer. Dalam suratnya kepada Pastor Provinsial OSC di Amerika, ia menuliskan: “Saya lampirkan peta bersama surat ini agar Anda bisa memahami rute-rute penerbangan kami dan lokasi bandara yang ada. Landasan di Ewer adalah yang terbaik yang pernah saya lihat. Kali ini saya tidak mengalami masalah tenggelam. Pastor Miller bahkan sempat menancapkan tongkat besar sedalam satu meter untuk mengikat pesawat—begitu menembus kerak tanah, seolah tidak ada dasarnya. Landasan itu panjangnya 500 meter dengan lebar 8 meter. Sejauh ini, landasan ini telah membuktikan nilainya. Ada wacana untuk memperkerasnya dengan kayu ulin, tetapi hal itu masih sekadar rencana.” Sumber:New Guinea Letter No.21 My Fields Has Been the World. The Memoirs of Brother Joseph DeLouw, OSC. Pada 13 September 1964, Bruder Tom Luke Benoit OSC menerbangkan pesawat Cessna 185 dari Sentani ke Ewer dalam waktu 1 jam 55 menit.
Asmat Drums No. 30 Fall 1974
ASMAT DRUMS; The Crosiers and The Asmat PeopleContinuation of New Guinea LetterNo. 30 Fall 1974Published by Crosier Community, Agats (Rev. E. Greiwe), and the Diocese of Agats (Most Rev. A. Sowada)Editor: Rev. F. Trenkenschuh, OSC.
Asmat Drums No. 29 Spring 1974
ASMAT DRUMS; The Crosiers and The Asmat PeopleContinuation of New Guinea LetterNo. 29 Spring 1974Published by Crosier Community, Agats (Rev. E. Greiwe), and the Diocese of Agats (Most Rev. A. Sowada)Editor: Rev. F. Trenkenschuh, OSC.