Edit Template

Kisah Punahnya Kelompok Kaimes oleh Kelompok Joerat

Cerita asal: Kampung Yamas

Diceritakan oleh: Bapak N. Owse

Diterjemahkan oleh: Yufen A. Biakai

Dalam sejarah Asmat, peperangan di masa lalu telah menyebabkan punahnya beberapa kampung bahkan kelompok besar. Salah satu yang paling tragis adalah punahnya kelompok Kaimes, yang terdiri dari kampung Canir, Sinamer, Watep, Osar, Yaremar, Sikao, Jamau, Pis, One, Jae, Sar, dan Kaimes itu sendiri. Kelompok ini musnah di tangan kelompok Joerat—yang terdiri dari Yamas, Yeni, Yufri, Yaun, As, Atat, Nakai, Kapi, dan Ao.

Konon, kelompok Joerat ini berhasil menghabisi kelompok Kaimes berkat bantuan Ucukamor. Ucu berarti pohon beringin, sedangkan Kamor berarti penjelmaan roh halus. Ucukamor adalah penjelmaan roh halus yang mendiami lubang pohon beringin; bahkan menurut kepercayaan orang Asmat, roh itu adalah roh dari pohon beringin itu sendiri. Dua tokoh bersaudara dari kelompok Joerat, yakni Butukfimar dan Karani, menjadi peletak dasar kepercayaan ini bagi orang-orang Joerat untuk memusnahkan kelompok Kaimes. Bagaimana persisnya kejadian tersebut?

Butukfimar dan Karani hidup di hulu Sungai Onep, anak Sungai Asaman. Asaman sendiri merupakan anak Sungai Pi yang menghubungkan Kampung Yufri dan Pos Kecamatan Sawa Erma sekarang. Sungai Asaman ini merupakan tempat pemukiman pertama kelompok Joerat setelah mereka pindah dari Sungai Sirets, tempat pemukiman suku Asmat pada zaman dulu sebelum terpencar seperti sekarang.

Pada suatu hari, Karani bersama istrinya pergi ke dusun untuk menokok sagu. Istri Butukfimar yang bernama Sipimerakat atau sering disebut Sipi juga pergi bersama mereka. Sementara itu, Butukfimar tinggal sendirian di bivak untuk mengerjakan perahu.

Saat sedang mengerjakan perahu, ci fom (rimbas lengkung atau alat pengikis perahu) milik pusakanya patah. Hal ini membuat Butukfimar merasa sangat sedih. Ia bergumam: “Waduh, apa yang terjadi dengan rimbas ini? Saya tidak punya apa-apa lagi.” Butukfimar mengeluh sepanjang hari sambil mencaci dirinya sendiri. Ia bahkan menangis sambil mengisahkan asal-usul rimbas tersebut melalui pantun dan syair. Burung-burung di atas pohon beringin sekeliling bivak bersahut-sahutan, seakan ikut meratapi nasib ci fom tersebut. Dalam suasana sedih itu, tiba-tiba terdengar suara orang memanggil: “Butuk a, Butuk a.” Butukfimar melihat ke samping kiri dan kanan serta ke sekeliling bivak, namun ia tidak melihat seorang pun. Ia berdiri tertegun dan heran mendengar suara aneh itu. Ia kembali memerhatikan sekeliling, dan sekonyong-konyong suara yang sama terdengar lagi dari lubang pohon beringin. Ternyata itu adalah suara Ucukamor yang berkata: “Butuk, jangan takut, saya adalah saudara tuamu.”

Butukfimar awalnya tidak berani menoleh ke arah datangnya suara aneh tersebut. Namun, Ucukamor berusaha meyakinkan serta menguatkan hati Butukfimar dengan berkata: “Butuk saudaraku, sayang, saya tak berniat jahat terhadap dirimu, sebab aku sendiri adalah kakakmu. Oleh karena itu marilah, lihatlah wajahku dan jangan takut.” Setelah mendengar kata-kata itu, barulah Butukfimar mencoba menoleh ke arah sumber suara sambil berkata: “Ah, bagaimana mungkin hal ini terjadi? Sungguh ajaib. Sekarang aku dalam cengkeraman maut.” Mendengar itu, Ucukamor tersenyum dan tertawa: “Ha, ha, ha, dormomoo, Dorootipit am oce,” yang berarti: “Ah kasihan, saudaraku sayang.” Kemudian Butukfimar bertanya lagi: “Sungguhkah kau tak akan berbuat jahat terhadap diriku?” Ucukamor menjawab: “Ah benar, saya tidak akan berbuat apa-apa atas dirimu. Saya sangat terharu atas keluhan saudara mengenai rimbas yang telah rusak tadi. Aku rela memberi kepadamu sebuah rimbas yang baru sebagai gantinya, karena bagaimanapun juga kita bersaudara.”

Untuk lebih meyakinkan hati Butukfimar, Ucukamor memberikan beberapa nasihat: “Saudara boleh memakai cifom ini dengan baik, aku akan senantiasa menyertai kamu dan kelompokmu waktu perang melawan musuh.” Walaupun begitu, Butukfimar masih meragukan pesan Ucukamor. Melihat keraguan itu, Ucukamor berkata lagi: “Jika anda ke hutan, anda akan melihat seekor babi betina dalam perangkap yang telah kalian pasang. Anda dan kelompok akan senantiasa mendengar suaraku dari belakang kampung untuk memberitahukan tentang siasat apa yang harus disusun untuk menghadapi musuh. Sebagai bukti akan pernyataanku ini saudara kita Cau Epmak Sanpai (orang merah), sebagai penyelenggara dan penjaga dusun sagu akan memperlihatkan saudara bayangan beberapa kelompok yang akan dihabiskan oleh kelompokmu, yaitu kelompok Kaimes yang terdiri dari kampung-kampung Cainir, Sinameer, Watep, Yaremar, Sikao, One, Jae, Pis, Sar, Jamau, dan Kaimes sendiri. Terakhir saudara akan jatuh sakit hingga kelihatan kulit bungkus tulang. Tetapi anda akan sembuh kembali setelah menceriterakan semua peristiwa ini kepada segenap penduduk kampung dalam rumah Je.”

Setelah percakapan tersebut berakhir, Ucukamor memberikan cifom baru kepada Butukfimar, lalu ia kembali masuk ke dalam lubang pohon beringin.

Sepeninggal Ucukamor, Butukfimar terus memikirkan dialog yang baru saja terjadi. Ia masih meragukan pesan tersebut. Untuk membuktikan kebenarannya, ia menyembunyikan cifom itu sebelum berangkat ke dusun. Baginya, jika rimbas itu hilang, berarti seluruh ucapan itu tidak benar dan ia dalam bahaya. Namun di dusun, ia menemukan segala hal yang telah diramalkan sebelumnya. Setelah kembali, ia melihat cifom yang disembunyikannya ternyata masih ada.

Kini, ia tidak lagi meragukan pesan Ucukamor. Ia pun menjalani masa sakit sebagai ujian demi mempertahankan keberadaan kampungnya. Setelah sembuh, Butukfimar mengumumkan keyakinannya kepada penduduk bahwa Ucukamor adalah roh pemberi kekuatan, sesuai pesan bahwa kelompok Joerat akan memusnahkan kelompok Kaimes.


NB: Itulah sebabnya kelompok Joerat terkenal sebagai kelompok yang memusnahkan kelompok Kaimes, yang sisa-sisa keturunannya kini masih tersebar di berbagai kampung di kawasan Asmat dan Mimika.

Asmat Archives

Asmat Cultural Archives and Research Center adalah lembaga independen di bawah naungan Ordo Salib Suci, yang didedikasikan untuk melestarikan, mendokumentasikan, dan memanfaatkan arsip yang berkaitan dengan sejarah dan budaya masyarakat Asmat.

Articles

Asmat Terei & Ji Atakam

Asmat Cultural Archives and Research Center

“Reconnecting the Asmat with Their Own Archives and Knowledge”

Newsletter

You have been successfully Subscribed! Ops! Something went wrong, please try again.

Get in touch

Copyright © 2026 Asmat Cultural Archives and Research Center

You cannot copy content of this page