Edit Template

Fumiripits: Memahami Ulang Kisah Penciptaan Orang Asmat

Fumiripits: Memahami Ulang Kisah Penciptaan Orang Asmat

Dalam hampir setiap peradaban manusia, kita menemukan kisah tentang asal-usul dan penciptaan. Kisah-kisah itu lahir dari pertanyaan yang sangat sederhana, tetapi mendalam: dari mana kita berasal, dan ke mana kita pergi setelah kematian? “Apakah untuk memahami hidup kita harus selalu kembali ke siapa yang pertama kali menciptakan, atau cukup memahami bagaimana kita ada dan hidup di antara sesama ciptaan?”

Asmat memiliki beragam bahasa, sejarah, dan tradisi yang berkembang dalam lingkungan rawa, sungai, hutan, dan pantai. Sebagai masyarakat pemburu dan peramu, kehidupan orang Asmat sejak dahulu sangat erat dengan lingkungan di sekitarnya. Pengetahuan tentang alam, leluhur, roh, dan hubungan antarmanusia diwariskan melalui cerita, mitos, lagu, ritual, serta berbagai simbol yang hadir dalam ukiran, perisai, dayung, perahu, dan benda-benda lainnya.

Karena kedekatan orang Asmat dengan kayu sebagai bahan utama dalam membuat ukiran, banyak tulisan tentang Asmat kemudian menghubungkan mereka dengan sosok Fumiripits—tokoh dalam mitologi Asmat yang sering kali dipahami sebagai figur pencipta.

Saya mencoba melihat kembali pemahaman tersebut dengan mewawancarai beberapa tokoh adat dari Syuru, Amborep, Jamas, dan Sawa Erma. Saya ingin mengetahui bagaimana mereka sendiri memahami Fumiripits dan apakah benar ia ditempatkan sebagai pencipta manusia Asmat.

Kisah Fumiripits pertama kali didokumentasikan oleh Pastor Zegwaard MSC ketika bertugas di Kokonao pada tahun 1949. Dalam kisah tersebut, Fumiripits berada dalam keadaan yang sangat terdesak, menderita, dan hampir kehilangan kehidupannya. Ia kemudian mendapat pertolongan dari seekor burung. Setelah itu, ia membuat tifa dan patung-patung kayu, lalu menghidupkannya.

Fumiripits sering dianggap sebagai kisah penciptaan, padahal cerita tentang bagaimana fumiripits berhasil bertahan hidup adalah rangkuman besar tentang siapa itu Asamat—manusia di dalam dunia. Kisah ini dapat dibaca sebagai kisah tentang kecerdikan, keberanian, dan kemampuan manusia untuk bertahan hidup. Fumiripits bukan sekadar seseorang yang menciptakan sesuatu. Ia adalah manusia yang berada dalam keadaan sulit dan menemukan jalan keluar melalui kemampuan yang dimilikinya.

Namun, ada sesuatu yang menarik dari percakapan saya dengan beberapa tokoh adat.

Bagi mereka, mengatakan bahwa orang Asmat berasal dari kayu atau diciptakan oleh seorang manusia seperti Fumiripits bukanlah cara yang tepat untuk menjelaskan asal-usul mereka. Bahkan, pemahaman semacam itu dapat dianggap sebagai penghinaan.

Ketika berbicara tentang asal-usul, orang Asmat lebih banyak menceritakan perjalanan nenek moyang mereka: dari mana mereka datang, bagaimana mereka berpindah dari satu tempat ke tempat lain, dan bagaimana mereka membangun hubungan dengan wilayah serta kelompok-kelompok lain.

Pertanyaan tentang siapa manusia pertama tampaknya bukanlah pertanyaan yang paling utama.

Yang lebih penting adalah posisi manusia di antara ciptaan lainnya.

Dalam pemahaman ini, kehidupan bukan sekadar sebuah garis yang dimulai dengan kelahiran dan berakhir dengan kematian. Roh datang ke dunia, menjalani kehidupan, kemudian pergi kembali ke dunia roh. Kehidupan menjadi sebuah perjalanan antara dunia manusia dan dunia roh.

Mungkin karena itu, Fumiripits tidak harus selalu dipahami sebagai “pencipta” dalam pengertian yang kita kenal. Kisahnya dapat dibaca sebagai kisah tentang manusia, kehidupan, kemampuan untuk mencipta, dan hubungan antara dunia yang hidup dan dunia roh. Itulah makna Asamat—manusia.

Barangkali pertanyaan yang lebih penting bukanlah “Siapa yang menciptakan orang Asmat?”, tetapi “Bagaimana orang Asmat memahami keberadaan mereka di dalam dunia?”

Dan mungkin di sanalah kita dapat mulai memahami Fumiripits dengan cara yang berbeda.

Asmat Cultural Archives and Research Center

“Reconnecting the Asmat with Their Own Archives and Knowledge”

Subscribe

Subscribe to our newsletter and updates

Berlangganan info dan artikel terbaru  kami

Edit Template

Get in touch

Copyright © 2026 Asmat Cultural Archives and Research Center

You cannot copy content of this page