Konon di hulu Sungai Sirets, di tengah rimba, hidup sekelompok manusia. Tempat itu dikenal dengan nama Sasembob. Mereka dipimpin oleh dua tokoh, yaitu Jokopits dan Dapi.
Jokopits adalah manusia penjelmaan dari seekor biawak raksasa, yang dalam bahasa setempat disebut jok. Sementara itu, Dapi merupakan penjelmaan dari sejenis soa-soa berwarna biru, yang dalam dialek Mbismam di daerah pantai disebut don. Kelompok Asmat lainnya menyebut hewan tersebut dengan nama oonam.
Sebagai pemimpin, Jokopits dan Dapi selalu memikirkan bagaimana cara menemukan sebuah kali atau sungai yang dapat dijadikan tempat menetap. Untuk itu mereka sering pergi berburu dengan seekor anjing hitam yang sangat tangguh.
Kelompok manusia tersebut terbagi dalam beberapa kelompok kecil, yaitu Kai, Syuru, Yepem, dan Andih. Andih kemudian menjadi kampung Atsj seperti yang dikenal sekarang.
Penemuan Sungai Sirets
Pada suatu hari Jokopits dan Dapi pergi berburu dengan membawa anjing kesayangan mereka. Tanpa disangka mereka menemukan sebuah anak sungai yang kemudian diberi nama Sirets.
Di sekitar sungai itu mereka menemukan banyak hasil alam, seperti kulit bia, siput-siputan, nipah, kepiting, serta berbagai jenis ikan yang memenuhi kolam-kolam kecil yang dalam bahasa Asmat disebut imuts.
Setelah melihat semua kekayaan alam tersebut, kedua tokoh itu kembali ke kampung. Jokopits dan Dapi kemudian memberitahukan kepada seluruh masyarakat tentang segala sesuatu yang mereka lihat.
Mendengar kabar itu, mereka merencanakan untuk membuat sebuah perahu besar yang dapat mengangkut seluruh isi kampung. Mereka juga merencanakan untuk mengadakan pesta perpisahan sebelum meninggalkan tempat tinggal lama menuju tempat yang baru.
Untuk keperluan pesta itu mereka menebang banyak pohon sagu, lalu membiarkannya membusuk agar dapat diambil ulat sagu.
Setelah perahu besar selesai dibuat, bagian depannya dihiasi ukiran anjing hitam sebagai penghargaan atas jasa anjing yang telah menuntun mereka menemukan Sungai Sirets. Setelah itu Jokopits, Dapi, dan seluruh masyarakat mengadakan pesta besar.
Pembuatan Perahu Besar
Sehari setelah pesta, seluruh warga kampung bersama-sama menarik kayu untuk membuat perahu. Selama satu minggu mereka bekerja membuat perahu tersebut.
Setelah selesai, perahu itu dibakar, lalu kedua pinggirnya digosok dengan kapur merah dan putih. Konon inilah awal mula tradisi pembuatan perahu baru dalam masyarakat Asmat.
Perahu itu kemudian diturunkan ke air untuk diuji: apakah laju dan seimbang.
Karena perahu itu dianggap cukup laju dan seimbang, mereka pun berangkat menuju muara sungai.
Pertemuan dengan Dua Ular dan Tiga Orang
Dalam perjalanan mereka bertemu dengan dua ekor ular dan tiga orang manusia.
Seekor ular piton hitam (bini) melintang di tengah sungai. Ular yang lain menggigit bagian tengah tubuh ular tersebut.
Di sebelah kiri dan kanan ular itu berdiri tiga orang.
Di sebelah kiri berdiri seseorang yang mengenakan topeng pakaian roh bernama Kakaire.
Di tengah sungai berdiri seseorang bernama Bau.
Di sebelah kanan berdiri seseorang lagi bernama Afi.
Ketiga orang itu kemudian memotong kedua ular tersebut menggunakan binam, yaitu batu tipis berpinggir bulat yang tajam seperti pisau dan memiliki lubang di tengahnya sebagai pegangan.
Pada zaman dahulu, batu yang sama juga digunakan oleh orang Asmat untuk melubangi tengkorak musuh ketika mengambil otaknya untuk dimakan.
Setelah membunuh kedua ular tersebut, ketiga orang itu menghilang tanpa jejak.
Jokopits, Dapi, dan saudara-saudara mereka kemudian melanjutkan perjalanan tanpa singgah hingga tiba di sebuah tempat bernama Amunpum Ciai.
Kampung Baru di Amunpum Ciai
Di tempat itu mereka membangun sebuah Jew yang memiliki empat tungku api, sesuai dengan jumlah orang yang mereka temui sebelumnya.
Pada suatu hari seorang perempuan bernama Tangkai pergi ke hutan bersama rombongan tersebut. Ketika kembali dari hutan, ia membawa daun kayu perahu.
Ia kemudian mengajak para lelaki untuk membuat perahu baru dan mengadakan upacara pemakaiannya. Namun usulnya tidak diterima.
Keesokan harinya Bau, orang yang sebelumnya berdiri di tengah sungai ketika memotong ular, muncul dari hutan dengan membawa daun sagu. Ia menunjukkan daun sagu itu kepada seluruh masyarakat dan mengajak mereka mengadakan pesta ulat sagu.
Usul itu diterima.
Maka mereka mulai menebang pohon-pohon sagu dan menyiapkan segala sesuatu yang diperlukan untuk pesta.
Setelah ulat sagu siap dimakan, sekitar tiga minggu kemudian, mereka mengadakan pesta selama dua hari dua malam dengan bunyi tifa yang terus terdengar siang dan malam.
Pada pagi hari ketiga mereka turun ke tepi sungai, bergoyang di atas perahu sambil menyanyikan lagu Emeri.
Setelah itu mereka mandi di sungai dan kembali masuk ke dalam Jew.
Perahu Tangkai
Ketika mereka sedang sibuk membakar sagu, kelompok Yepem, Syuru, dan Andih diam-diam membawa pergi perahu milik Tangkai.
Setelah selesai membakar sagu, Tangkai turun ke tepi sungai dan melihat bahwa perahunya telah hilang.
Ia pun menangis karena sangat sedih.
Tiga hari setelah perahu itu hilang, seseorang datang membawa kembali perahu tersebut. Orang itu bernama Binam.
Betapa senangnya hati Tangkai ketika mendapatkan kembali perahunya.
Kemudian Tangkai menikah dengan Binam, dan mereka menetap di tempat itu untuk beberapa waktu.
Terbentuknya Kampung Kaimo
Di tempat itu kemudian terbentuk sebuah kampung yang lama-kelamaan semakin besar.
Kampung itu terbagi ke dalam beberapa Jew, yaitu:
Fos
Kai
Yaosakor
Kelompok Kai kemudian dikenal sebagai Kaimo.
Dari Amunpum Ciai ini mereka kemudian terpecah karena persoalan perempuan. Kelompok Fos dan Yaosakor berpindah ke tempat lain, sementara Kai tetap tinggal di Amunpum.
Dalam perkembangan berikutnya kelompok Kai berpindah lagi hingga akhirnya menetap di tempat pemukiman mereka sekarang.






