Sejarah Bandara Ewer-Asmat

Landasan Udara Ewer: Gerbang Baru Menuju Asmat

Disusun oleh Andreas Wahyu – Asmat Archives

 

Pada awal tahun 1950-an, Pastor Zegwaard MSC memulai karya misi Katolik di wilayah Asmat. Beberapa tahun kemudian, tepatnya pada akhir 1958, hadir pula kelompok misionaris OSC dari Amerika. Seluruh aktivitas misi ketika itu bergantung pada transportasi air, mulai dari perahu dayung hingga perahu bermotor. Secara administratif, Asmat masih menjadi bagian dari Keuskupan Merauke yang dipimpin Uskup Mgr. Herman Tillemans MSC. Dalam perjalanan waktu, para misionaris mulai menyadari perlunya membangun sebuah landasan pacu yang lebih dekat ke Agats, pusat kegiatan misi, untuk mendukung pelayanan dan mobilitas.

Ewer dipilih sebagai lokasi pembangunan landasan udara karena letaknya strategis—hanya sekitar 1,5 jam perjalanan dengan perahu motor dari pusat kota Agats. Jarak ini jauh lebih dekat dibandingkan dengan Pirimapun, lokasi landasan udara lama yang beroperasi sejak 1960. Dari Agats ke Pirimapun diperlukan waktu hingga dua belas jam perjalanan. Sayangnya, pada tahun 1972, landasan udara lama itu harus ditutup setelah terkikis dan akhirnya ditelan laut.

Selain lokasinya yang lebih dekat, Ewer juga memiliki keunggulan lain: tanah liat yang padat dan kokoh hanya berada 90 cm di bawah lapisan lumpur lunak. Kondisi ini dianggap ideal untuk dijadikan dasar landasan pacu. Pada tahun sebelumnya, Br. Joseph De Louw OSC mengoordinasikan pembukaan hutan seluas 300 x 600 meter sebagai persiapan. Penduduk setempat kemudian membawa tanah liat dari Sungai Pek dengan tangan mereka sendiri, menimbunnya setinggi satu meter agar lebih tinggi dari permukaan air pasang.

Br. Joseph mengenang pengalamannya:

“Saya membagi rencana landasan pacu menjadi seratus bagian, masing-masing sepanjang 5 meter. Setiap bagian dikerjakan dengan sistem kontrak. Saya memperkirakan berapa hari kerja yang dibutuhkan untuk mengisi satu bagian, lalu menetapkan upah harian yang layak. Kontrak hanya saya buat dengan satu orang—pria atau wanita—yang bertanggung jawab atas bagian itu, termasuk mengatur jumlah asisten dan waktu pengerjaan.”

Sementara itu, Pastor David Gallus OSC, yang bertugas di Ewer, memimpin pemeliharaan landasan pacu. Ia kemudian berhasil meningkatkan kualitasnya dengan melapisi seluruh landasan menggunakan “tikar” dari batang bakau sepanjang 4 meter yang disusun ala corduroy road. Setelah ditutup dengan tanah liat, lapisan ini membuat landasan cukup kuat untuk didarati pesawat berbobot lebih besar.

Selain di Ewer, misi Katolik dan Protestan juga terus membangun beberapa landasan udara baru di lokasi lain. Pastor Gallus OSC bahkan berperan sebagai penghubung Keuskupan Agats dengan AMA (Associated Mission Aviation), lembaga penerbangan misi Katolik yang berdiri sejak 1959. Pada pertengahan 1968, AMA menjadi badan hukum yang menaungi berbagai tarekat: Fransiskan (OFM), Krosier (OSC), Misionaris Hati Kudus (MSC), dan Agustinian (OSA).

AMA melayani salah satu wilayah penerbangan paling menantang di dunia. Pegunungan tinggi yang membentang dari tenggara ke barat laut sepanjang 1.500 mil membelah Pulau Nugini, menghadirkan “pintu masuk” sempit menuju dataran rendah. Sebelum adanya bantuan GPS, pilot Katolik (AMA), Protestan (MAF), Advent, maupun maskapai misi lainnya kerap menghadapi risiko besar, dengan rata-rata satu hingga dua kecelakaan fatal setiap tahunnya.

Landasan udara Ewer menjadi titik masuk penting bagi para misionaris OSC berikutnya ke Agats. Pada 13 September 1964, Bruder Tom Luke Benoit OSC menerbangkan pesawat Cessna 185 dari Sentani ke Ewer dalam waktu 1 jam 55 menit. Ini Adalah pendaratan pertama di Ewer. Dalam suratnya kepada Pastor Provinsial OSC di Amerika, ia menuliskan:

“Saya lampirkan peta bersama surat ini agar Anda bisa memahami rute-rute penerbangan kami dan lokasi bandara yang ada. Landasan di Ewer adalah yang terbaik yang pernah saya lihat. Kali ini saya tidak mengalami masalah tenggelam. Pastor Miller bahkan sempat menancapkan tongkat besar sedalam satu meter untuk mengikat pesawat—begitu menembus kerak tanah, seolah tidak ada dasarnya. Landasan itu panjangnya 500 meter dengan lebar 8 meter. Sejauh ini, landasan ini telah membuktikan nilainya. Ada wacana untuk memperkerasnya dengan kayu ulin, tetapi hal itu masih sekadar rencana.”

Sumber:
New Guinea Letter No.21

My Fields Has Been the World. The Memoirs of Brother Joseph DeLouw, OSC.

Pada 13 September 1964, Bruder Tom Luke Benoit OSC menerbangkan pesawat Cessna 185 dari Sentani ke Ewer dalam waktu 1 jam 55 menit.

Asmat Archives

Asmat Archives is an independent institution under the auspices of the Order of the Holy Cross, dedicated to preserving, documenting, and utilizing archives related to the history and culture of the Asmat People.

Most Recent Posts

Category

Asmat Cultural Archives and Research

“Reconnecting the Asmat with Their Own Archives and Knowledge”

Newsletter

You have been successfully Subscribed! Ops! Something went wrong, please try again.

Get in touch

Copyright © 2025 Asmat Cultural Archives and Research

You cannot copy content of this page