Edit Template

Tafo yang Mati Lalu Hidup Kembali

Cerita asal: Kampung Yamas

Diceritakan oleh: Bapak Norbertus Owso

Diterjemahkan oleh: Yufen A. Biakai, BA

Suatu malam, pemimpin kampung yang lazim disebut kepala perang mengumumkan rencana penyerangan terhadap musuh. Selesai pengumuman tersebut, Tafo menjadi orang pertama yang memekikkan sorak khas Asmat dengan berseru: “Aunh, wuaaaaa, aikum tii a aa, ses akat des aare a, to jiia baumasom.” yang berarti: “Saudara-saudara, anak-anak, istirahatlah baik-baik, besok kita harus membasmi musuh.” Seluruh penduduk pun ikut bertempik sorak, menambah semarak suasana kampung malam itu.

Keesokan harinya, seluruh laki-laki di kampung berangkat ke medan perang. Saat berhadapan dengan lawan, pecahlah pertempuran yang sangat sengit. Tafo berada di barisan paling depan untuk menyerang, namun malang, ia tewas terkena serangan balasan musuh. Seketika itu juga, jagat raya seolah tertutup kabut kelam; guntur dan kilat sambar-menyambar, seakan-akan turun untuk menjemput nyawa Tafo. Pertempuran itu memakan banyak korban jiwa dari kedua belah pihak.

Setelah peperangan dihentikan oleh para pemimpin masing-masing, perahu-perahu pun mulai bergerak pulang. Di pihak kampung Tafo, suasana diselimuti kesedihan mendalam karena mereka kehilangan pemimpin muda yang sangat gagah berani. Kabar tentang kematian Tafo pun tersebar dengan cepat hingga ke kampung halamannya. Namun, sebuah kejadian aneh menanti mereka.

Saat iring-iringan perahu pembawa hasil perang mendekati kampung dengan tiupan terompet bambu, tiba-tiba terdengar suara tabuhan tifa dari rumah Jew (pusat kegiatan adat). Orang-orang tercengang saat melihat Tafo-lah yang sedang memukul tifa sembari menyanyi dan menari, seolah sedang menyambut kemenangan perang. Kepanikan dan ketakutan melanda warga karena mereka tahu Tafo sudah meninggal. Mereka bertanya-tanya:

“Dia sudah mati, tetapi mengapa dia pukul tifa lagi, menyanyi sambil menari?”

Suasana kampung menjadi penuh keanehan karena peristiwa seperti itu belum pernah terjadi sebelumnya. Setibanya rombongan perang di darat, kepala perang segera mengumumkan hasil perolehan mereka kepada para wanita dan orang tua. Ketika nama Tafo disebut dalam daftar pejuang yang gugur, seorang ibu tua berteriak:

“Ah, Tafo masih hidup! Dialah yang membawa berita kemenangan dan memukul tifa, menyanyi dan menari. Dia pula yang menyemarakkan suasana kampung seperti yang anda sekalian saksikan sekarang.”

Di tengah keheranan penduduk, Tafo berkata dengan suara lantang:

“Anak-anak dan saudara-saudari, mari ikutlah jejakku ini. Yang saudara-saudara bawa adalah batang kayu. Buang saja batang kayu itu. Saya tidak mati. Saya manusia sesungguhnya yang telah hidup kembali. Saya bukan spok atau hantu seperti yang anda duga. Saya sungguh-sungguh manusia sejati. Mari, saudara-saudaraku, ikutilah jalan yang saya rintis ini. Manusia setelah mati harus bangkit kembali menjadi manusia sejati.”

Setelah ia berkata demikian, alam kembali bereaksi dengan kabut kelam serta gemuruh guntur dan kilat. Bagi orang Asmat, tanda-tanda alam tersebut menandakan adanya perubahan dahsyat dalam pengalaman hidup. Semua orang terdiam terpaku mendengarkan perkataan Tafo. Setelah cuaca kembali tenang, Tafo kembali mengumumkan bahwa inilah jalan baru yang benar agar semua orang bisa bangkit kembali setelah mati.

Namun, banyak orang yang tetap tidak mau menerima kenyataan tersebut. Untuk membuktikan bahwa ia benar-benar hidup seperti sediakala, Tafo menawarkan diri untuk tinggal kembali di rumah saudara-saudaranya. Sayangnya, mereka tetap menolaknya karena ketakutan. Tafo kemudian mencoba pindah ke kampung lain, tetapi di sana pun ia ditolak karena berita kematiannya dalam perang sudah tersebar luas.

Akhirnya, Tafo pergi mengembara masuk ke dalam hutan belantara dan hidup seorang diri. Konon, ia terus hidup di sana dan tidak pernah mati.


 

Asmat Archives

Asmat Cultural Archives and Research Center adalah lembaga independen di bawah naungan Ordo Salib Suci, yang didedikasikan untuk melestarikan, mendokumentasikan, dan memanfaatkan arsip yang berkaitan dengan sejarah dan budaya masyarakat Asmat.

Articles

Asmat Terei & Ji Atakam

Asmat Cultural Archives and Research Center

“Reconnecting the Asmat with Their Own Archives and Knowledge”

Newsletter

You have been successfully Subscribed! Ops! Something went wrong, please try again.

Get in touch

Copyright © 2026 Asmat Cultural Archives and Research Center

You cannot copy content of this page