Konon di Sitan hidup sekelompok manusia. Sitan berarti daerah di atas batu, yaitu daerah pegunungan. Dikatakan bahwa kelompok manusia ini mengukir patung dari batu, tetapi bentuknya tidak seperti patung Asmat yang dikenal sekarang.
Pada suatu waktu mereka mengadakan pesta ulat sagu. Selain masyarakat manusia, terdapat pula masyarakat hewan yang hidup di sekitar mereka, seperti tikus tanah, tikus kecil, kuskus, dan berbagai jenis ular.
Kedua kelompok ini hidup bermusuhan sejak tikus tanah (pirau) memasuki kampung manusia dan memakan makanan yang ditinggalkan di rumah ketika manusia sedang mengadakan pesta ulat sagu.
Penduduk kampung selalu heran siapa yang mencuri makanan mereka. Suatu hari manusia membuat rencana dan menyusun strategi untuk menangkap pencuri yang merusak kampung itu.
Semua orang pergi ke hutan untuk mengambil ulat sagu. Hanya dua orang yang tinggal di Jew untuk menjaga kampung, yaitu Osakape dan Beorpit.
Kedua orang itu telah memberitahukan kepada masyarakat bahwa apabila terdengar bunyi tifa dan terompet bambu, berarti pencuri telah tertangkap dan dibunuh. Jika mendengar bunyi tersebut, semua orang diminta segera kembali ke kampung.
Sementara kedua orang itu duduk di wair, yaitu tungku api utama di dalam Jew, terdengar suara dari luar yang mengatakan bahwa penduduk kampung itu terlalu rakus sehingga selalu meninggalkan kampung tanpa ada yang menjaga.
Mendengar suara itu Osakape dan Beorpit terdiam. Kemudian Beorpit mengintip melalui lubang dinding Jew. Ternyata yang dilihatnya bukan manusia, melainkan tikus tanah bermoncong panjang.
Osakape segera mengambil busur panah dan memanah tikus tersebut. Setelah mati, tikus itu diletakkan di tungku api utama.
Kemudian mereka memukul tifa dan meniup terompet bambu sesuai dengan kesepakatan untuk memanggil pulang penduduk kampung.
Konon tifa itu dibuat dari pohon kelapa, sedangkan terompet dibuat dari bambu yang dalam bahasa Asmat disebut wakan.
Seluruh warga kampung kembali dan bersama-sama mengadakan pesta pengayauan yang pertama. Kepala tikus tanah itu diambil dan digantungkan pada leher saudara-saudara Osakape dan Beorpit secara bergantian sebagai tanda kegembiraan dan kebanggaan.
Semua orang menari dan bergoyang semalam suntuk di dalam Jew.
Rencana Pindah Kampung
Pada malam hari Osakape dan Beorpit bersama para tetua kampung merencanakan untuk pindah ke tempat lain. Rencana ini muncul karena mereka khawatir kelompok hewan akan terus mengganggu manusia.
Selain itu, bunyi tifa dan terompet yang dimainkan sepanjang malam diyakini akan menyinggung perasaan masyarakat hewan.
Diputuskan bahwa keesokan harinya Osakape harus pergi ke hutan untuk mencari sungai, agar mereka dapat segera pindah. Sementara itu Beorpit akan memimpin masyarakat manusia jika terjadi serangan balasan dari masyarakat hewan.
Reaksi Masyarakat Hewan
Di hutan, masyarakat hewan menunggu pirau kembali. Namun tikus itu tidak pulang seperti biasanya. Mereka mulai curiga bahwa ia telah dibunuh oleh manusia.
Dua putri pirau kemudian pergi ke hutan untuk memanggil ayah mereka.
Setelah beberapa saat mereka mendengar jawaban yang samar-samar, seolah-olah itu suara ayah mereka.
Ketika dipanggil untuk kedua kalinya, jawaban itu terdengar lagi. Kedua anak pirau merasa senang.
Namun mereka mulai merasa aneh. Ketika dipanggil kembali, suara yang sebelumnya jauh tiba-tiba terdengar dekat. Ketika dipanggil lagi, suara itu tiba-tiba terdengar jauh kembali.
Hal itu terjadi berulang-ulang hingga akhirnya mereka menyadari bahwa ayah mereka telah dibunuh. Suara yang menjawab hanyalah roh atau nyawa, yang dalam bahasa Asmat disebut yuwus ipits.
Kedua putri itu meratapi ayah mereka dan kembali ke rumah.
Sesampainya di rumah, seluruh masyarakat hewan berkumpul untuk mendengar kabar dari kedua anak pirau, pemimpin mereka.
Setelah mendengar bahwa pirau telah dibunuh oleh manusia, seluruh masyarakat hewan menjadi panik. Kampung mereka menjadi ribut.
Para pemimpin berbagai jenis hewan kemudian sepakat menyatakan perang terhadap manusia.
Perang antara Manusia dan Hewan
Keesokan harinya masyarakat hewan menyerang masyarakat manusia.
Ketika berhadapan dengan Beorpit, para pemimpin hewan menanyakan di mana Osakape berada.
Dengan cerdik Beorpit menjawab bahwa Osakape sedang sakit keras.
Perang pun berkecamuk hingga sore hari. Banyak hewan dan manusia yang mati dalam pertempuran itu.
Penemuan Dunia Baru
Sementara itu Osakape, bersama anjing hitamnya, pergi berburu babi di hutan.
Akhirnya mereka berhasil memanah seekor babi. Babi itu melarikan diri dengan anak panah masih tertancap di pahanya.
Osakape dan anjingnya mengikuti jejak babi itu hingga melihat bekasnya masuk ke dalam sebuah lubang.
Lubang itu berada tepat di akar bambu (wakan) yang juga digunakan untuk membuat terompet.
Osakape kemudian memotong kayu warau (sejenis kayu damar) untuk digunakan sebagai alat menggali lubang.
Bersama anjing hitamnya ia turun ke dalam lubang tersebut dan menemukan dunia yang sama sekali baru.
Di tempat itu terdapat banyak pepohonan dan kekayaan alam.
Osakape kemudian memberi isyarat kepada anjingnya untuk naik ke atas dan mencari air atau sungai. Ia berpesan agar anjing itu menggonggong keras jika menemukan sungai.
Ternyata anjing itu menemukan sebuah sungai. Setelah mendengar gonggongannya, Osakape segera menyusul.
Ia sangat gembira menemukan tempat yang penuh dengan kekayaan alam. Di sana terdapat berbagai jenis siput, kepiting, dan ikan, serta pohon nipah, sejenis palma.
Osakape mengambil berbagai makanan itu dan membungkusnya dengan daun nipah.
Kepulangan Osakape
Ketika Osakape kembali ke kampung, Beorpit dan seluruh masyarakat menyambutnya dengan gembira.
Beorpit bertanya:
“Apakah kamu telah menemukan suatu sungai?”
Osakape menjawab:
“Belum.”
Beorpit kemudian bertanya lagi:
“Lalu benda apa saja yang terbungkus dalam daun itu?”
Osakape berkata:
“Memang benar katamu. Ada sesuatu yang saya bawa dalam bungkusan itu. Inilah berbagai jenis ikan, kepiting, dan siput yang saya bungkus dengan daun nipah sebagai bukti agar kita segera pindah ke tempat baru itu.”
Kemudian Osakape bertanya kepada Beorpit:
“Bagaimana perang melawan para hewan?”
Beorpit menjawab:
“Kami baru saja berhenti berperang melawan mereka. Para pemimpin hewan menanyakan ke mana kamu pergi. Aku menjawab bahwa kamu sakit keras semalam.”
Setelah percakapan itu, Osakape dan Beorpit merencanakan perpindahan ke tempat baru yang ditemukan Osakape.
Ketika masyarakat mencoba makanan yang dibawa Osakape, mereka muntah, karena belum pernah memakan makanan seperti itu sebelumnya. Namun setelah makan untuk kedua kalinya, mereka tidak muntah lagi.
Mereka kemudian menyadari bahwa makanan itu sangat enak. Karena itu ketika Osakape dan Beorpit mengajak mereka pindah ke tempat baru, seluruh masyarakat setuju.
Perjalanan Menuju Sungai
Keesokan harinya mereka pindah ke tempat baru yang penuh makanan.
Mereka tinggal di hulu sungai selama beberapa tahun. Karena kekurangan air, mereka kemudian pindah ke arah muara sungai.
Namun mereka tidak dapat keluar ke hilir karena terhalang oleh raksasa laut berbentuk perisai, yang dalam bahasa Asmat disebut bu cesar.
Raksasa itu memiliki kekuatan yang luar biasa.
Beberapa orang mencoba memotongnya dengan kapak batu, yaitu Osakape, Beorpit Taepta, Waitburi, Paimor, Jisesamkao, Berakape, dan Jiri.
Ketika dipotong, perisai itu terus berteriak:
“Si a saka, si a saka!”
yang berarti:
“Patahlah kau, kapak batu!”
Semua usaha itu gagal.
Akhirnya Jiri mencoba cara lain. Ia mengambil ekor anjing yang sudah menyala api di ujungnya dan menggunakannya untuk membelah perisai tersebut.
Perisai itu akhirnya pecah, dan banjir besar pun mengalir ke arah muara sungai.
Awal Perjalanan ke Daerah Asmat
Perisai itu kemudian diambil oleh Jiri dan dijadikan perahu. Kepala anjing dijadikan mesin Johnson.
Mereka menaiki perahu itu dan mengikuti arus sungai hingga tiba di dekat Sungai Weldeman, di kampung Woi sekarang.
Di tempat itu mereka berhenti untuk beristirahat dan mencari ikan.
Namun kemudian rombongan Dapi yang berkulit putih datang mengikuti jejak mereka. Mereka menggunakan perahu biasa dengan dayung dari kapak batu bintang (binam).
Ketika melihat perahu Johnson milik Jiri, rombongan Dapi mengambil perahu itu dan melarikan diri menuju muara.
Ketika Jiri dan rombongannya kembali dari mencari ikan, mereka melihat bahwa perahu Johnson mereka telah hilang.
Mereka sangat menyesal dan menangis, karena kini mereka harus mendayung perahu biasa dengan susah payah.
Sejak saat itu dikatakan bahwa Jiri tidak lagi memiliki kekuatan untuk membuat sesuatu yang luar biasa.
Mereka akhirnya tiba di daerah pantai, lalu kembali menyusuri sungai ke arah hulu dan menetap di tepi Sungai Waisare, yang terletak di dekat kampung Kaimo.
Di tempat itu mereka tinggal cukup lama.
Konon setiap hari mereka pergi berpiknik ke tempat yang disebut Amunpum Ciai.
Menurut versi kampung lain, tempat inilah yang merupakan pemukiman pertama bagi seluruh orang Asmat, sebelum para leluhur mereka menyebar ke berbagai kampung di wilayah Asmat seperti yang terlihat sekarang.






