Asal Cerita: Kampung Yamas
Narasumber: Bapak N. Owse
Penerjemah: Yufen A. Biakai
Di suatu dusun, hiduplah seorang nenek bernama Janseaot bersama sembilan orang cucunya. Nama mereka berturut-turut dari yang tertua adalah: Ker, Ofopirat, Okoripit, lima orang berikutnya masing-masing bernama Beorpit, serta si bungsu perempuan bernama Ecowasiraot. Ayah dan ibu kesembilan anak ini telah meninggal dunia, sehingga mereka sering berupaya mencari nafkah sendiri. Nenek Janseaot sebenarnya sangat mencintai mereka, meskipun pada akhirnya ia berniat membunuh mereka karena sebuah kesalahan besar.
Konon, nenek Janseaot secara diam-diam memelihara seekor ikan gabus (usi atau us). Ikan tersebut diikat dengan tali rotan (tem cima) dan ditambatkan pada batang nipah di pinggir sungai. Janseaot selalu memeriksanya secara sembunyi-sembunyi agar tidak terlihat oleh cucu-cucunya. Suatu hari, Janseaot pergi ke dusun sendirian untuk menokok sagu sebagai bekal makan bersama ikan gabus tersebut yang rencananya akan dipotong dua hari kemudian.
Saat sang nenek pergi, Ker bersama saudara-saudaranya (kecuali Ecowasiraot) sedang memanah kolodok menggunakan jubi (apon atau apan). Tanpa sengaja, seekor kolodok hinggap di punggung ikan gabus peliharaan nenek. Mereka memanah kolodok itu hingga menembus tubuh sang ikan. Ketika ikan meronta, barulah mereka menyadari adanya ikan besar. Setelah diraba, mereka menemukan tali pada insangnya dan sadar bahwa itu adalah peliharaan nenek mereka.
Meski menyadari hal itu, mereka tetap berniat memakannya sebelum nenek kembali. Mereka memasak dan memakan ikan itu dengan lahap layaknya sebuah pesta, sambil mengolok-olok si bungsu:
“Kami tak perlu memberikan daging sepotong pun kepadamu karena engkau pasti akan mengkhianati kami.”
Ecowasiraot menangis sepanjang hari karena merasa sedih dan takut dituduh ikut bersalah. Ia pun memeras otak dan mengambil tulang-belulang ikan itu, menyisipkannya di rambut, lalu menemui neneknya di dusun. Ia memohon sang nenek mencari kutu di kepalanya. Neneknya bertanya:
“Mengapa kau tidak memohon kepada saudara-saudaramu?”
Namun, karena kasih sayang, Janseaot tetap melakukannya. Betapa terkejutnya sang nenek melihat tulang ikan di rambut cucunya. Ia pun meratap dan mengutuk perbuatan cucu-cucunya. Sayangnya, Ecowasiraot yang berniat jujur tetap dianggap bersalah oleh neneknya. Pada puncak kemarahannya, Janseaot mengangkat Ecowasiraot dan membuangnya ke pelepah pohon sagu.
“Kau kujadikan kodok. Eco, cobalah bersuara kara… kara…, sebab itulah suaramu sepanjang masa.”
Pelarian dan Pohon Jeer yang Sakti
Setelah mengutuk si bungsu, Janseaot pulang untuk membalas dendam pada cucu-cucu lelakinya, namun rumah sudah kosong. Ker bersaudara telah mengungsi. Mereka mencoba memanjat beberapa pohon kering yang berlubang, namun selalu tumbang. Akhirnya, mereka menemukan pohon Jeer (sejenis ketapang) yang tumbuh di dataran tinggi dan memiliki kekuatan misteri (cesar).
Sebelum memanjat, mereka menggosok batang pohon dengan jimat (eram jini) sambil bermantra:
“Kami memberi kau nama nenek moyang kami. Jika Janseaot menebangmu, berteriaklah: sia saka, sia saka! (kapak batu patahlah!). Jika ia berhasil menjatuhkanmu, meloncatlah hingga ke tengah sungai dan hanyutkanlah kami ke tempat yang layak untuk memulai kehidupan baru.”
Janseaot mengejar mereka dengan membawa satu noken penuh kapak batu. Saat ia mulai menebang, terdengarlah suara “sia saka, sia saka” dari dalam pohon. Janseaot berteriak geram:
“Kasihan cucu-cucuku, hendak ke mana kalian? Aku membawa satu noken penuh kapak batu untuk menghabiskan kalian!”
Satu per satu kapaknya patah dan diganti, hingga akhirnya pohon itu tumbang. Namun, sebelum menyentuh tanah, pohon Jeer itu meloncat ke tengah kali sesuai permohonan Ker bersaudara. Janseaot sangat kecewa dan akhirnya hidup seorang diri dengan kekayaannya.
Kampung-Kampung Wanita dan Suara Lebah
Kayu Jeer itu hanyut menuju muara. Di tengah jalan, mereka melewati beberapa perkampungan yang hanya berpenduduk wanita. Ada Kokotam Cepes yang berkaki pedang namun berwajah cantik, serta Bi Jimiis Cepes yang bertubuh montok namun berhidung pesek.
Setiap kali melewati kampung-kampung ini, para wanita mencoba menyergap kayu tersebut untuk dijadikan kayu api (jis). Untuk menghindar, Ker bersaudara mengeluarkan suara menirukan lebah: “Ngenggg… ngenggg…”. Karena takut disengat lebah, para wanita itu pun melepaskan kayu tersebut hingga hanyut terus sampai ke muara sungai.
Kehidupan di Taar Cepes
Di muara, mereka memasuki wilayah Taar Cepes (Wanita Bunga Bakung), tempat para wanita yang kecantikannya luar biasa. Kali ini, Ker bersaudara tidak mengeluarkan suara lebah karena tertarik pada kecantikan mereka. Wanita-wanita Taar Cepes pun membawa kayu itu ke tepi pantai.
Bitiaot (si sulung) menyerukan agar adik-adiknya pergi ke dusun mengambil ulat sagu. Sambil berjalan mereka berteriak: “Ke dusun, dan ke tepian adalah berjalan.” Ungkapan ini mengandung makna filosofis bahwa hidup adalah perjuangan untuk menjaga keseimbangan antara darat (wasen are) dan air (bu are).
Sementara para wanita pergi, Ker keluar dari kayu dan bertemu Taaraot.
“Siapakah gerangan mahluk ajaib ini? Tipenya seperti manusia, sungguh ganteng.” tanya Taaraot. “Namaku Ker, aku anak sulung.” jawabnya.
Keduanya saling jatuh cinta. Berdasarkan urutan umur, saudara-saudara Ker lainnya juga dipasangkan dengan para wanita Taar Cepes dan disembunyikan di dalam gulungan tikar (tapen) di dekat tungku api. Taaraot membasahi tikar-tikar itu dengan air agar tampak seolah-olah baru saja terjadi hujan lebat.
Saat para wanita lain pulang dari dusun, mereka terkejut melihat tikar mereka basah dan kemudian berteriak kegirangan menemukan suami yang ganteng:
“Aia dormipit akat a! (Aduh, aku punya suami ganteng!).”
Hanya si bungsu Taar (Aikunaot) yang awalnya tidak mendapat pasangan karena saudaranya sengaja membiarkan Beorpit bungsu tetap di dalam kayu. Namun, akhirnya Beorpit bungsu ditemukan; ia adalah yang paling ganteng dan mahir dalam segala hal (cescu).
Tragedi Sukun dan Awal Kehidupan Baru
Waktu berlalu dan mereka memiliki banyak anak. Suatu hari, saat Beorpit bungsu memetik buah sukun, sebuah buah jatuh dan mengenai kepala bayinya hingga mati. Istrinya mencaci maki dengan tajam:
“Kau menindih anakku hingga habis nyawanya!”
Beorpit merasa sangat malu dan sedih. Ia mengajak kakak-kakaknya pindah secara diam-diam. Di tempat yang baru, mereka membangun rumah panjang. Namun, si bungsu tidak ikut membangun rumah; ia pergi ke hutan untuk mengukir patung-patung yang menyerupai istri-istri mereka.
Setelah tiga hari bekerja, ia menggosokkan jimat (eram) pada patung-patung tersebut dan menabuh tifa. Ajaibnya, patung-patung itu mulai bergerak dan berubah menjadi wanita-wanita cantik. Ker dan saudara-saudaranya pun hidup kembali berbahagia seperti sediakala.




