Cerita asal: Kampung Atsj Diceritakan oleh: Michael Binkumces Diterjemahkan oleh: Yufen A. Biakai Konon pada zaman dahulu, di pertengahan Sungai Sirets, hiduplah seorang pemuda bernama Pis. Pekerjaannya sehari-hari adalah berburu, dan ia selalu berhasil dalam setiap perburuannya sehingga seluruh warga kampung senantiasa ikut menikmati hasilnya. Pada masa itu, hidup pula seorang gadis jelita bernama Bis, yang di tempat lain disebut juga Bisaut. Namanya tersohor karena kecantikannya yang luar biasa. Bis dikawinkan dengan Pis bukan karena ketampanan pemuda itu, melainkan karena keahliannya berburu agar orang tua Bis selalu mendapat jatah hasil buruan. Alasan lainnya adalah karena Pis memiliki kulit kaskadu (bersisik/penyakit kulit). Kala itu, mengawinkan gadis cantik dengan pria kaskadu dianggap wajar karena ada kepercayaan bahwa pria kaskadu jarang memukul istrinya, sehingga diharapkan Bis akan hidup bahagia dan terpelihara. Namun, harapan itu sirna. Pis justru memperlakukan Bis dengan sangat kejam. Ia mengurung Bis di dalam tapen (tikar) yang dijahit rapat dengan tali akar pandan. Bis dipaksa makan dan minum di dalam bungkusan tikar tersebut. Ia bahkan tidak pernah dibiarkan berdiri meskipun hanya untuk membuang air kecil, sehingga badannya menjadi sangat bau busuk. Pis juga menutup pintu rumahnya dengan belahan perahu bekas yang diikat rotan agar tidak dibuka orang lain. Jika melihat ada tanda pintunya dibuka, Pis akan menyiksa Bis dengan api hingga kulitnya nyaris terbakar habis. Bis menerima nasibnya dengan sabar, dan orang tuanya pun tidak berontak. Namun, masyarakat terus mendorong orang tua Bis untuk bertindak. Akhirnya, secara diam-diam, mereka merencanakan untuk menyelamatkan putri mereka. Suatu ketika, saat Pis sedang keluar, orang tua Bis mendatangi rumahnya. Di sana mereka menemui dua istri Pis yang lain, Fin dan Jak, yang nasibnya tidak semalang Bis. Orang tua Bis menyampaikan rencana mereka, dan kedua istri tersebut setuju untuk membantu karena mereka pun tidak tega melihat penderitaan Bis. Tak lama setelah orang tua Bis pergi, Pis tiba membawa lima ekor babi. Dari perahu ia memanggil Fin dan Jak: “Turun dan ambillah hasil perburuan ini!” Setibanya di rumah, Pis melihat jejak pintu yang pernah dibuka. Seketika itu juga ia memukuli Bis dan membakar tubuh istrinya dengan api. Kekejaman ini terus berulang setiap kali Pis pulang berburu. Kesempatan emas datang ketika pemimpin kampung merencanakan perang dan Pis ikut berangkat. Fin dan Jak segera membantu orang tua Bis membuka tikar yang membungkus tubuh jelita itu. Mereka membuka pintu, membawa Bis ke sungai untuk dimandikan, sementara orang kampung menyaksikan dengan ngeri bekas kekejaman Pis. Ibu Bis, bersama Fin dan Jak, menyiapkan segala perabot, jaring, dan perahu. Bis pun berangkat menuju hilir Sungai Sirets. Ia mendayung melalui jalan pintas bernama Betch wu menuju Sungai Betch. Namun, di tengah jalan perahunya kandas karena air surut. Ia terpaksa menaikkan perahunya ke darat dan berjalan kaki mengikuti arah suara terompet yang seolah memanggilnya. Dalam perjalanannya menuju Sungai Apam, Bis menangis meratapi nasibnya: “Saya belum pernah melihat seorang wanita diperlakukan seperti ini. Bagaimanakah nasibku ini?” Hujan pun turun, seolah nenek moyang ikut bersedih. Ia sempat berteduh di bawah pohon Ci sebelum melanjutkan perjalanan ke Sungai As. Dari kejauhan, ia melihat sebuah rumah di atas pohon jeer. Dengan air mata yang melambangkan akhir penderitaannya, ia mendekat dan melihat seorang ibu tua sedang membelah kayu. Ibu itu terkejut dan bertanya: “Dari mana dan siapa gerangan engkau?” Bis menjawab: “Sebutlah namamu dahulu.” Perempuan tua itu berkata: “Namaku Teweraut. Nama suamiku Botok Simit. Kami mencari kayu api.” Bis kemudian berujar: “Namaku Bis. Suamiku bernama Pis. Saya dikurung dalam tikar yang diikat rapi dengan tali akar pandan. Saya melarikan diri dan saya mencari As Beworpit sebagai calon suami yang baru.” Mendengar itu, Teweraut memeluknya dan berseru: “Aduh, saya punya anak mantu cantik.” Suaminya, Botok Simit, juga sangat gembira. Mereka menyembunyikan Bis di dalam perahu agar tidak terlihat orang lain dan membawanya pulang ke kampung saat sore hari. Di kampung, As Beworpit terus meniup terompet bambunya, tidak menyangka wanita idamannya sudah berada di rumah orang tuanya. Saat turun untuk makan, ia tertegun melihat Bis. Ayahnya memperkenalkan: “Inilah Bis yang selalu menjadi impianmu.” Beworpit seolah tidak percaya dan berkata: “Ah, bukan, itu saudaraku.” Ia kembali ke atas pohon untuk merenung, merasa orang tuanya mungkin hanya berkelakar. Karena penasaran, ia turun lagi dan bertanya langsung: “Apakah engkau sungguh Bis seperti yang dikatakan ayah ibundaku tadi?” Bis menjawab: “Benar, saya Bis.” Beworpit pun memeluk Bis dengan bahagia dan mereka naik ke rumah di atas pohon jeer. Sementara itu, Pis kembali dari perang dan memanggil istrinya: “Bis, ambil tengkorak musuh ini!” Wanita-wanita lain mengolok-oloknya: “Pis, isterimu Bis sudah pergi.” Pis seketika membanting diri ke lumpur dan meratap selama berhari-hari. Pada hari ketiga, ia mengajak Deso, saudara laki-laki Bis, untuk mencari jejak istrinya. Mereka menemukan perahu Bis yang terbalik di Betch wu, namun kehilangan jejak di tengah hutan. Pis hanya bisa meronta menyesali perbuatannya, lalu pulang dengan putus asa. Namun, Deso terus berjalan hingga menemukan rumah di atas pohon jeer. Ia melihat adiknya, Bis, turun dari pohon itu. Keduanya berpelukan sambil menangis. Bis kemudian naik kembali ke rumah pohon dan memeluk suaminya, Beworpit. Hal itu membuat Beworpit heran dan bertanya: “Apa gerangan arti semuanya ini?” Bis menjawab: “Kubuat ini demi keselamatan kakakku Deso, yang sedang berada di bawah mencari aku.” Beworpit terharu dan menjemput kakak iparnya. Deso tinggal di sana selama beberapa hari sementara keluarga Beworpit menyiapkan mas kawin yang banyak untuk dibawa pulang oleh Deso. Kabar kebahagiaan Bis pun tersebar di kampung asalnya. Mendengar Bis telah menjadi istri Beworpit, Pis menangis hingga matanya bengkak. Namun, ia belum menyerah. Ia mengajak Deso kembali untuk merebut Bis secara damai dengan membawa banyak noken penuh kampak batu sebagai tebusan. Sesampainya di sana, hati Pis hancur melihat Bis turun dari pohon jeer. Meskipun Beworpit menerima mereka dengan ramah dan bahkan rela mengembalikan Bis karena terharu melihat perjuangan Pis, keputusan akhir ada pada Bis. Beworpit bertanya kepada Bis: “Bolehkah kamu kembali kepada suamimu Pis?” Namun Bis menolak dengan tegas: “Tidak boleh.” Pis pun pulang dengan kekecewaan mendalam. Ia terus meratapi Bis hingga tubuhnya kurus kering dan akhirnya meninggal dunia. Catatan: Cerita ini memberi pelajaran bagi para pria Asmat agar memberikan perlakuan wajar serta penghargaan yang baik terhadap istri.
Kisah Punahnya Kelompok Kaimes oleh Kelompok Joerat
Cerita asal: Kampung Yamas Diceritakan oleh: Bapak N. Owse Diterjemahkan oleh: Yufen A. Biakai Dalam sejarah Asmat, peperangan di masa lalu telah menyebabkan punahnya beberapa kampung bahkan kelompok besar. Salah satu yang paling tragis adalah punahnya kelompok Kaimes, yang terdiri dari kampung Canir, Sinamer, Watep, Osar, Yaremar, Sikao, Jamau, Pis, One, Jae, Sar, dan Kaimes itu sendiri. Kelompok ini musnah di tangan kelompok Joerat—yang terdiri dari Yamas, Yeni, Yufri, Yaun, As, Atat, Nakai, Kapi, dan Ao. Konon, kelompok Joerat ini berhasil menghabisi kelompok Kaimes berkat bantuan Ucukamor. Ucu berarti pohon beringin, sedangkan Kamor berarti penjelmaan roh halus. Ucukamor adalah penjelmaan roh halus yang mendiami lubang pohon beringin; bahkan menurut kepercayaan orang Asmat, roh itu adalah roh dari pohon beringin itu sendiri. Dua tokoh bersaudara dari kelompok Joerat, yakni Butukfimar dan Karani, menjadi peletak dasar kepercayaan ini bagi orang-orang Joerat untuk memusnahkan kelompok Kaimes. Bagaimana persisnya kejadian tersebut? Butukfimar dan Karani hidup di hulu Sungai Onep, anak Sungai Asaman. Asaman sendiri merupakan anak Sungai Pi yang menghubungkan Kampung Yufri dan Pos Kecamatan Sawa Erma sekarang. Sungai Asaman ini merupakan tempat pemukiman pertama kelompok Joerat setelah mereka pindah dari Sungai Sirets, tempat pemukiman suku Asmat pada zaman dulu sebelum terpencar seperti sekarang. Pada suatu hari, Karani bersama istrinya pergi ke dusun untuk menokok sagu. Istri Butukfimar yang bernama Sipimerakat atau sering disebut Sipi juga pergi bersama mereka. Sementara itu, Butukfimar tinggal sendirian di bivak untuk mengerjakan perahu. Saat sedang mengerjakan perahu, ci fom (rimbas lengkung atau alat pengikis perahu) milik pusakanya patah. Hal ini membuat Butukfimar merasa sangat sedih. Ia bergumam: “Waduh, apa yang terjadi dengan rimbas ini? Saya tidak punya apa-apa lagi.” Butukfimar mengeluh sepanjang hari sambil mencaci dirinya sendiri. Ia bahkan menangis sambil mengisahkan asal-usul rimbas tersebut melalui pantun dan syair. Burung-burung di atas pohon beringin sekeliling bivak bersahut-sahutan, seakan ikut meratapi nasib ci fom tersebut. Dalam suasana sedih itu, tiba-tiba terdengar suara orang memanggil: “Butuk a, Butuk a.” Butukfimar melihat ke samping kiri dan kanan serta ke sekeliling bivak, namun ia tidak melihat seorang pun. Ia berdiri tertegun dan heran mendengar suara aneh itu. Ia kembali memerhatikan sekeliling, dan sekonyong-konyong suara yang sama terdengar lagi dari lubang pohon beringin. Ternyata itu adalah suara Ucukamor yang berkata: “Butuk, jangan takut, saya adalah saudara tuamu.” Butukfimar awalnya tidak berani menoleh ke arah datangnya suara aneh tersebut. Namun, Ucukamor berusaha meyakinkan serta menguatkan hati Butukfimar dengan berkata: “Butuk saudaraku, sayang, saya tak berniat jahat terhadap dirimu, sebab aku sendiri adalah kakakmu. Oleh karena itu marilah, lihatlah wajahku dan jangan takut.” Setelah mendengar kata-kata itu, barulah Butukfimar mencoba menoleh ke arah sumber suara sambil berkata: “Ah, bagaimana mungkin hal ini terjadi? Sungguh ajaib. Sekarang aku dalam cengkeraman maut.” Mendengar itu, Ucukamor tersenyum dan tertawa: “Ha, ha, ha, dormomoo, Dorootipit am oce,” yang berarti: “Ah kasihan, saudaraku sayang.” Kemudian Butukfimar bertanya lagi: “Sungguhkah kau tak akan berbuat jahat terhadap diriku?” Ucukamor menjawab: “Ah benar, saya tidak akan berbuat apa-apa atas dirimu. Saya sangat terharu atas keluhan saudara mengenai rimbas yang telah rusak tadi. Aku rela memberi kepadamu sebuah rimbas yang baru sebagai gantinya, karena bagaimanapun juga kita bersaudara.” Untuk lebih meyakinkan hati Butukfimar, Ucukamor memberikan beberapa nasihat: “Saudara boleh memakai cifom ini dengan baik, aku akan senantiasa menyertai kamu dan kelompokmu waktu perang melawan musuh.” Walaupun begitu, Butukfimar masih meragukan pesan Ucukamor. Melihat keraguan itu, Ucukamor berkata lagi: “Jika anda ke hutan, anda akan melihat seekor babi betina dalam perangkap yang telah kalian pasang. Anda dan kelompok akan senantiasa mendengar suaraku dari belakang kampung untuk memberitahukan tentang siasat apa yang harus disusun untuk menghadapi musuh. Sebagai bukti akan pernyataanku ini saudara kita Cau Epmak Sanpai (orang merah), sebagai penyelenggara dan penjaga dusun sagu akan memperlihatkan saudara bayangan beberapa kelompok yang akan dihabiskan oleh kelompokmu, yaitu kelompok Kaimes yang terdiri dari kampung-kampung Cainir, Sinameer, Watep, Yaremar, Sikao, One, Jae, Pis, Sar, Jamau, dan Kaimes sendiri. Terakhir saudara akan jatuh sakit hingga kelihatan kulit bungkus tulang. Tetapi anda akan sembuh kembali setelah menceriterakan semua peristiwa ini kepada segenap penduduk kampung dalam rumah Je.” Setelah percakapan tersebut berakhir, Ucukamor memberikan cifom baru kepada Butukfimar, lalu ia kembali masuk ke dalam lubang pohon beringin. Sepeninggal Ucukamor, Butukfimar terus memikirkan dialog yang baru saja terjadi. Ia masih meragukan pesan tersebut. Untuk membuktikan kebenarannya, ia menyembunyikan cifom itu sebelum berangkat ke dusun. Baginya, jika rimbas itu hilang, berarti seluruh ucapan itu tidak benar dan ia dalam bahaya. Namun di dusun, ia menemukan segala hal yang telah diramalkan sebelumnya. Setelah kembali, ia melihat cifom yang disembunyikannya ternyata masih ada. Kini, ia tidak lagi meragukan pesan Ucukamor. Ia pun menjalani masa sakit sebagai ujian demi mempertahankan keberadaan kampungnya. Setelah sembuh, Butukfimar mengumumkan keyakinannya kepada penduduk bahwa Ucukamor adalah roh pemberi kekuatan, sesuai pesan bahwa kelompok Joerat akan memusnahkan kelompok Kaimes. NB: Itulah sebabnya kelompok Joerat terkenal sebagai kelompok yang memusnahkan kelompok Kaimes, yang sisa-sisa keturunannya kini masih tersebar di berbagai kampung di kawasan Asmat dan Mimika.
Asal Mula Terjadinya Kampung Yipawer dan Bu-Agani
Cerita asal: Kampung Yipawer Diceritakan oleh: Bapak Tamneko Diterjemahkan oleh: Yufen A. Biakai Konon, di tepian Sungai Pomats, tepatnya di sebuah anak sungai bernama Esee yang terletak di dekat Kampung Yamas, hiduplah sebuah keluarga kecil. Keluarga tersebut terdiri dari ayah, ibu, dan seorang putra bernama Sot. Beranjak dewasa, Sot tumbuh menjadi pemuda yang sangat tampan dan pemberani. Di sana, tinggal pula seorang nenek bernama Bunai bersama mereka. Alkisah, Bunai menaruh hati pada Sot. Seluruh keluarga memang menyayangi pemuda itu, namun perasaan Bunai jauh lebih dalam; ia sangat mencintai Sot dan bertekad menjadikannya sebagai suami. Untuk mewujudkan niatnya, Bunai berpura-pura mengajak cucunya itu pergi berburu. Pada suatu hari yang cerah, saat kedua orang tua Sot pergi ke hutan untuk menokok sagu, suasana terasa sangat indah. Suara burung bersahut-sahutan, seolah mengiringi sang ayah yang sedang menyanyikan syair untuk memuji para leluhur. Di saat itulah, sang nenek mengajak Sot berburu dengan berkata, “Nenek pernah melihat sarang burung mambruk.” Sot menerima ajakan itu, dan mereka pun berangkat menuju lokasi sarang tersebut. Sesampainya di muara sungai, Sot berhenti mendayung dan bertanya, “Di mana letak sarang burung mambruk itu?” Neneknya menjawab, “Masih jauh.” Pertanyaan dan jawaban serupa terus berulang berkali-kali hingga mereka tiba di muara Sungai Pomats. Dari muara Pomats, mereka terus mendayung ke arah hulu Sungai Unir hingga akhirnya memasuki Sungai Por. Wilayah Por inilah yang sekarang dikenal sebagai Kampung Yipawer. Di sana, Bunai bertemu dengan kawan roh wanitanya, sang penguasa Sungai Por. Roh wanita itu bernama Jiwatowor, yang berarti “wanita dari lubang pohon jiwa.” Jiwa sendiri adalah sejenis pohon berwarna merah yang tumbuh di dataran tinggi dekat rawa-rawa sagu. Penduduk setempat menyebut Jiwatowor dengan nama Tojiwar. Menurut kepercayaan orang Asmat, jika ada anak yang lahir dengan kulit kemerahan, anak tersebut dianggap sebagai titisan roh yang bersemayam di dalam lubang pohon jiwa. Bagaimana nasib Sot? Pemuda itu, yang sedari awal tidak menyadari niat terselubung neneknya, akhirnya mulai mengerti. Baginya, keinginan neneknya sangat tidak masuk akal. Sot menangis sepanjang hari dan berupaya membujuk Bunai untuk pulang, namun segala usahanya sia-sia. Ia bahkan mencoba melakukan aksi mogok makan selama beberapa hari agar sang nenek mengurungkan niatnya, tetapi tetap tidak berhasil. Sebaliknya, kedua nenek itu (Bunai dan Tojiwar) terus berusaha membujuk Sot agar berhenti bersedih. Akhirnya, Sot pun menyerah; ia berhenti menangis, mulai makan kembali, dan terpaksa menjadi suami bagi Bunai dan Tojiwar. Catatan: Para penutur cerita di berbagai tempat, termasuk di Yipawer sendiri, mengisahkan bahwa penduduk Kampung Yipawer merupakan keturunan langsung dari Tojiwar, sementara penduduk Kampung Bu dan Agani adalah keturunan dari sang Bapak (Sot).
Sok Menjadi Penghuni Dasar Sungai Jii
Cerita asal: Kampung Yamas Diceritakan oleh: Bapak N. Owse Diterjemahkan oleh: Yufen A. Biakai Sok adalah seorang tokoh terpandang dari Kampung Canir, salah satu kampung kelompok Kaimes yang kini telah punah, yang dahulu terletak di hulu sungai Wumpok, anak Sungai Fai. Dalam setiap perencanaan pesta maupun perang, Sok selalu berada di barisan terdepan untuk membakar semangat seluruh warga kampung. Tak heran jika semua orang sangat menghormati dan tunduk kepadanya. Konon, pada suatu masa, masyarakat Canir sedang menyelenggarakan pesta peringatan roh orang mati yang dalam bahasa Asmat disebut Jipai atau Jipuy. Sebagaimana lazimnya, suatu hari Sok pergi ke Jew (rumah adat) sambil menghias dirinya dengan bulu burung kakatua putih, hiasan khas suku Asmat. Sok menari hula-hula Asmat seorang diri sembari berseru, “Putra-putriku dan saudara-saudaraku, Sungai Fai sungguh indah!” Ungkapan tersebut merupakan caranya memberikan semangat kepada masyarakat kampung. Di tengah keasyikannya menari dan memberi semangat, sang istri datang ke Jew dan mengajaknya ke hutan untuk memasang sero (jebakan ikan). Dengan berat hati, Sok mengambil sero tersebut lalu berangkat menuju anak Sungai Esyat yang letaknya tidak jauh dari kampung. Namun malang nasibnya, saat hendak memasang jebakan tersebut, Sok justru terjerat dan terbungkus di dalam sero-nya sendiri. Istrinya mencoba menolong, namun usahanya sia-sia. Sok hanyut ke tengah sungai, lalu sempat muncul ke permukaan bersama sero tersebut dan berpesan kepada istrinya: “Pergilah ke kampung dan beritahukan peristiwa ini kepada seluruh penduduk. Aku kini berada di tangan Ndat Jumu atau roh topeng. Sebenarnya ini salahmu, karena engkau berani mengajakku keluar dari Jew di tengah lantunan lagu suci dan di antara para Ndat Jumu.” Setelah berkata demikian, Sok hanyut terbawa arus menuju muara Sungai Jii. Di sana, Sok tenggelam selamanya dan menjadi penghuni dasar sungai. Istrinya kembali ke kampung sambil meratap hingga tiba di hadapan penduduk. Ia menceritakan kejadian tersebut kepada semua orang. Dengan perasaan sedih yang bercampur jengkel terhadap istri Sok, masyarakat berbondong-bondong menuju muara Sungai Jii. Di antara kerumunan itu, para menantu Sok merasa paling bertanggung jawab atas keselamatan mertua mereka. Mereka memotong sebatang pohon bakau (Je) yang panjang dan menancapkannya di muara sungai sebagai pemandu. Satu per satu para menantu menyelam mengikuti batang kayu tersebut, mulai dari yang termuda hingga yang tertua. Menantu yang terakhir akhirnya berhasil menemukan Sok di dasar sungai dalam keadaan yang sangat mengherankan. Mengapa demikian? Konon, kayu bakau tadi tertancap tepat di dekat sebuah rumah di dasar sungai. Di sana, Sok ditemukan sedang asyik menari di dalam rumah tersebut. Ternyata, masyarakat di dasar Sungai Jii juga sedang merayakan pesta Jipai. Meski sang menantu telah membujuknya untuk pulang, Sok tidak mampu melepaskan diri dari cengkeraman roh-roh tersebut. Akhirnya, sang menantu kembali ke permukaan dengan membawa pesan terakhir dari Sok: “Sampaikanlah kepada seluruh penduduk kampung apa yang telah kau lihat di sini. Aku akan tetap menjadi penghuni tempat ini. Dan satu hal, jangan pernah menganggap remeh Ndat Jumu.” Menantu itu naik mengikuti batang kayu hingga muncul di permukaan dalam keadaan tidak sadarkan diri. Setelah siuman beberapa menit kemudian, ia menceritakan kembali segala keajaiban yang dilihatnya serta pesan dari Sok. Setelah mendengar kisah aneh tersebut, mereka semua pulang ke kampung sambil meratapi kepergian Sok sepanjang hari. Catatan: Itulah sebabnya topeng roh dianggap sebagai benda suci yang memiliki kekuatan dan harus dihormati. Keputusan Sok untuk keluar dari Jew saat prosesi sakral dianggap tidak wajar karena mengabaikan nilai kesucian dan tidak menghormati roh-roh yang namanya disematkan pada topeng-topeng dalam pesta Jipai.
Nasib Sembilan Cucu Janseaot
Asal Cerita: Kampung Yamas Narasumber: Bapak N. Owse Penerjemah: Yufen A. Biakai Di suatu dusun, hiduplah seorang nenek bernama Janseaot bersama sembilan orang cucunya. Nama mereka berturut-turut dari yang tertua adalah: Ker, Ofopirat, Okoripit, lima orang berikutnya masing-masing bernama Beorpit, serta si bungsu perempuan bernama Ecowasiraot. Ayah dan ibu kesembilan anak ini telah meninggal dunia, sehingga mereka sering berupaya mencari nafkah sendiri. Nenek Janseaot sebenarnya sangat mencintai mereka, meskipun pada akhirnya ia berniat membunuh mereka karena sebuah kesalahan besar. Konon, nenek Janseaot secara diam-diam memelihara seekor ikan gabus (usi atau us). Ikan tersebut diikat dengan tali rotan (tem cima) dan ditambatkan pada batang nipah di pinggir sungai. Janseaot selalu memeriksanya secara sembunyi-sembunyi agar tidak terlihat oleh cucu-cucunya. Suatu hari, Janseaot pergi ke dusun sendirian untuk menokok sagu sebagai bekal makan bersama ikan gabus tersebut yang rencananya akan dipotong dua hari kemudian. Saat sang nenek pergi, Ker bersama saudara-saudaranya (kecuali Ecowasiraot) sedang memanah kolodok menggunakan jubi (apon atau apan). Tanpa sengaja, seekor kolodok hinggap di punggung ikan gabus peliharaan nenek. Mereka memanah kolodok itu hingga menembus tubuh sang ikan. Ketika ikan meronta, barulah mereka menyadari adanya ikan besar. Setelah diraba, mereka menemukan tali pada insangnya dan sadar bahwa itu adalah peliharaan nenek mereka. Meski menyadari hal itu, mereka tetap berniat memakannya sebelum nenek kembali. Mereka memasak dan memakan ikan itu dengan lahap layaknya sebuah pesta, sambil mengolok-olok si bungsu: “Kami tak perlu memberikan daging sepotong pun kepadamu karena engkau pasti akan mengkhianati kami.” Ecowasiraot menangis sepanjang hari karena merasa sedih dan takut dituduh ikut bersalah. Ia pun memeras otak dan mengambil tulang-belulang ikan itu, menyisipkannya di rambut, lalu menemui neneknya di dusun. Ia memohon sang nenek mencari kutu di kepalanya. Neneknya bertanya: “Mengapa kau tidak memohon kepada saudara-saudaramu?” Namun, karena kasih sayang, Janseaot tetap melakukannya. Betapa terkejutnya sang nenek melihat tulang ikan di rambut cucunya. Ia pun meratap dan mengutuk perbuatan cucu-cucunya. Sayangnya, Ecowasiraot yang berniat jujur tetap dianggap bersalah oleh neneknya. Pada puncak kemarahannya, Janseaot mengangkat Ecowasiraot dan membuangnya ke pelepah pohon sagu. “Kau kujadikan kodok. Eco, cobalah bersuara kara… kara…, sebab itulah suaramu sepanjang masa.” Pelarian dan Pohon Jeer yang Sakti Setelah mengutuk si bungsu, Janseaot pulang untuk membalas dendam pada cucu-cucu lelakinya, namun rumah sudah kosong. Ker bersaudara telah mengungsi. Mereka mencoba memanjat beberapa pohon kering yang berlubang, namun selalu tumbang. Akhirnya, mereka menemukan pohon Jeer (sejenis ketapang) yang tumbuh di dataran tinggi dan memiliki kekuatan misteri (cesar). Sebelum memanjat, mereka menggosok batang pohon dengan jimat (eram jini) sambil bermantra: “Kami memberi kau nama nenek moyang kami. Jika Janseaot menebangmu, berteriaklah: sia saka, sia saka! (kapak batu patahlah!). Jika ia berhasil menjatuhkanmu, meloncatlah hingga ke tengah sungai dan hanyutkanlah kami ke tempat yang layak untuk memulai kehidupan baru.” Janseaot mengejar mereka dengan membawa satu noken penuh kapak batu. Saat ia mulai menebang, terdengarlah suara “sia saka, sia saka” dari dalam pohon. Janseaot berteriak geram: “Kasihan cucu-cucuku, hendak ke mana kalian? Aku membawa satu noken penuh kapak batu untuk menghabiskan kalian!” Satu per satu kapaknya patah dan diganti, hingga akhirnya pohon itu tumbang. Namun, sebelum menyentuh tanah, pohon Jeer itu meloncat ke tengah kali sesuai permohonan Ker bersaudara. Janseaot sangat kecewa dan akhirnya hidup seorang diri dengan kekayaannya. Kampung-Kampung Wanita dan Suara Lebah Kayu Jeer itu hanyut menuju muara. Di tengah jalan, mereka melewati beberapa perkampungan yang hanya berpenduduk wanita. Ada Kokotam Cepes yang berkaki pedang namun berwajah cantik, serta Bi Jimiis Cepes yang bertubuh montok namun berhidung pesek. Setiap kali melewati kampung-kampung ini, para wanita mencoba menyergap kayu tersebut untuk dijadikan kayu api (jis). Untuk menghindar, Ker bersaudara mengeluarkan suara menirukan lebah: “Ngenggg… ngenggg…”. Karena takut disengat lebah, para wanita itu pun melepaskan kayu tersebut hingga hanyut terus sampai ke muara sungai. Kehidupan di Taar Cepes Di muara, mereka memasuki wilayah Taar Cepes (Wanita Bunga Bakung), tempat para wanita yang kecantikannya luar biasa. Kali ini, Ker bersaudara tidak mengeluarkan suara lebah karena tertarik pada kecantikan mereka. Wanita-wanita Taar Cepes pun membawa kayu itu ke tepi pantai. Bitiaot (si sulung) menyerukan agar adik-adiknya pergi ke dusun mengambil ulat sagu. Sambil berjalan mereka berteriak: “Ke dusun, dan ke tepian adalah berjalan.” Ungkapan ini mengandung makna filosofis bahwa hidup adalah perjuangan untuk menjaga keseimbangan antara darat (wasen are) dan air (bu are). Sementara para wanita pergi, Ker keluar dari kayu dan bertemu Taaraot. “Siapakah gerangan mahluk ajaib ini? Tipenya seperti manusia, sungguh ganteng.” tanya Taaraot. “Namaku Ker, aku anak sulung.” jawabnya. Keduanya saling jatuh cinta. Berdasarkan urutan umur, saudara-saudara Ker lainnya juga dipasangkan dengan para wanita Taar Cepes dan disembunyikan di dalam gulungan tikar (tapen) di dekat tungku api. Taaraot membasahi tikar-tikar itu dengan air agar tampak seolah-olah baru saja terjadi hujan lebat. Saat para wanita lain pulang dari dusun, mereka terkejut melihat tikar mereka basah dan kemudian berteriak kegirangan menemukan suami yang ganteng: “Aia dormipit akat a! (Aduh, aku punya suami ganteng!).” Hanya si bungsu Taar (Aikunaot) yang awalnya tidak mendapat pasangan karena saudaranya sengaja membiarkan Beorpit bungsu tetap di dalam kayu. Namun, akhirnya Beorpit bungsu ditemukan; ia adalah yang paling ganteng dan mahir dalam segala hal (cescu). Tragedi Sukun dan Awal Kehidupan Baru Waktu berlalu dan mereka memiliki banyak anak. Suatu hari, saat Beorpit bungsu memetik buah sukun, sebuah buah jatuh dan mengenai kepala bayinya hingga mati. Istrinya mencaci maki dengan tajam: “Kau menindih anakku hingga habis nyawanya!” Beorpit merasa sangat malu dan sedih. Ia mengajak kakak-kakaknya pindah secara diam-diam. Di tempat yang baru, mereka membangun rumah panjang. Namun, si bungsu tidak ikut membangun rumah; ia pergi ke hutan untuk mengukir patung-patung yang menyerupai istri-istri mereka. Setelah tiga hari bekerja, ia menggosokkan jimat (eram) pada patung-patung tersebut dan menabuh tifa. Ajaibnya, patung-patung itu mulai bergerak dan berubah menjadi wanita-wanita cantik. Ker dan saudara-saudaranya pun hidup kembali berbahagia seperti sediakala.
Asal Mula Pesta Emak-Cem
Asal Cerita: Kampung Yamas Narasumber: Bapak Norbertus Owse Penerjemah: Yufen A. Biakai Kelahiran dari Pohon Beringin Kisah Ufiripits, seperti halnya Fumiripits, sangat tersohor di tanah Asmat sebagai mitos asal-usul perayaan pesta Emak-cem. Peletak dasar pesta ini dikisahkan menyusuri pantai menuju wilayah Emari (Barat) demi mencari tempat kebahagiaan dan kedamaian abadi. Konon, di hulu sungai Ayip, hiduplah dua gadis di dalam lubang pohon beringin. Karena tempat tinggal mereka, keduanya disebut Ucukamoraot (Ucu: pohon beringin; Kamor: penjelmaan roh halus; Aot: wanita). Menurut legenda, mereka sering menjelma menjadi burung nuri yang terbang kian kemari di dusun sagu, berteriak di atas pepohonan seakan mencari sahutan dari manusia. Di wilayah yang sama, hiduplah seorang lelaki tua bernama Ufiripits. Suatu hari saat berburu, Ufiripits hendak memanah burung-burung nuri tersebut. Namun, burung-burung itu menghilang dan kembali ke pohon beringin untuk menunggu sang lelaki tua. Setibanya Ufiripits di sana, tanpa sepatah kata pun, kedua roh tersebut menghampiri dan masuk ke dalam tubuhnya. Kelahiran Omoraot dan Bafaraot Ufiripits seketika kemasukan roh. Tangan kanannya menjadi tak berdaya dan terasa panas. Tak lama kemudian, muncul bisul besar yang sangat menyakitkan hingga ia tidak bisa tidur. Dalam mimpinya, roh-roh itu membisikkan nama mereka dan meminta agar bisul tersebut dibelah keesokan harinya. Saat dibelah, keluarlah dua bayi kecil. Sesuai pesan di mimpi, Ufiripits menamai yang tertua Omoraot dan adiknya Bafaraot. Ia membesarkan kedua putri tersebut dengan penuh kasih sayang. Tipu Muslihat Ufiripits Setelah kedua putrinya dewasa, Ufiripits mulai merasa tertarik pada mereka. Ia pun menyusun rencana licik dengan membangun sebuah rumah di hilir sungai Ayip serta membuat jalan potong (Bes) di daratan agar lebih cepat sampai ke sana dibandingkan melalui sungai yang berliku. Ufiripits kemudian berpura-pura sakit parah. Di hadapan kedua putrinya yang sedang menangis, ia memberikan pesan terakhir: “Jika aku meninggal, buatkanlah para-para (ko) yang tidak terlalu tinggi dan bungkuslah mayatku dengan tikar (tapen) yang baik tanpa perlu mengikatnya dengan kuat. Setelah itu, pergilah kalian menyusuri sungai ini hingga menemukan sebuah rumah. Di sana kalian akan bertemu dengan ‘bapak muda’ yang wajah dan sifatnya persis denganku.” Setelah berkata demikian, Ufiripits berpura-pura mati. Saat Omoraot dan Bafaraot pergi melaksanakan pesannya, Ufiripits segera bangkit, membongkar bungkus tikarnya, lalu berlari lewat jalan potong menuju rumah di hilir. Di sana, ia menunggu kedua putrinya untuk dijadikan istri. Ketika mereka tiba sambil menangis, Ufiripits bersandiwara seolah ikut berduka atas “kematian” kakaknya. Penyesalan dan Hukuman Singkat cerita, Omoraot dan Bafaraot akhirnya menjadi istri Ufiripits. Omoraot melahirkan Kurap, dan tiga tahun kemudian Bafaraot melahirkan Sawarap. Suatu hari, saat kedua wanita itu sedang menokok sagu, alat milik Bafaraot rusak. Ia pun pulang untuk mengambil alat baru. Dari kejauhan, ia mendengar Ufiripits sedang membujuk anaknya, Sawarap, yang tengah menangis dengan berkata: “Engkau adalah anakku, sekaligus cucuku sendiri.” Mendengar rahasia itu, Bafaraot merasa sangat terhina dan malu karena telah menikahi ayahnya sendiri. Ia segera memberitahu kakaknya. Meski awalnya Omoraot ragu, kebenaran itu tak lagi terbantahkan. Mereka pun bertekad membunuh Ufiripits. Mereka membuat jebakan berupa bubu raksasa (Sasa) yang telah diolesi obat-obatan magis di muara sungai. Saat Ufiripits turun untuk mandi, ia terjebak di dalam bubu tersebut. Sebelum tenggelam selamanya menjadi raksasa laut (Cesar Pak), Ufiripits memberikan pesan terakhir agar mereka pergi ke arah Barat (Emari) menggunakan perahu yang terbuat dari batang pohon sagu. Dalam perjalanan, lahir seorang anak bernama Seos dari rahim Bafaraot. Seos adalah anak ajaib yang sudah bisa berbicara sejak dalam kandungan dan langsung mengambil alih kepemimpinan. Ia menuntun rombongan tersebut hingga tiba di Upuye dan Esamu. Keadaan dan Kehidupan di Upuye dan Esamu Sehari setelah tiba di Upuye dan Esamu, Omoraot dan Bafaraot pergi menjaring ke tengah laut. Dalam upaya tersebut, mereka berhasil mendapatkan seekor paus raksasa. Atas perintah Seos, kulit paus itu diambil untuk dijadikan atap rumah Jew, sementara tulang belakangnya digunakan sebagai tiang-tiang tungku api yang dalam bahasa Asmat disebut Jew bisip. Setelah bahan-bahan itu terkumpul, Seos berseru: “Wahai atap dan tiang-tiang, jadilah rumah Jew!” Maka terjadilah rumah itu sesuai dengan perkataannya. Keesokan harinya, Kurap dan Sawarap pergi mengambil bahan-bahan tambahan untuk mendirikan rumah pesta yang disebut Emak-cem. Nama ini berarti “Rumah Tulang” (Emak: tulang; Cem: rumah), karena separuh dari ramuan bangunannya menggunakan sisa-sisa tulang paus tersebut. Setelah Emak-cem berdiri, mereka mulai memukul tifa sepanjang malam dengan iringan terompet bambu (Fu) yang melantunkan nada biku wompa secara silih berganti. Pada pagi berikutnya, muncul seorang tua bernama Jisbermerat yang datang dari hutan membawa noken penuh berisi benda-benda jimat. Ia memberitahu Kurap dan Sawarap bahwa lagu-lagu yang mereka nyanyikan semalam belum lengkap. Jisbermerat kemudian memberikan noken jimat tersebut untuk melengkapi ritual mereka sebelum ia pergi menghilang. Namun, sebuah keanehan terjadi. Selama dua malam berturut-turut, rumah yang telah mereka bangun selalu ditemukan dalam keadaan bongkar bangkir tanpa diketahui pelakunya. Untuk mengakhiri kekacauan itu, Seos diminta berjaga pada malam ketiga. Ternyata, sosok yang selama ini merusak rumah tersebut adalah seekor biawak raksasa (Jok) yang naik dari dasar laut. Dengan kekuatannya, Seos berhasil membunuh biawak tersebut malam itu juga. Sejak saat itu, Seos menetap di dalam Rumah Tulang hingga akhir hayatnya. Jasadnya diyakini berubah menjadi tulang-tulang dan kepingan besi yang kemudian digunakan oleh masyarakat untuk membangun rumah-rumah di Upuye dan Esamu. Sebagai jejak perjalanan mereka, di setiap pantai yang pernah disinggahi Omoraot dan Bafaraot, mereka menggali sumur dan menanam ruas bambu di pinggirnya. Hingga kini, sumur-sumur tersebut tetap mengeluarkan air tawar yang segar meski letaknya sangat dekat dengan air laut yang asin.
Otapor Disambar Ular Piton (Bini) Di Sungai Pi
Cerita asal: Kampung Yeni Diceritakan oleh: Darius Faya Diterjemahkan oleh: Yufen A. Biakai Ada seorang pemuda gagah perkasa bernama Otapor. Pekerjaannya sehari-hari adalah berburu, dan sang perkasa itu selalu berhasil membawa pulang banyak hasil buruan. Namun, tanpa ia sadari, saat hendak pulang ke rumah, Otapor diincar oleh seorang gadis jelmaan ular. Ular itu bernama Baci, yang dalam bahasa Asmat digambarkan bertubuh pendek, berwarna cokelat, dan sangat berbisa. Konon, dalam cerita ini, Baci bersuamikan Bini, sang piton hitam. Bini dalam ungkapan Asmat sering disebut sebagai wasan barukipit yang berarti “raja hutan”. Sebutan ini diberikan karena di hutan Asmat memang tidak terdapat binatang buas seperti harimau atau singa. Setiap kali Otapor melewati tempat tinggal mereka, Baci selalu memperhatikannya. Hal ini memicu kecemburuan sang raja hutan. Suatu ketika, Bini menjelma dan memukul Baci. Akibat pukulan yang sangat keras itu, Baci berteriak kesakitan: “Otapor, ketahuilah bahwa Bini cemburu dengan engkau.” Teriakan tersebut terdengar oleh Otapor dari kejauhan. Otapor yang kebetulan sedang lewat secara diam-diam berkata: “Ah, kasihan, saya tidak mengenal istrimu. Kalian penghuni rimba raya ini. Lagi pula kita tak pernah saling bertemu.” Setelah berkata demikian, Otapor mempercepat langkahnya untuk pulang. Ia menyadari bahwa hidupnya sedang terancam karena suara itu berasal dari roh-roh penghuni hutan. Sejak saat itu, ia menjadi sangat berhati-hati dan selalu berburu bersama banyak teman agar sang raja hutan tidak memiliki kesempatan untuk mencelakainya. Suatu hari, Otapor kembali pergi berburu bersama teman-temannya dan mereka mendapatkan hasil yang melimpah. Kali ini, masing-masing temannya diberikan seekor hasil buruan, begitupun dengan dirinya. Otapor membawa babi bagiannya ke rumah dan berpesan kepada keluarganya agar segera mengurusnya. Karena merasa sangat lelah, ia pun tertidur dengan sisa darah babi yang masih melekat di tubuhnya. Setelah terbangun beberapa jam kemudian, Otapor langsung berjalan menuju sungai untuk mandi tanpa sempat mengusap matanya. Namun malang, saat ia menceburkan diri ke dalam air, Otapor langsung masuk ke dalam mulut Bini. Sang raja ular menangkapnya sebagai bentuk balas dendam atas tuduhan bahwa Otapor telah mengganggu istrinya, Baci. Seorang pria tua yang sempat menyaksikan Otapor turun mandi merasa heran karena pemuda itu tidak kunjung muncul ke permukaan. Ia segera memperingatkan penghuni rumah panjang di pinggir Sungai Pi untuk mengecek keadaan. Tak lama kemudian, Otapor tampak muncul di tengah sungai dan berseru: “Saudara saudara, dengarlah. Saya diambil ular yang menuduh saya mengganggu istrinya.” Melihat dan mendengar hal itu, teman-temannya segera menaiki perahu dan berusaha menolong, namun usaha mereka sia-sia. Ular raksasa itu menyelam dan membawa Otapor pergi. Konon, ular itu membawa Otapor keluar dari Sungai Pi, melewati anak Sungai Es, tembus ke Sungai Asuwets, mengikuti Sungai Jets, hingga masuk ke Sungai Sirets. Dari sana, mereka masuk ke anak Sungai Cakao. Sesampainya di tempat tinggalnya, Bini memperlihatkan Otapor kepada Baci sambil berkata: “Suamimu telah saya ambil dan aku akan menyiksanya dalam beberapa hari ini. Caranya dengan jalan menelannya perlahan lahan hingga hari ketiga sebagai hari terakhir menelan kepalanya.” Mendengar itu, Baci merasa kasihan kepada Otapor dan berusaha memberitahu pihak keluarga pemuda itu melalui mimpi. Pada hari kedua, Baci hadir sebagai putri cantik dalam mimpi ipar Otapor. Di dalam mimpi yang sama, Otapor pun hadir dan memberitahu iparnya bahwa masa hidupnya akan segera berakhir. Ia berpesan: “Jika terlambat datang ke sungai Cakao di Sirets, saya tidak akan hidup lagi, biarpun hanya dengan kepala saja.” Setelah terbangun, sang ipar menceritakan mimpi itu kepada saudara-saudaranya. Mereka segera berangkat menuju anak Sungai Cakao di Sirets. Seolah dituntun oleh putri Baci, mereka akhirnya menemukan Otapor dalam keadaan yang persis seperti di dalam mimpi. Mereka pun membunuh ular raksasa tersebut. Perut ular itu dibelah untuk mengeluarkan Otapor. Namun, karena badannya sudah mulai membusuk, bagian tubuhnya dipotong dan hanya kepalanya—yang secara ajaib masih bisa berkata-kata—yang diambil. Kepala Otapor kemudian mengisahkan seluruh perjalanan dan kejadian yang dialaminya hingga ular itu terbunuh. Rombongan ipar-iparnya sangat sedih dan meratapi kejadian itu dengan penuh haru. Setibanya di Sungai Pi, tepatnya di area Sungai Akamoman, kepala Otapor diletakkan di atas pohon beringin. Sejak saat itu, Otapor diyakini menjadi penghuni tempat tersebut. Catatan: Cerita ini memberikan peringatan tentang kewaspadaan terhadap kekuatan gaib di hutan dan bagaimana kesalahpahaman (cemburu) bisa membawa malapetaka. Selain itu, ia menjelaskan asal-usul mengapa tempat tertentu dianggap keramat.
Beres dan Sokorew Bersekutu
Cerita asal: Mbait Diceritakan oleh: Bapak Willem Wof Diterjemahkan oleh: Yufen Biakai Di sebuah kampung yang terletak di tepi Sungai Mamats, hiduplah seorang tokoh gagah perkasa bernama Beres. Istrinya bernama Mamats. Sebagai seorang Tesipits (pemimpin), Beres memiliki hubungan baik dengan para pemimpin kampung lain di kawasan Asmat. Namun, karena suatu penghinaan, Beres akhirnya bersekutu dengan Sokorew, pemimpin tersohor di kawasan Sungai As dan Bets. Kisah ini bermula pada suatu hari ketika Mamats pergi menjaring ikan di sebuah anak sungai bersama teman-teman wanitanya. Beres mengikuti rombongan itu dari belakang dengan sebuah perahu kecil. Saat sedang menjaring, kaki Mamats terkena duri ikan yang menyebabkan rasa sakit luar biasa hingga ia menjerit sepanjang hari. Dari kejauhan, Beres yang mendengar jeritan itu tersentak, lalu segera mendekat untuk mengintip. Ternyata benar, itu adalah istrinya. Tanpa menemui istrinya, Beres justru pergi mengikuti jejak perempuan-perempuan lain dalam rombongan tersebut. Ia menemui mereka secara terpisah dan menggauli mereka. Setelah itu, barulah Beres menemui Mamats yang masih mengerang kesakitan. Mamats terkejut dan sempat menyangka suaminya adalah hantu. Setelah sadar bahwa itu adalah Beres, tanpa rasa curiga ia memohon agar suaminya memanggil teman-teman wanitanya. Beres pun pergi memanggil mereka untuk pulang. Di saat itulah, Beres kembali berkencan dengan seorang wanita bernama Teweraut, bekas kekasihnya yang ia rencanakan untuk dibawa lari ke kampung lain. Pada saat yang sama, Beorpit, suami Teweraut, tiba di tempat tersebut. Wanita-wanita lain terus memanggil Teweraut, sementara Beorpit menunggu dengan hati yang tidak menentu. Kecurigaannya memuncak karena Teweraut berada sangat jauh dari perahu. Dalam kemarahan yang besar, Beorpit membunuh istrinya sendiri. Ia kemudian mencaci Beres sebagai pemimpin yang hanya mencari popularitas murahan di kalangan wanita dan menjuluki Beres sebagai cowut apom, yang berarti “perempuan betul.” Melihat pembunuhan itu dan mendengar caci maki tersebut, Beres merasa sangat malu. Ia hanya diam, namun kemarahan besar terpendam di hatinya. Setelah rombongan kembali ke kampung, Beorpit menyerang Beres dan menghancurkan perahunya. Beres tidak membalas, namun ia menyadari bahwa tindakan keras Beorpit adalah isyarat bahwa ia harus meninggalkan kampung halaman untuk mencari tempat tinggal baru. Beres pun berangkat menuju Sungai As bersama istrinya setelah menyiapkan perahu baru selama satu bulan. Mereka bermaksud bersekutu dengan Sokorew. Sepanjang perjalanan melewati muara-muara besar di Teluk Flamingo, mereka sempat dikejar oleh masyarakat sekitar. Namun, begitu mendengar bahwa yang berada di perahu adalah Beres dan Mamats, masyarakat tersebut segera meletakkan senjata mereka karena rasa hormat terhadap nama besar Beres. Setibanya di muara Sungai Bets, Beres dan Mamats meratapi sanak saudara yang mereka tinggalkan di Mamats. Sebagai tanda berkabung, mereka mandi lumpur, seolah-olah keluarga mereka telah meninggal dunia. Sebelum memasuki dunia baru, mereka mandi di muara sungai sebagai simbol melepaskan masa lalu, meski keinginan Beres untuk membalas dendam kepada Beorpit tetap membara. Beres pun pergi berburu dan berhasil mendapatkan beberapa ekor babi untuk dipersembahkan kepada Sokorew sebagai tanda persahabatan. Sokorew Menerima Beres Suami istri itu mendayung hingga mencapai As Arep (hulu Sungai As) pada tengah malam. Karena belum mengenal medan, perahu mereka menabrak panggung rumah Sokorew yang berdiri di tengah sungai. Awalnya mereka mengira telah menabrak kayu gelondongan, namun setelah melihat perahu tertambat, mereka sadar itu adalah rumah Sokorew. Sokorew yang belum tidur merasa ada orang di kolong rumahnya. Ia turun dengan berpura-pura hendak buang air kecil. Di bawah sana, ia melihat seseorang berdiri di depan perahu. Sokorew bertanya: “Siapa gerangan engkau.” Beres menyahut: “Sebutlah namamu dahulu karena saya hanya seorang tamu saja.” Sokorew menjawab: “Saya Sokorew, saya penguasa sungai As.” Lalu Beres berkata: “Saya Beres, pemilik sungai Mamats.” Keduanya pun berpelukan sebagai tanda dimulainya persahabatan. Sokorew membangunkan istri-istrinya untuk menyiapkan tempat tidur bagi tamu mereka. Sejak saat itu, Beres tinggal bersama Sokorew di As Arep dan menjadi sekutu kuat dalam menguasai kawasan Sungai As dan Bets. Sokorew Menyerbu Beorpit di Sungai Mamats Keakraban kedua pemimpin ini semakin erat hingga mereka merencanakan penyerbuan terhadap Beorpit di Sungai Mamats. Setelah strategi disusun dengan seksama, mereka berangkat menyerang. Terjadilah pertempuran hebat yang berakhir dengan kematian Beorpit di tangan Sokorew yang memanahnya. Sejak peristiwa itu, nama Sokorew semakin dijunjung tinggi oleh masyarakat di sekitar Sungai Mamats. Penduduk kampung asal Beres meratapi kematian Beorpit, namun mereka juga merasa sedih karena Beres ikut berperang melawan orang dari kampungnya sendiri, sehingga mereka merasa kehilangan sosok orang tua atau pemimpin. Catatan: Cerita ini menggambarkan bagaimana persekutuan antar-pemimpin di Asmat sering kali dipicu oleh rasa malu (sir) dan keinginan untuk memulihkan harga diri melalui bantuan kekuatan dari wilayah lain.
Asal Usul Asmat Versi Awok
Konon di Sitan hidup sekelompok manusia. Sitan berarti daerah di atas batu, yaitu daerah pegunungan. Dikatakan bahwa kelompok manusia ini mengukir patung dari batu, tetapi bentuknya tidak seperti patung Asmat yang dikenal sekarang. Pada suatu waktu mereka mengadakan pesta ulat sagu. Selain masyarakat manusia, terdapat pula masyarakat hewan yang hidup di sekitar mereka, seperti tikus tanah, tikus kecil, kuskus, dan berbagai jenis ular. Kedua kelompok ini hidup bermusuhan sejak tikus tanah (pirau) memasuki kampung manusia dan memakan makanan yang ditinggalkan di rumah ketika manusia sedang mengadakan pesta ulat sagu. Penduduk kampung selalu heran siapa yang mencuri makanan mereka. Suatu hari manusia membuat rencana dan menyusun strategi untuk menangkap pencuri yang merusak kampung itu. Semua orang pergi ke hutan untuk mengambil ulat sagu. Hanya dua orang yang tinggal di Jew untuk menjaga kampung, yaitu Osakape dan Beorpit. Kedua orang itu telah memberitahukan kepada masyarakat bahwa apabila terdengar bunyi tifa dan terompet bambu, berarti pencuri telah tertangkap dan dibunuh. Jika mendengar bunyi tersebut, semua orang diminta segera kembali ke kampung. Sementara kedua orang itu duduk di wair, yaitu tungku api utama di dalam Jew, terdengar suara dari luar yang mengatakan bahwa penduduk kampung itu terlalu rakus sehingga selalu meninggalkan kampung tanpa ada yang menjaga. Mendengar suara itu Osakape dan Beorpit terdiam. Kemudian Beorpit mengintip melalui lubang dinding Jew. Ternyata yang dilihatnya bukan manusia, melainkan tikus tanah bermoncong panjang. Osakape segera mengambil busur panah dan memanah tikus tersebut. Setelah mati, tikus itu diletakkan di tungku api utama. Kemudian mereka memukul tifa dan meniup terompet bambu sesuai dengan kesepakatan untuk memanggil pulang penduduk kampung. Konon tifa itu dibuat dari pohon kelapa, sedangkan terompet dibuat dari bambu yang dalam bahasa Asmat disebut wakan. Seluruh warga kampung kembali dan bersama-sama mengadakan pesta pengayauan yang pertama. Kepala tikus tanah itu diambil dan digantungkan pada leher saudara-saudara Osakape dan Beorpit secara bergantian sebagai tanda kegembiraan dan kebanggaan. Semua orang menari dan bergoyang semalam suntuk di dalam Jew. Rencana Pindah Kampung Pada malam hari Osakape dan Beorpit bersama para tetua kampung merencanakan untuk pindah ke tempat lain. Rencana ini muncul karena mereka khawatir kelompok hewan akan terus mengganggu manusia. Selain itu, bunyi tifa dan terompet yang dimainkan sepanjang malam diyakini akan menyinggung perasaan masyarakat hewan. Diputuskan bahwa keesokan harinya Osakape harus pergi ke hutan untuk mencari sungai, agar mereka dapat segera pindah. Sementara itu Beorpit akan memimpin masyarakat manusia jika terjadi serangan balasan dari masyarakat hewan. Reaksi Masyarakat Hewan Di hutan, masyarakat hewan menunggu pirau kembali. Namun tikus itu tidak pulang seperti biasanya. Mereka mulai curiga bahwa ia telah dibunuh oleh manusia. Dua putri pirau kemudian pergi ke hutan untuk memanggil ayah mereka. Setelah beberapa saat mereka mendengar jawaban yang samar-samar, seolah-olah itu suara ayah mereka. Ketika dipanggil untuk kedua kalinya, jawaban itu terdengar lagi. Kedua anak pirau merasa senang. Namun mereka mulai merasa aneh. Ketika dipanggil kembali, suara yang sebelumnya jauh tiba-tiba terdengar dekat. Ketika dipanggil lagi, suara itu tiba-tiba terdengar jauh kembali. Hal itu terjadi berulang-ulang hingga akhirnya mereka menyadari bahwa ayah mereka telah dibunuh. Suara yang menjawab hanyalah roh atau nyawa, yang dalam bahasa Asmat disebut yuwus ipits. Kedua putri itu meratapi ayah mereka dan kembali ke rumah. Sesampainya di rumah, seluruh masyarakat hewan berkumpul untuk mendengar kabar dari kedua anak pirau, pemimpin mereka. Setelah mendengar bahwa pirau telah dibunuh oleh manusia, seluruh masyarakat hewan menjadi panik. Kampung mereka menjadi ribut. Para pemimpin berbagai jenis hewan kemudian sepakat menyatakan perang terhadap manusia. Perang antara Manusia dan Hewan Keesokan harinya masyarakat hewan menyerang masyarakat manusia. Ketika berhadapan dengan Beorpit, para pemimpin hewan menanyakan di mana Osakape berada. Dengan cerdik Beorpit menjawab bahwa Osakape sedang sakit keras. Perang pun berkecamuk hingga sore hari. Banyak hewan dan manusia yang mati dalam pertempuran itu. Penemuan Dunia Baru Sementara itu Osakape, bersama anjing hitamnya, pergi berburu babi di hutan. Akhirnya mereka berhasil memanah seekor babi. Babi itu melarikan diri dengan anak panah masih tertancap di pahanya. Osakape dan anjingnya mengikuti jejak babi itu hingga melihat bekasnya masuk ke dalam sebuah lubang. Lubang itu berada tepat di akar bambu (wakan) yang juga digunakan untuk membuat terompet. Osakape kemudian memotong kayu warau (sejenis kayu damar) untuk digunakan sebagai alat menggali lubang. Bersama anjing hitamnya ia turun ke dalam lubang tersebut dan menemukan dunia yang sama sekali baru. Di tempat itu terdapat banyak pepohonan dan kekayaan alam. Osakape kemudian memberi isyarat kepada anjingnya untuk naik ke atas dan mencari air atau sungai. Ia berpesan agar anjing itu menggonggong keras jika menemukan sungai. Ternyata anjing itu menemukan sebuah sungai. Setelah mendengar gonggongannya, Osakape segera menyusul. Ia sangat gembira menemukan tempat yang penuh dengan kekayaan alam. Di sana terdapat berbagai jenis siput, kepiting, dan ikan, serta pohon nipah, sejenis palma. Osakape mengambil berbagai makanan itu dan membungkusnya dengan daun nipah. Kepulangan Osakape Ketika Osakape kembali ke kampung, Beorpit dan seluruh masyarakat menyambutnya dengan gembira. Beorpit bertanya: “Apakah kamu telah menemukan suatu sungai?” Osakape menjawab: “Belum.” Beorpit kemudian bertanya lagi: “Lalu benda apa saja yang terbungkus dalam daun itu?” Osakape berkata: “Memang benar katamu. Ada sesuatu yang saya bawa dalam bungkusan itu. Inilah berbagai jenis ikan, kepiting, dan siput yang saya bungkus dengan daun nipah sebagai bukti agar kita segera pindah ke tempat baru itu.” Kemudian Osakape bertanya kepada Beorpit: “Bagaimana perang melawan para hewan?” Beorpit menjawab: “Kami baru saja berhenti berperang melawan mereka. Para pemimpin hewan menanyakan ke mana kamu pergi. Aku menjawab bahwa kamu sakit keras semalam.” Setelah percakapan itu, Osakape dan Beorpit merencanakan perpindahan ke tempat baru yang ditemukan Osakape. Ketika masyarakat mencoba makanan yang dibawa Osakape, mereka muntah, karena belum pernah memakan makanan seperti itu sebelumnya. Namun setelah makan untuk kedua kalinya, mereka tidak muntah lagi. Mereka kemudian menyadari bahwa makanan itu sangat enak. Karena itu ketika Osakape dan Beorpit mengajak mereka pindah ke tempat baru, seluruh masyarakat setuju. Perjalanan Menuju Sungai Keesokan harinya mereka pindah ke tempat baru yang penuh makanan. Mereka tinggal di hulu sungai selama beberapa tahun. Karena kekurangan air, mereka kemudian pindah ke arah muara sungai. Namun mereka tidak dapat keluar ke hilir karena terhalang oleh raksasa laut
Asal Mula Orang Asmat (Versi Kaimo)
Konon di hulu Sungai Sirets, di tengah rimba, hidup sekelompok manusia. Tempat itu dikenal dengan nama Sasembob. Mereka dipimpin oleh dua tokoh, yaitu Jokopits dan Dapi. Jokopits adalah manusia penjelmaan dari seekor biawak raksasa, yang dalam bahasa setempat disebut jok. Sementara itu, Dapi merupakan penjelmaan dari sejenis soa-soa berwarna biru, yang dalam dialek Mbismam di daerah pantai disebut don. Kelompok Asmat lainnya menyebut hewan tersebut dengan nama oonam. Sebagai pemimpin, Jokopits dan Dapi selalu memikirkan bagaimana cara menemukan sebuah kali atau sungai yang dapat dijadikan tempat menetap. Untuk itu mereka sering pergi berburu dengan seekor anjing hitam yang sangat tangguh. Kelompok manusia tersebut terbagi dalam beberapa kelompok kecil, yaitu Kai, Syuru, Yepem, dan Andih. Andih kemudian menjadi kampung Atsj seperti yang dikenal sekarang. Penemuan Sungai Sirets Pada suatu hari Jokopits dan Dapi pergi berburu dengan membawa anjing kesayangan mereka. Tanpa disangka mereka menemukan sebuah anak sungai yang kemudian diberi nama Sirets. Di sekitar sungai itu mereka menemukan banyak hasil alam, seperti kulit bia, siput-siputan, nipah, kepiting, serta berbagai jenis ikan yang memenuhi kolam-kolam kecil yang dalam bahasa Asmat disebut imuts. Setelah melihat semua kekayaan alam tersebut, kedua tokoh itu kembali ke kampung. Jokopits dan Dapi kemudian memberitahukan kepada seluruh masyarakat tentang segala sesuatu yang mereka lihat. Mendengar kabar itu, mereka merencanakan untuk membuat sebuah perahu besar yang dapat mengangkut seluruh isi kampung. Mereka juga merencanakan untuk mengadakan pesta perpisahan sebelum meninggalkan tempat tinggal lama menuju tempat yang baru. Untuk keperluan pesta itu mereka menebang banyak pohon sagu, lalu membiarkannya membusuk agar dapat diambil ulat sagu. Setelah perahu besar selesai dibuat, bagian depannya dihiasi ukiran anjing hitam sebagai penghargaan atas jasa anjing yang telah menuntun mereka menemukan Sungai Sirets. Setelah itu Jokopits, Dapi, dan seluruh masyarakat mengadakan pesta besar. Pembuatan Perahu Besar Sehari setelah pesta, seluruh warga kampung bersama-sama menarik kayu untuk membuat perahu. Selama satu minggu mereka bekerja membuat perahu tersebut. Setelah selesai, perahu itu dibakar, lalu kedua pinggirnya digosok dengan kapur merah dan putih. Konon inilah awal mula tradisi pembuatan perahu baru dalam masyarakat Asmat. Perahu itu kemudian diturunkan ke air untuk diuji: apakah laju dan seimbang. Karena perahu itu dianggap cukup laju dan seimbang, mereka pun berangkat menuju muara sungai. Pertemuan dengan Dua Ular dan Tiga Orang Dalam perjalanan mereka bertemu dengan dua ekor ular dan tiga orang manusia. Seekor ular piton hitam (bini) melintang di tengah sungai. Ular yang lain menggigit bagian tengah tubuh ular tersebut. Di sebelah kiri dan kanan ular itu berdiri tiga orang. Di sebelah kiri berdiri seseorang yang mengenakan topeng pakaian roh bernama Kakaire.Di tengah sungai berdiri seseorang bernama Bau.Di sebelah kanan berdiri seseorang lagi bernama Afi. Ketiga orang itu kemudian memotong kedua ular tersebut menggunakan binam, yaitu batu tipis berpinggir bulat yang tajam seperti pisau dan memiliki lubang di tengahnya sebagai pegangan. Pada zaman dahulu, batu yang sama juga digunakan oleh orang Asmat untuk melubangi tengkorak musuh ketika mengambil otaknya untuk dimakan. Setelah membunuh kedua ular tersebut, ketiga orang itu menghilang tanpa jejak. Jokopits, Dapi, dan saudara-saudara mereka kemudian melanjutkan perjalanan tanpa singgah hingga tiba di sebuah tempat bernama Amunpum Ciai. Kampung Baru di Amunpum Ciai Di tempat itu mereka membangun sebuah Jew yang memiliki empat tungku api, sesuai dengan jumlah orang yang mereka temui sebelumnya. Pada suatu hari seorang perempuan bernama Tangkai pergi ke hutan bersama rombongan tersebut. Ketika kembali dari hutan, ia membawa daun kayu perahu. Ia kemudian mengajak para lelaki untuk membuat perahu baru dan mengadakan upacara pemakaiannya. Namun usulnya tidak diterima. Keesokan harinya Bau, orang yang sebelumnya berdiri di tengah sungai ketika memotong ular, muncul dari hutan dengan membawa daun sagu. Ia menunjukkan daun sagu itu kepada seluruh masyarakat dan mengajak mereka mengadakan pesta ulat sagu. Usul itu diterima. Maka mereka mulai menebang pohon-pohon sagu dan menyiapkan segala sesuatu yang diperlukan untuk pesta. Setelah ulat sagu siap dimakan, sekitar tiga minggu kemudian, mereka mengadakan pesta selama dua hari dua malam dengan bunyi tifa yang terus terdengar siang dan malam. Pada pagi hari ketiga mereka turun ke tepi sungai, bergoyang di atas perahu sambil menyanyikan lagu Emeri. Setelah itu mereka mandi di sungai dan kembali masuk ke dalam Jew. Perahu Tangkai Ketika mereka sedang sibuk membakar sagu, kelompok Yepem, Syuru, dan Andih diam-diam membawa pergi perahu milik Tangkai. Setelah selesai membakar sagu, Tangkai turun ke tepi sungai dan melihat bahwa perahunya telah hilang. Ia pun menangis karena sangat sedih. Tiga hari setelah perahu itu hilang, seseorang datang membawa kembali perahu tersebut. Orang itu bernama Binam. Betapa senangnya hati Tangkai ketika mendapatkan kembali perahunya. Kemudian Tangkai menikah dengan Binam, dan mereka menetap di tempat itu untuk beberapa waktu. Terbentuknya Kampung Kaimo Di tempat itu kemudian terbentuk sebuah kampung yang lama-kelamaan semakin besar. Kampung itu terbagi ke dalam beberapa Jew, yaitu: Fos Kai Yaosakor Kelompok Kai kemudian dikenal sebagai Kaimo. Dari Amunpum Ciai ini mereka kemudian terpecah karena persoalan perempuan. Kelompok Fos dan Yaosakor berpindah ke tempat lain, sementara Kai tetap tinggal di Amunpum. Dalam perkembangan berikutnya kelompok Kai berpindah lagi hingga akhirnya menetap di tempat pemukiman mereka sekarang.