Terjadinya Sungai Siretsj

Cerita asal : Kampung Yamasj

Diceriterakan oleh : Norbertus Owse

Diterjemahkan oleh : Yufen A. Biakai, BA

Setiap anggota masyarakat baik perorangan atau kelompok dalam jangka waktu lama sekali mencari posisi, kadang kadang sedemikian lama sehingga timbul perasaan perasaan tertentu, misalnya:

  • Kami berbeda dengan mereka.
  • Karena berbeda, dia harus lain dari kami dalam hal hal tertentu.
  • Perbedaan perbedaan tertentu ini sengaja atau tidak disengaja dibuat untuk menyimpulkan siapa mereka.
  • Begitu banyak hal terjadi dan terdapat perbedaan perbedaan disamping kesamaan.

 

Cerita ini membuktikan bahwa orang Asmat mempunyai cerita tentang asal-usulnya. Setiap kampung mempunyai versi tersendiri. Yang dikisahkan adalah asal-usul kampung atau kelompoknya. Di bawah ini akan kami urutkan cerita tentang asal-usul menurut versi kelompok Joerat khususnya kampung Yamas-Yeni.

Di hilir sungai Siretsj hiduplah seorang bernama Wai, bersama seorang anak gadisnya bernama Taarot. Konon waktu itu kali Siretsj belum terjadi.

Wai selalu memelihara sebatang pohon sagu. Terkadang dia mengumpulkan daun kering dan memberi tanda pada batang itu, takut kalau ada orang lain yang tak diketahui asalnya hendak mencuri pohon itu untuk diolah tepungnya. Setiap kali pulang setelah membersihkan pohon sagu itu, seekor ular piton hitam yang dalam bahasa Asmat disebut Bini, juga melakukan hal yang sama. Konon suatu hari Wai kehabisan makanan. Dia ke hutan hendak menebang dan mengolah sagu dari pohon tersebut. Pada saat menebang, pohon itu berteriak: “Bee a.., biniaaaa.., bee a.., bini aaa….”, yang artinya: hingga jatuh.

Suara yang keluar dari dalam pohon sagu itu adalah suara dari roh pohon itu sendiri. Dan roh dari pohon sagu itu adalah Beorpit.

Beorpit berteriak seakan akan memanggil bapa Bini yang memeliharanya sejak kecil hingga besar. Bini yang selalu membersihkan pohon itu hidup dan tinggal tidak jauh dari pohon tersebut. Bahkan Bini sempat mendengar jeritan anaknya Beorpit, roh pohon sagu. Pada saat roh sagu itu berteriak, Wai tidak berpikir bahwa ada sesuatu yang aneh atau ajaib. Setelah pohon jatuh Wai mengupas kulitnya, memotong kedua ujungnya lalu menokoknya.

Setelah menokok sedikit, karena capai Wai pergi tidur dekat pucuk yang dalam bahasa Asmat dı sebut cawara. Menurut penceritera, Bini telah meniup guna guna agar Wai tidur nyenyak. Lalu Bini turun dari atas pohon beringin dan menelan Wai yang sedang tertidur. Di dalam perut raksasa itu, Wai sadar dan terbangun, lalu ia berteriak: “Waduh, saya dalam keadaan gawat, sungguh mengerikan” . Dari dalam perut binatang raksasa itu, ia memanggil anaknya Taarot. Mendengar suara yang memanggilnya. Taarot berupaya mencari dari mana suara itu datang. Ia memanggil ayahnya dan ayahnya menjawab dengan mengatakan:

De, dor arera” yang berarti: mari, saya ada di sini. Kemudian ia berkata lagi:

Ici pecak anakal” yang berarti, sungguh mengerikan. Taarot mendekat … dan ketika melihat raja hutan itu dia merontak ketakutan. Wai, ayahnya, memanggilnya sekali lagi dengan memberi pesan pesan sebagai berikut:

  1. Cabutlah penyaring sagu dan ikut di samping saya, jangan takut.
  2. Kau tidak mungkin berhadapan dengan raksasa hutan ini.
  3. Pergilah, kalau ada orang yang menjawab, mintalah bantuan. Jika ada seseorang dari antara mereka yang muncul dan berhasil membunuh binatang raksasa ini, niscaya dia akan menjadi suamimu.

 

Demikian Taarot melakukan pesan ayahnya. Sepanjang jalan Taarot terus memanggil kalau kalau ada orang yang menyahut. Dan ternyata dari kejauhan samar samar terdengar suara orang menyahut. Adapun orang orang yang menyahut itu terdiri atas moyang moyang orang Asmat yang sudah membuat perkampungan di dekat pantai. Maka muncullah : Jamasap, Waise, Atsjakap, Amerepakat, Ndendewakap, Ewerakap, Jaunakap. Dan konon yang menikam kepala ular dengan kamen atau tombak adalah Waise. Lalu Jamasap menikam ekornya dengan omocan atau tombak yang terbuat dari pohon palma raja. Mereka membagi bagikan daging ular tersebut, lalu membakar dan memakannya. Akibatnya, terjadilah air bah dan mereka terpencar ke seluruh Wilayah Asmat ini.

 

NB :

Peristiwa ini terjadi di Amunpum Ciai daerah antara sungai Bayir (kali potong kecil) menuju kampung Atsj dan pulau di bawah kampung Yaosakor.

Dikisahkan bahwa Bini inilah yang menjadikan kali Siretsj. Pada saat ular piton turun dengan Beorpit dalam perutnya, bekas lintasannya itu yang menyebabkan air turun dari arah gunung sehingga menjadi sungai Siretsj sekarang.

Asmat Archives

Asmat Cultural Archives and Research Center adalah lembaga independen di bawah naungan Ordo Salib Suci, yang didedikasikan untuk melestarikan, mendokumentasikan, dan memanfaatkan arsip yang berkaitan dengan sejarah dan budaya masyarakat Asmat.

Articles

Asmat Terei & Ji Atakam

Asmat Cultural Archives and Research Center

“Reconnecting the Asmat with Their Own Archives and Knowledge”

Newsletter

You have been successfully Subscribed! Ops! Something went wrong, please try again.

Get in touch

Copyright © 2026 Asmat Cultural Archives and Research Center

You cannot copy content of this page