Ceritera asal: Mbait
Diceriterakan oleh: Bapak Willem Wof
Diterjemahkan oleh: Yufen A. Biakai,BA
Cerita Bagian 1
Ceritera asal: Mbait
Diceriterakan oleh: Bapak Willem Wof
Diterjemahkan oleh: Yufen A. Biakai,BA
Asal-usul As Teweraut
Di hulu Kali As terdapat sebuah kampung kecil. Pemimpin kampung itu bernama Binukpit. Dari perkawinannya dengan seorang perempuan bernama Teweraut, mereka memiliki beberapa anak laki-laki dan seorang anak perempuan. Anak perempuan itu juga diberi nama Teweraut.
Teweraut kemudian dikawinkan dengan seorang pemuda tampan bernama Beorpit. Dalam penulisan selanjutnya ia akan disebut As Beorpit, yang berarti Beorpit dari Kali As.
Dari perkawinan As Beorpit dan Teweraut lahirlah seorang anak perempuan yang juga diberi nama Teweraut. Dalam cerita ini ia akan disebut As Teweraut, yang berarti Teweraut dari Kali As.
Kecantikan As Teweraut tersohor di seluruh wilayah Asmat. Banyak pemuda ingin mempersuntingnya. Salah seorang pemuda tampan dari wilayah Fayit juga berusaha mendapatkannya. Pemuda itu bernama Beorpit, yang dalam cerita ini akan disebut Safan Beorpit, artinya Beorpit dari Safan.
Penjodohan As Teweraut dengan Safan Beorpit
Konon pada suatu hari, Binukpit, kakek As Teweraut, membuang kotoran besar di atas akar sebuah kayu gelondongan. Kayu itu kemudian hanyut terbawa arus hingga terdampar di muara Kali Fayit.
Di tempat itu burung-burung datang mengerumuni kotoran tersebut.
Keesokan harinya Safan Beorpit pergi ke pantai bersama teman-temannya untuk mencari ikan. Ketika melihat kerumunan burung itu, ia tergerak untuk memanahnya. Namun ketika hendak memanah, burung-burung tersebut tiba-tiba beterbangan ke segala penjuru untuk menghindari bahaya.
Safan Beorpit bersama teman-temannya kemudian mendekat dan menyandarkan perahu mereka pada kayu gelondongan itu. Di atas akar kayu tersebut ia melihat tumpukan kotoran manusia.
Ia tertegun sejenak. Ingatannya kembali pada mimpi yang dialaminya malam sebelumnya.
Setelah teringat isi mimpinya, Safan Beorpit tanpa ragu mengambil gumpalan kotoran manusia itu. Ia yakin bahwa kotoran tersebut berasal dari Binukpit, sebagaimana yang ia lihat dalam mimpinya.
Peristiwa ini disaksikan oleh teman-temannya. Mereka merasa heran dan bingung melihat sikap Safan Beorpit.
Melihat kebingungan mereka, Safan Beorpit menjelaskan bahwa kotoran itu milik Binukpit, kakek dari gadis jelita As Teweraut, sebagaimana yang ia lihat dalam mimpinya semalam.
Ia juga menceritakan bahwa dalam mimpi yang sama ia dijodohkan dengan As Teweraut. Perjodohan itu akan terjadi setelah keluarga gadis tersebut mengetahui bahwa ia telah mengambil dan menyimpan kotoran kakeknya dalam sebuah noken baru.
Noken Berhias
Sesampainya di kampung, Safan Beorpit memohon kepada ibunya agar dibuatkan sebuah noken baru yang dihiasi bulu-bulu burung kakatua putih dan burung nuri.
Keesokan harinya ibunya mulai menganyam noken sesuai keinginan anaknya.
Setelah noken itu selesai, Safan Beorpit mengambil kotoran Binukpit dan memasukkannya ke dalam noken berhias tersebut. Noken itu kemudian digantung di dekat tempat tidurnya di Jew.
Berita tentang peristiwa ini segera tersebar ke seluruh wilayah Asmat, termasuk ke keluarga besar Binukpit di hulu Kali As yang dalam peta Asmat disebut Kali Asuwe.
Ketika mendengar kabar itu, seluruh keluarga besar Binukpit merasa sangat terharu dan kasihan atas sikap Safan Beorpit. Bagi mereka tidak ada benda yang cukup berharga untuk membalas ketulusan hatinya.
Satu-satunya hal yang dapat mereka berikan hanyalah seorang gadis dari keluarga mereka.
Namun Binukpit menjadi bingung. Ia tidak memiliki anak perempuan yang sesuai aturan adat untuk dijodohkan dengan Safan Beorpit. Yang ada hanyalah cucunya, As Teweraut. Tetapi menurut adat, yang dapat diberikan adalah anak perempuan, bukan cucu.
Semua anggota keluarga besar pun ikut bingung.
Keputusan As Beorpit
Dalam kebingungan itu, As Beorpit merasa turut bertanggung jawab terhadap ayah mertuanya, Binukpit.
Walaupun tidak sepenuhnya sesuai dengan adat, ia berani mengambil keputusan: menjodohkan anaknya, As Teweraut, dengan Safan Beorpit.
Niat itu ia sampaikan kepada isterinya. Baginya akan sangat disayangkan jika sikap dan perbuatan Safan Beorpit tidak segera dibalas dengan penghormatan yang setimpal.
Ia menyadari bahwa jika tidak ada balasan, hal itu bisa mendatangkan musibah bagi ayah mertuanya.
Setidaknya seluruh keluarga mereka dapat terseret dalam permainan politik yang disebut “main baku tipu”—saling menipu dan memperdaya.
Selain itu, jika tidak ada balasan, kampung Binukpit dapat diserang. Safan Beorpit dikenal sebagai pejuang yang tangguh, jauh lebih kuat dibandingkan keluarga besar Binukpit di As Arep—sebutan bagi hulu Kali As dalam bahasa setempat.
Bahaya lainnya, kotoran Binukpit dapat dijadikan obat atau guna-guna (arau) yang dapat menyebabkan kematian.
Karena itu As Beorpit mengambil keputusan secara diam-diam. Bahkan sebagian keluarga besar tidak mengetahui niatnya, meskipun menurut adat wewenang penjodohan sebenarnya berada di tangan para iparnya.
Cerita Bagian 2
Persiapan Perkawinan As Teweraut
Walaupun telah mengambil keputusan menjodohkan anaknya, As Beorpit tidak segera memberitahukan rencananya kepada keluarga besar. Ia hanya menyampaikan niat tersebut kepada isterinya.
Pada suatu hari As Beorpit sedang membuat gagang kampak batu yang dalam bahasa Asmat disebut siwin. Karena tidak memiliki alat ukir, ia meminta isterinya, Teweraut, meminjam pahat dari saudara-saudaranya.
Namun permintaan itu ditolak. Saudara-saudaranya bahkan berkata dengan kasar:
“Cukup kau beri alat kelaminmu sebagai alat mengukir.”
Mendengar kata-kata itu Teweraut sangat marah. Ia segera pulang dan menceritakan semua sikap serta perkataan saudara-saudaranya kepada suaminya.
Mendengar hal itu As Beorpit merasa sangat malu sekaligus marah. Sejak saat itu ia memutuskan mengambil alih seluruh wewenang dan tanggung jawab penjodohan dari para iparnya.
Ia bertekad sendiri yang akan mengatur pernikahan antara As Teweraut dan Safan Beorpit.
Persiapan Perhiasan untuk As Teweraut
Untuk melaksanakan rencananya, As Beorpit bersama isterinya pergi ke hutan mengumpulkan berbagai bahan untuk menghias anak mereka.
Mereka mengambil daun sagu muda untuk membuat cawat baru. Dari rotan mereka membuat gelang kaki, gelang tangan, dan kalung.
Setelah semua bahan terkumpul, As Beorpit mengambil pucuk sagu dan ulat sagu, lalu membungkusnya dengan rapi. Makanan itu kemudian diberikan kepada As Teweraut sebagai tanda bahwa ia akan menyampaikan suatu hal penting.
Setelah makan, As Beorpit berkata kepada anaknya bahwa ia akan dijodohkan dengan Safan Beorpit dari Fayit.
Mendengar hal itu As Teweraut menyambutnya dengan senang hati. Walaupun ia belum pernah bertemu dengan Safan Beorpit, bagi dirinya pemuda itu telah menjadi idaman hatinya.
Dengan penuh kasih sayang, ayah dan ibunya menghiasi tubuh As Teweraut dengan semua atribut yang telah mereka siapkan.
Setelah itu mereka pergi menemui Binukpit untuk memberitahukan niat tersebut.
Binukpit Terharu
Ketika mendengar keputusan itu, Binukpit sangat terharu melihat sikap As Beorpit, menantunya.
Ia merasa sangat berterima kasih karena menantunya telah berani membalas sikap Safan Beorpit yang menyimpan kotorannya di dalam noken berhias.
Malam itu juga As Beorpit dan isterinya membawa As Teweraut berangkat menuju Kali Fayit, tempat asal Safan Beorpit. Mereka mendayung perahu sepanjang malam hingga tiba di daerah yang kini dikenal sebagai kampung Basiem.
Kedatangan di Fayit
Keesokan paginya penduduk kampung Fayit melihat mereka dan bertanya-tanya.
“Siapa gerangan yang datang dengan membawa gadis jelita?”
Pemimpin kampung memberi izin kepada As Beorpit untuk menjelaskan maksud kedatangannya.
As Beorpit kemudian berkata bahwa ia datang membawa anaknya As Teweraut untuk dikawinkan dengan Safan Beorpit, yang sampai saat itu masih menyimpan kotoran Binukpit dalam noken berhias.
Mendengar penjelasan itu seluruh penduduk merasa sangat terharu.
Mereka berkata:
“Ao saonakoo !!”
Yang berarti:
“Kasihan sekali.”
Pembuktian Safan Beorpit
Setelah itu orang tua Safan Beorpit pergi ke Jew untuk memanggilnya.
Safan Beorpit datang dengan membawa noken berhias yang selama ini digantung di dekat tempat tidurnya. Di dalam rumah ia menunjukkan isi noken tersebut kepada As Beorpit sebagai bukti bahwa ia benar-benar menyimpan kotoran kakek Binukpit.
Melihat hal itu As Beorpit juga sangat terharu.
Pada sore hari itu juga As Teweraut langsung dikawinkan dengan Safan Beorpit.
Keluarga Safan Beorpit menerima As Teweraut dengan penuh kegembiraan.
Balasan dari Keluarga Fayit
Keesokan harinya keluarga Safan Beorpit pergi ke hutan untuk mengumpulkan berbagai bahan makanan sebagai balasan kepada As Beorpit dan isterinya.
Selama hampir seminggu mereka mengumpulkan berbagai makanan seperti:
sagu
buah kelapa
kepiting
siput
buah sukun
Setelah semuanya terkumpul, As Beorpit dan isterinya kembali ke kampung mereka di As Arep, di hulu Sungai As.
Selain membawa banyak bahan makanan, mereka juga menerima beberapa mas kawin, yaitu:
kampak batu (si)
gigi anjing (juur sis)
busur panah (amon ces)
kulit kerang besar (pirikaor)
Setibanya di hulu Sungai As mereka disambut oleh Binukpit dengan penuh kegembiraan.
Sejak saat perkawinan itu, keluarga Binukpit di As Arep dan keluarga Safan Beorpit di Fayit tidak pernah lagi saling mengunjungi.
Cerita Bagian 3
Kehidupan di Fayit
Dari perkawinan Safan Beorpit dan As Teweraut lahirlah dua orang anak. Anak pertama adalah seorang perempuan bernama Wakanaut, sedangkan anak kedua adalah seorang laki-laki bernama Sokorew.
Kedua anak ini tumbuh menjadi anak-anak yang kuat dan rupawan. Wakanaut dikenal sebagai gadis yang cantik, sedangkan Sokorew menjadi pemuda yang gagah di antara teman-teman sebayanya di Fayit.
Pada suatu hari As Teweraut pergi ke laut bersama teman-temannya untuk mencari ikan. Sementara itu Safan Beorpit pergi ke dusun bersama beberapa orang hendak berburu.
Wakanaut dan Sokorew tinggal di rumah.
Seperti biasanya Wakanaut pergi menimba air dari rawa sagu dengan menggunakan tempurung kelapa. Air itu ia siapkan khusus untuk ayahnya.
Ketika Safan Beorpit pulang, ia melihat bahwa air yang disediakan itu tidak penuh. Ia berkata kepada anaknya:
“Wakanaut, air tak penuh dan bapa masih haus; bapa ingin minum lagi.”
Mendengar keluhan ayahnya, Wakanaut sadar bahwa air yang telah ia siapkan sebelumnya telah diminum oleh adiknya, Sokorew.
Karena takut dimarahi ayahnya, Wakanaut berkata bahwa air yang disiapkan penuh untuk ayahnya telah diminum oleh Sokorew.
Mendengar hal itu Safan Beorpit menjadi sangat marah. Dalam kemarahannya ia memaki Sokorew dengan kata-kata yang sangat menyakitkan bagi anak-anaknya maupun bagi isterinya.
Ia berkata bahwa jika Sokorew ingin minum air yang banyak dan baik, maka sebaiknya ia pergi saja ke Kali As Arep, tempat tinggal leluhur mereka, Binukpit.
Sokorew Meninggalkan Rumah
Kata-kata ayahnya membuat Sokorew sangat malu dan tersinggung.
Karena itu ia pergi ke Jew dan tidak mau kembali ke rumah.
Menjelang sore hari ibunya, As Teweraut, pulang dari mencari ikan di pantai. Ia memanggil Sokorew untuk makan, tetapi Sokorew tidak juga datang.
Keesokan harinya Sokorew pergi mandi ke Kali Fayit bersama teman-temannya. Pada saat itulah seorang gadis jatuh hati kepadanya.
Gadis itu bernama Teweraut.
Sokorew kemudian mengajak gadis itu berkencan.
Setelah pertemuan mereka, gadis itu berkata kepada Sokorew:
“Belum pernah orang Fayit meniduri saya, kau turunan orang As Arep bisa meniduriku.”
Kata-kata itu sebenarnya merupakan pujian bagi Sokorew. Gadis itu mengagumi kegagahan Sokorew dan berharap suatu hari nanti ia menjadi suaminya.
Namun bagi Sokorew, kata-kata itu terasa seperti caci maki yang kedua kalinya setelah hinaan dari ayahnya.
Peristiwa itu semakin memperkuat niat Sokorew untuk meninggalkan Fayit dan pergi ke tempat asal leluhurnya di As Arep.
Kepergian Sokorew
Keesokan paginya Sokorew berangkat dengan perahu kecil menuju hulu Kali Fayit.
Ia tidak memberitahukan rencananya kepada siapa pun, bahkan kepada ibunya maupun kepada kakaknya, Wakanaut.
Ketika ia mendayung perlahan menuju hulu sungai, gadis Teweraut yang ditemuinya kemarin melihatnya dari ujung kampung. Ia segera turun ke tepi sungai dan memanggil Sokorew karena ingin ikut bersamanya.
Namun Sokorew tidak menjawab panggilan itu. Ia terus mendayung dan meninggalkan gadis tersebut.
Akhirnya ia tiba di hulu Kali Fayit.
Persembahan untuk Leluhur
Di tempat itu Sokorew mulai membuat rintisan jalan menuju As Arep.
Ia membawa beberapa kampak batu dan menebang beberapa jenis pohon, antara lain:
ci (kayu perahu)
bacam (pohon damar)
param (sejenis damar)
Setiap kali menebang pohon, Sokorew meletakkan pirikaor (kulit kerang besar) di atas batang kayu tersebut sebagai persembahan kepada para leluhur.
Persembahan itu bertujuan agar para leluhur memperpendek perjalanan yang harus ia tempuh.
Selain pirikaor, setiap malam Sokorew juga mempersembahkan seekor babi di tempat ia bermalam.
Ia juga menggali sumur kecil agar para leluhur dapat minum setelah makan daging babi yang disiapkannya.
Semua persembahan itu ditempatkan di dalam bivak (gubuk kecil) yang ia dirikan setiap kali berhenti untuk bermalam.
Konon Sokorew sendiri tidak pernah memakan daging babi tersebut. Semua makanan itu disediakan semata-mata untuk para leluhur yang menuntunnya dalam perjalanan.
Wakanaut Menyusul
Sementara itu di Fayit, Wakanaut bangun pagi dan segera pergi ke tepi sungai untuk melihat apakah perahu kecil milik Sokorew masih tertambat di sana.
Ternyata perahu itu sudah tidak ada.
Wakanaut langsung teringat pada mimpi yang dialaminya semalam, bahwa Sokorew akan pergi menuju hulu Fayit.
Karena itu Wakanaut segera mengambil perahu lain dan berangkat menyusul adiknya.
Ketika ia melewati kampung, gadis Teweraut memanggilnya dan berkata:
“Hei Wakanaut, saya sudah pernah berkencan dengan adikmu. Kemarin saya hendak mengikutinya, tetapi dia tak menerima tawaranku. Jika boleh aku hendak mengikutimu dan kelak akan menjadikan adikmu sebagai suamiku, karena dialah orang pertama dan yang terakhir menodai diriku.”
Mendengar kata-kata itu Wakanaut merasa terharu.
Ia kemudian mengizinkan gadis tersebut ikut bersamanya.
Mengikuti Jejak Sokorew
Kedua gadis itu bersama-sama mendayung menuju hulu Fayit mengikuti jejak Sokorew.
Di hulu sungai mereka menemukan perahu Sokorew yang ditinggalkan dalam keadaan terbalik.
Mereka juga melihat berbagai tanda perjalanan Sokorew, seperti persembahan pirikaor di atas kayu-kayu yang ditebang.
Selama beberapa hari mereka terus mengikuti jejaknya.
Jika hari mulai gelap mereka bermalam di bivak yang dibuat Sokorew.
Daging babi yang disiapkan di para-para tidak pernah mereka makan. Mereka hanya minum air dari sumur kecil yang digali Sokorew.
Sepanjang perjalanan gadis Teweraut semakin merindukan Sokorew. Baginya Sokorew adalah pria yang sangat ia dambakan.
Setiap kali menemukan bivak yang penuh dengan daging babi, ia memeluk Wakanaut sebagai ungkapan kegembiraan dan kerinduannya kepada Sokorew.
Cerita Bagian 4
Sokorew Membunuh Teweraut
Setelah beberapa hari mengikuti jejak Sokorew, akhirnya Wakanaut dan Teweraut berhasil menemukan tempat di mana Sokorew berada.
Ketika melihat kakaknya, Sokorew segera memeluk Wakanaut sebagai tanda kasih sayangnya kepada kakaknya, sekaligus kepada ibunya, As Teweraut, yang telah ia tinggalkan di Fayit.
Namun setelah melepaskan pelukan itu, Sokorew berpura-pura memeluk Teweraut. Dalam pelukan tersebut ia tiba-tiba mencekik leher gadis itu hingga meninggal dunia.
Wakanaut berteriak ketakutan dan memohon kepada adiknya agar melepaskan Teweraut. Tetapi Sokorew tidak menghiraukan permintaan kakaknya.
Setelah membunuh Teweraut, Sokorew menjelaskan kepada Wakanaut bahwa gadis itu telah memakinya, sama seperti ayahnya dahulu.
Wakanaut akhirnya mengerti dan memahami perasaan adiknya.
Persahabatan dengan Sow Beorpit
Setelah kejadian itu mereka beristirahat sejenak untuk melepaskan lelah.
Pada saat mereka sedang beristirahat, seorang lelaki gagah keluar dari semak belukar. Ia baru saja selesai berburu dan hendak pulang ke rumah.
Namanya Sow Beorpit.
Mereka kemudian saling menggosok ampas sagu yang dibawa oleh Sow Beorpit. Dalam tradisi Asmat, peristiwa saling menggosok ampas sagu atau kapur putih dan merah merupakan tanda ikatan persahabatan.
Sebagai jaminan persahabatan tersebut, kepala Teweraut diberikan kepada Sow Beorpit.
Setelah itu Sokorew dan Wakanaut melanjutkan perjalanan menuju As Arep, hulu Sungai As.
Bantuan Burung Kasuari
Di tengah perjalanan mereka bertemu seekor kasuari.
Sokorew memohon bantuan kepada burung itu dengan berkata:
“Ako a, As Arep baporotamo ai.”
Yang berarti:
“Nenek, tolonglah kami menjelajahi hulu Kali As.”
Kasuari itu kemudian pergi menjelajah selama satu hari hingga menemukan jalan menuju hulu Sungai As.
Setelah kembali menemui Sokorew dan Wakanaut, kasuari itu berkata bahwa mereka hanya perlu menebang tujuh pohon lagi sebelum mencapai hulu sungai tersebut.
Mendengar kabar itu Sokorew dan Wakanaut berpelukan dengan penuh kegembiraan, karena mereka akan segera bertemu dengan kakek mereka, Binukpit.
Ratapan Sokorew
Ketika Sokorew menebang pohon damar (bacam) yang terakhir, ia tiba-tiba mencucurkan air mata.
Ia teringat semua peristiwa yang telah terjadi dalam hidupnya, terutama ibunya yang telah ia tinggalkan di Fayit.
Ia berkata:
“Mungkinkah saya akan kembali menengok ibundaku tercinta? Bah, tidak! Saya tak pernah akan melihat ayah yang membuatku mengungsi dari Fayit dengan akibat meninggalkan ibunda tersayang!”
Setelah menebang pohon terakhir itu, Sokorew turun ke tepi sungai dan mengikuti jejak kayu yang telah ia tebang.
Ia meminum air sungai itu sampai puas.
Setelah itu ia tertidur di ujung batang kayu damar tersebut.
Rambut Sokorew Menjadi Ikan
Ketika Sokorew sedang tertidur, tiba-tiba rambut panjangnya terurai dan jatuh ke dalam air.
Rambut itu kemudian dimakan oleh ikan param, yaitu ikan bermulut seperti sumpit.
Namun ikan param memiliki usus yang pendek sehingga tidak seluruh rambut Sokorew dapat tertelan.
Melihat hal itu Sokorew berkata kepada ikan tersebut:
“Param, jangan engkau, karena tali perutmu pendek saja. Berilah rambutku kepada ikan kakap yang ususnya panjang.”
Menurut cerita, ikan param kemudian melakukan seperti yang diminta Sokorew.
Setelah itu Sokorew berkata lagi:
“Sebentar malam orang dari kampung Ambi, Kawet, Cawi-Yamew akan menanam sero di Kali Pop. Nanti perempuan-perempuan dengan jaring besar akan bersusah payah menangkap ikan tersebut. Jaring-jaring itu akan rusak. Hingga terakhir datang giliran saudari Warim, yakni Kawarpiwi, dengan jaring kecilnya dan ia akan berhasil menangkap ikan kakap itu.”
Kemudian ikan param bertanya:
“Apakah perempuan itu cantik?”
Sokorew menjawab:
“Cantik atau tidak bukan soal.”
Param berkata:
“Baiklah, akan kulakukan semua keinginanmu.”
Setelah itu ikan param pergi menuju muara, sementara Sokorew melanjutkan perjalanan menuju hulu Sungai As.
Pertemuan dengan Binukpit
Sepanjang perjalanan Sokorew terus meminum air Sungai As dan berkata:
“As, sungai kesayanganku, aku akan senantiasa minum air sepanjang hidupku sampai saat kematianku.”
Setelah melewati beberapa tanjung, mereka melihat kepulan asap dari kejauhan yang muncul di antara pepohonan tinggi.
Sokorew dan Wakanaut berhenti sejenak untuk memperhatikan tanda-tanda alam. Mereka ingin memastikan apakah asap itu berasal dari kampung musuh atau dari kampung leluhur mereka, Binukpit.
Untuk mengetahui hal itu Sokorew menggunakan eram jini, yaitu dedaunan tertentu yang dimakan atau digosokkan pada tubuh untuk mendapatkan kekuatan, keberanian, serta memastikan kebenaran suatu dugaan.
Setelah melakukannya, Sokorew yakin bahwa kepulan asap itu berasal dari kampung moyangnya, Binukpit.
Mereka pun melanjutkan perjalanan.
Ketika semakin mendekat, mereka melihat seorang kakek beruban sedang duduk di serambi rumah panjang.
Kakek itu tampak sangat peka terhadap suara alam. Ia bahkan dapat mencium bau ketiak manusia yang mendekati kampungnya.
Karena itu kedua pihak saling waspada agar tidak saling menyerang.
Namun Sokorew dengan cepat mendekati kakek itu hingga mereka berhadapan.
Kakek itu terkejut dan bertanya:
“Siapakah gerangan engkau? Dari dahulu tak pernah kujumpai orang.”
Sokorew menjawab dengan tenang:
“Sebutlah dahulu namamu, sebab aku hanya seorang asing.”
Kakek itu kemudian berkata:
“Saya Binukpit, pemilik Sungai As. Anak-anak saya sedang ke hutan mengolah sagu. Mungkin mereka sedang pulang.”
Mendengar nama itu Sokorew langsung mencucurkan air mata.
Melihat hal itu Binukpit menjadi heran dan bertanya:
“Eh, siapakah gerangan engkau, sehingga bisa menangis di hadapanku?”
Dengan penuh haru Sokorew memeluk kakek itu dan berkata dengan suara terputus-putus:
“Apakah cucumu As Teweraut pernah dikawinkan dengan Safan Beorpit dari Fayit? Saya dan kakakku ini adalah anak-anaknya. Namaku Sokorew. Kakakku bernama Wakanaut.”
Mendengar itu Binukpit langsung memeluk mereka dan meratapi kedua cucunya dengan penuh haru.
Cerita Bagian 5
Sokorew Kembali ke Kampung Leluhur
Setelah mengetahui bahwa Sokorew dan Wakanaut adalah cucunya, Binukpit memeluk mereka sambil meratapi perjalanan panjang yang telah mereka lalui.
Kemudian Binukpit mengambil sagu dari acir—tempat menyimpan sagu di atas para-para dekat perapian. Sagu itu dibakar dan diberikan kepada kedua cucunya untuk dimakan.
Setelah mereka makan, Binukpit menutupi tubuh Sokorew dan Wakanaut dengan tikar daun pandan yang dalam bahasa Asmat disebut tapen. Tikar yang dipakai adalah tapen milik kakek mereka, As Beorpit dan Teweraut.
Tidak lama kemudian terdengar suara orang-orang yang pulang dari hutan. Mereka adalah keluarga yang baru saja mengolah sagu.
Sebelum mereka tiba, Binukpit mengambil air dan menyiram tikar yang menutupi kedua cucunya.
Ketika rombongan itu tiba di rumah, mereka berkata:
“Apakah hujan lebat di sini sehingga semua tikar kami digulung seperti terlihat sekarang ini?”
Binukpit menjawab:
“Memang benar katamu.”
Ketika As Beorpit membuka tapen miliknya, ia menemukan Sokorew dan Wakanaut di dalamnya.
Binukpit kemudian berkata kepada mereka bahwa kedua anak itu adalah cucu mereka, anak dari As Teweraut yang telah dikawinkan dengan Safan Beorpit di Fayit.
As Beorpit dan Teweraut segera memeluk kedua cucu mereka dengan penuh haru. Suasana rumah dipenuhi tangisan dan kegembiraan.
Banyak kerabat datang mengerumuni kedua anak tersebut.
Rumah Sokorew di Sungai As
Di tengah keramaian itu Sokorew berbicara kepada seluruh masyarakat.
Ia berkata bahwa pengembaraannya sampai ke tempat itu terjadi karena kata-kata ayahnya dahulu.
Ia berkata:
“Saudara-saudara, bapa-bapa dan kakek-kakek sekalian, saya akan meminum air dari udik Sungai As sepanjang hidupku.
Karena gara-gara air minum, ayah kandungku mencaci maki aku dengan mengatakan, ‘Hei anak nakal, engkau habisi air minumku. Segeralah ke hulu Sungai As, di mana moyangmu Binukpit tinggal. Dia senantiasa minum air segar. Mengapa engkau tidak ke sana saja untuk meminum air segar itu setiap saat?’”
Sokorew kemudian berkata lagi:
“Berdasarkan dorongan itu, bangunkan rumahku di tengah Sungai As. Bahan bangunannya hendaknya dari kayu besi agar aku tetap menjadi penghuni Sungai As dan minum air Sungai As dari dekat.”
Keesokan harinya masyarakat mengumpulkan kayu sesuai permintaan Sokorew.
Setelah semua bahan tersedia, mereka membangun rumah Sokorew di tengah Sungai As.
Setelah rumah itu selesai, Sokorew kemudian dikawinkan dengan seorang perempuan bernama Kokowen.
Wakanaut tetap tinggal bersama Sokorew.
Rambut Sokorew dan Ikan Kakap
Sementara itu, dua hari setelah ikan param memakan rambut Sokorew, orang-orang dari kampung Kawet menanam sero di Kali Pop, sesuai dengan perkataan Sokorew sebelumnya.
Kali Pop terletak di ujung kampung Yasiw.
Seperti yang telah diramalkan Sokorew, banyak perempuan mencoba menjaring ikan kakap yang menyimpan rambutnya di dalam perut.
Namun tidak ada seorang pun yang berhasil menangkap ikan tersebut.
Akhirnya datanglah giliran seorang perempuan bernama Kawarpiwi. Ia menjaring ikan kakap itu dengan jaring kecilnya.
Kawarpiwi membawa ikan itu pulang ke rumahnya. Ketika membelah perut ikan tersebut, ia menemukan rambut Sokorew, persis seperti yang ia lihat dalam mimpinya semalam.
Siapakah Kawarpiwi
Kawarpiwi dikenal sebagai puteri kahyangan.
Dalam bahasa Asmat, kawar berarti kulit lawang, sedangkan piwi berarti terang keputih-putihan.
Nama Kawarpiwi berarti perempuan putih yang cantik.
Namun kenyataannya ia selalu mengenakan kulit buaya yang tebal, hingga dua sentimeter. Kulit itu mengeluarkan bau busuk sehingga tidak ada seorang pun yang mau mendekatinya, apalagi mempersuntingnya.
Sejak lahir, rupanya ia telah ditakdirkan untuk bertemu dengan Sokorew, sang pemuda gagah perkasa.
Kawarpiwi Mencari Sokorew
Setelah menemukan rambut Sokorew, Kawarpiwi menyimpannya sampai malam hari.
Sesuai dengan mimpi yang diterimanya, ia kemudian berangkat menuju udik Sungai As untuk menemui Sokorew.
Saudaranya Warim mengetahui hal itu dan mengizinkannya pergi.
Kawarpiwi mendayung perahu dengan dayung pendek yang disebut po jipin. Dalam masyarakat Asmat, penggunaan dayung pendek menandakan seseorang tidak dianggap berharga oleh masyarakat.
Dengan mengenakan kulit buaya yang berbau busuk itu, Kawarpiwi melewati banyak kampung tanpa dicegah oleh siapa pun.
Akhirnya ia tiba di As Arep.
Perahunya menabrak tiang rumah Sokorew, tepat seperti yang ia lihat dalam mimpinya.
Kedatangan Kawarpiwi
Wakanaut keluar untuk melihat apa yang menabrak rumah mereka. Awalnya ia mengira itu hanya kayu gelondongan.
Namun ketika melihat seorang perempuan duduk di buritan perahu, ia terkejut dan bertanya:
“Siapakah gerangan engkau ini?”
Perempuan itu menjawab:
“Saya Kawarpiwi. Sokorew yang tersohor itu adalah idamanku. Saya mencarinya. Sesuai pesannya dalam mimpiku, saya mendapat rambutnya dalam tali perut ikan kakap. Ini saya membawa serta rambutnya kemari.”
Wakanaut sangat kecewa melihat penampilan Kawarpiwi yang tampak buruk dan berbau busuk.
Namun karena perempuan itu membawa rambut Sokorew, tidak ada alasan untuk menolak pertemuan mereka.
Akhirnya Sokorew menerima Kawarpiwi sebagai isterinya.
Rahasia Kawarpiwi
Walaupun telah menikah, Sokorew tidak pernah tidur bersama Kawarpiwi. Ia bahkan tidak pernah menyentuhnya.
Selama hampir tiga bulan, Kawarpiwi hidup seperti orang yang terkurung.
Pada suatu hari Kawarpiwi pergi ke hutan bersama Kokowen, isteri pertama Sokorew, untuk mencari kayu api.
Di dekat sumur Kawarpiwi membuka kulit buaya yang menutupi tubuhnya dan mandi.
Diam-diam Kokowen mengikuti dan melihat wujud asli Kawarpiwi.
Ternyata Kawarpiwi adalah perempuan yang sangat cantik, persis seperti cerita yang tersebar di seluruh wilayah Asmat.
Kokowen berkata kepadanya:
“Kamu tak perlu merasa bersalah. Keadaanmu mencurigakan saya sejak lama. Atribut yang kamu pakai menyebabkan Sokorew tidak menyukaimu. Kulit itu harus dilepaskan.”
Kawarpiwi pun merasa lega karena rahasianya diketahui tanpa rasa iri.
Sokorew Menemukan Kecantikan Kawarpiwi
Keesokan harinya Kokowen membawa berbagai perhiasan ke hutan.
Ia menghiasi Kawarpiwi dengan perhiasan-perhiasan itu dan menyuruhnya menemui Sokorew.
Ketika Sokorew melihat perempuan cantik itu, ia terkejut dan mengira bahwa itu adalah roh hutan.
Perempuan itu berkata:
“Saya Kawarpiwi dan inilah kulitku yang sebenarnya.”
Sokorew bertanya dengan ragu:
“Sungguhkah kau Kawarpiwi?”
Kawarpiwi menjawab:
“Saya sungguh Kawarpiwi yang dengan sengaja memakai kulit buaya sehingga kau takut pada saya. Kini saya hadir di hadapanmu atas dorongan Kokowen untuk melihat reaksimu.”
Mendengar hal itu Sokorew sangat terharu.
Ia memeluk Kawarpiwi sambil menangis, menyesali perlakuannya selama ini.
Setelah itu mereka saling mencintai.
Kawarpiwi bahkan membujuk Sokorew untuk juga berkencan dengan Kokowen, karena sebelumnya Sokorew belum pernah menyentuhnya.
Akhirnya ketiga orang itu hidup dalam kebahagiaan.
Penutup Cerita
Sebagai tanda kasih sayang, Kawarpiwi dimandikan kembali oleh Kokowen dan Wakanaut di air yang jernih.
Kulit buaya yang selama ini menutupi tubuhnya dihanyutkan ke air sebagai lambang pembuangan kehidupan lama.
Sejak saat itu mereka hidup bersama di As Arep.
Konon hingga kini Sokorew dan Kawarpiwi masih dianggap sebagai tuan atas tanah di wilayah tersebut.






