Edit Template

Kisah Cinta Segi Tiga Antara Bis, Pis, dan Beworpit

Cerita asal: Kampung Atsj

Diceritakan oleh: Michael Binkumces

Diterjemahkan oleh: Yufen A. Biakai

Konon pada zaman dahulu, di pertengahan Sungai Sirets, hiduplah seorang pemuda bernama Pis. Pekerjaannya sehari-hari adalah berburu, dan ia selalu berhasil dalam setiap perburuannya sehingga seluruh warga kampung senantiasa ikut menikmati hasilnya. Pada masa itu, hidup pula seorang gadis jelita bernama Bis, yang di tempat lain disebut juga Bisaut. Namanya tersohor karena kecantikannya yang luar biasa.

Bis dikawinkan dengan Pis bukan karena ketampanan pemuda itu, melainkan karena keahliannya berburu agar orang tua Bis selalu mendapat jatah hasil buruan. Alasan lainnya adalah karena Pis memiliki kulit kaskadu (bersisik/penyakit kulit). Kala itu, mengawinkan gadis cantik dengan pria kaskadu dianggap wajar karena ada kepercayaan bahwa pria kaskadu jarang memukul istrinya, sehingga diharapkan Bis akan hidup bahagia dan terpelihara.

Namun, harapan itu sirna. Pis justru memperlakukan Bis dengan sangat kejam. Ia mengurung Bis di dalam tapen (tikar) yang dijahit rapat dengan tali akar pandan. Bis dipaksa makan dan minum di dalam bungkusan tikar tersebut. Ia bahkan tidak pernah dibiarkan berdiri meskipun hanya untuk membuang air kecil, sehingga badannya menjadi sangat bau busuk. Pis juga menutup pintu rumahnya dengan belahan perahu bekas yang diikat rotan agar tidak dibuka orang lain. Jika melihat ada tanda pintunya dibuka, Pis akan menyiksa Bis dengan api hingga kulitnya nyaris terbakar habis. Bis menerima nasibnya dengan sabar, dan orang tuanya pun tidak berontak. Namun, masyarakat terus mendorong orang tua Bis untuk bertindak. Akhirnya, secara diam-diam, mereka merencanakan untuk menyelamatkan putri mereka.

Suatu ketika, saat Pis sedang keluar, orang tua Bis mendatangi rumahnya. Di sana mereka menemui dua istri Pis yang lain, Fin dan Jak, yang nasibnya tidak semalang Bis. Orang tua Bis menyampaikan rencana mereka, dan kedua istri tersebut setuju untuk membantu karena mereka pun tidak tega melihat penderitaan Bis. Tak lama setelah orang tua Bis pergi, Pis tiba membawa lima ekor babi. Dari perahu ia memanggil Fin dan Jak:

“Turun dan ambillah hasil perburuan ini!”

Setibanya di rumah, Pis melihat jejak pintu yang pernah dibuka. Seketika itu juga ia memukuli Bis dan membakar tubuh istrinya dengan api. Kekejaman ini terus berulang setiap kali Pis pulang berburu.

Kesempatan emas datang ketika pemimpin kampung merencanakan perang dan Pis ikut berangkat. Fin dan Jak segera membantu orang tua Bis membuka tikar yang membungkus tubuh jelita itu. Mereka membuka pintu, membawa Bis ke sungai untuk dimandikan, sementara orang kampung menyaksikan dengan ngeri bekas kekejaman Pis. Ibu Bis, bersama Fin dan Jak, menyiapkan segala perabot, jaring, dan perahu. Bis pun berangkat menuju hilir Sungai Sirets. Ia mendayung melalui jalan pintas bernama Betch wu menuju Sungai Betch. Namun, di tengah jalan perahunya kandas karena air surut. Ia terpaksa menaikkan perahunya ke darat dan berjalan kaki mengikuti arah suara terompet yang seolah memanggilnya.

Dalam perjalanannya menuju Sungai Apam, Bis menangis meratapi nasibnya: “Saya belum pernah melihat seorang wanita diperlakukan seperti ini. Bagaimanakah nasibku ini?” Hujan pun turun, seolah nenek moyang ikut bersedih. Ia sempat berteduh di bawah pohon Ci sebelum melanjutkan perjalanan ke Sungai As. Dari kejauhan, ia melihat sebuah rumah di atas pohon jeer. Dengan air mata yang melambangkan akhir penderitaannya, ia mendekat dan melihat seorang ibu tua sedang membelah kayu. Ibu itu terkejut dan bertanya:

“Dari mana dan siapa gerangan engkau?”

Bis menjawab: “Sebutlah namamu dahulu.”

Perempuan tua itu berkata: “Namaku Teweraut. Nama suamiku Botok Simit. Kami mencari kayu api.”

Bis kemudian berujar: “Namaku Bis. Suamiku bernama Pis. Saya dikurung dalam tikar yang diikat rapi dengan tali akar pandan. Saya melarikan diri dan saya mencari As Beworpit sebagai calon suami yang baru.”

Mendengar itu, Teweraut memeluknya dan berseru: “Aduh, saya punya anak mantu cantik.” Suaminya, Botok Simit, juga sangat gembira. Mereka menyembunyikan Bis di dalam perahu agar tidak terlihat orang lain dan membawanya pulang ke kampung saat sore hari.

Di kampung, As Beworpit terus meniup terompet bambunya, tidak menyangka wanita idamannya sudah berada di rumah orang tuanya. Saat turun untuk makan, ia tertegun melihat Bis. Ayahnya memperkenalkan: “Inilah Bis yang selalu menjadi impianmu.” Beworpit seolah tidak percaya dan berkata: “Ah, bukan, itu saudaraku.”

Ia kembali ke atas pohon untuk merenung, merasa orang tuanya mungkin hanya berkelakar. Karena penasaran, ia turun lagi dan bertanya langsung: “Apakah engkau sungguh Bis seperti yang dikatakan ayah ibundaku tadi?”

Bis menjawab: “Benar, saya Bis.”

Beworpit pun memeluk Bis dengan bahagia dan mereka naik ke rumah di atas pohon jeer.

Sementara itu, Pis kembali dari perang dan memanggil istrinya: “Bis, ambil tengkorak musuh ini!” Wanita-wanita lain mengolok-oloknya: “Pis, isterimu Bis sudah pergi.” Pis seketika membanting diri ke lumpur dan meratap selama berhari-hari. Pada hari ketiga, ia mengajak Deso, saudara laki-laki Bis, untuk mencari jejak istrinya. Mereka menemukan perahu Bis yang terbalik di Betch wu, namun kehilangan jejak di tengah hutan. Pis hanya bisa meronta menyesali perbuatannya, lalu pulang dengan putus asa.

Namun, Deso terus berjalan hingga menemukan rumah di atas pohon jeer. Ia melihat adiknya, Bis, turun dari pohon itu. Keduanya berpelukan sambil menangis. Bis kemudian naik kembali ke rumah pohon dan memeluk suaminya, Beworpit. Hal itu membuat Beworpit heran dan bertanya: “Apa gerangan arti semuanya ini?”

Bis menjawab: “Kubuat ini demi keselamatan kakakku Deso, yang sedang berada di bawah mencari aku.”

Beworpit terharu dan menjemput kakak iparnya. Deso tinggal di sana selama beberapa hari sementara keluarga Beworpit menyiapkan mas kawin yang banyak untuk dibawa pulang oleh Deso. Kabar kebahagiaan Bis pun tersebar di kampung asalnya.

Mendengar Bis telah menjadi istri Beworpit, Pis menangis hingga matanya bengkak. Namun, ia belum menyerah. Ia mengajak Deso kembali untuk merebut Bis secara damai dengan membawa banyak noken penuh kampak batu sebagai tebusan. Sesampainya di sana, hati Pis hancur melihat Bis turun dari pohon jeer. Meskipun Beworpit menerima mereka dengan ramah dan bahkan rela mengembalikan Bis karena terharu melihat perjuangan Pis, keputusan akhir ada pada Bis.

Beworpit bertanya kepada Bis: “Bolehkah kamu kembali kepada suamimu Pis?”

Namun Bis menolak dengan tegas: “Tidak boleh.”

Pis pun pulang dengan kekecewaan mendalam. Ia terus meratapi Bis hingga tubuhnya kurus kering dan akhirnya meninggal dunia.


Catatan: Cerita ini memberi pelajaran bagi para pria Asmat agar memberikan perlakuan wajar serta penghargaan yang baik terhadap istri. Jika tidak, malapetaka seperti yang dialami Pis akan terjadi.

Asmat Archives

Asmat Cultural Archives and Research Center adalah lembaga independen di bawah naungan Ordo Salib Suci, yang didedikasikan untuk melestarikan, mendokumentasikan, dan memanfaatkan arsip yang berkaitan dengan sejarah dan budaya masyarakat Asmat.

Articles

Asmat Terei & Ji Atakam

Asmat Cultural Archives and Research Center

“Reconnecting the Asmat with Their Own Archives and Knowledge”

Newsletter

You have been successfully Subscribed! Ops! Something went wrong, please try again.

Get in touch

Copyright © 2026 Asmat Cultural Archives and Research Center

You cannot copy content of this page