Cerita asal: Mbait
Diceritakan oleh: Bapak Willem Wof
Diterjemahkan oleh: Yufen A. Biakai, BA
Ada sepasang suami isteri hidup saling penuh rasa curiga. Dalam bahasa Asmat disebut bifo. Mereka adalah warga kampung Mbait di kali Bufit.
Bufit merupakan anak sungai Mamatsj. Dari Bufit inilah terjadi kehancuran kampung Mbait, yang dalam jangka waktu lama hidup berdampingan dengan kampung Syuru. Kini, dalam lima tahun terakhir sejak tahun 1988, kampung Mbait ingin memisahkan diri dari kampung Syuru. Beginilah kisahnya:
Nama suami isteri itu adalah Cikokor dan Oanaut. Suatu hari Cokokor mengajak isterinya ke hutan mengambil ulat sagu. Setelah mengambil ulat sagu, Cikokor mengajak isterinya untuk berkencan. Dalam kencannya, tanpa disadari oleh Cikokor, Oanaut memasukkan duri ikan dalam alat kelaminnya.
Setelah di rumah Cikokor merasa sakit karena tertusuk dengan duri ikan yang disiapkan oleh isterinya dalam alat kelaminnya. Dengan demikian alat kelamin Cikokor membengkak dan dalam beberapa hari kesakitannya menjadi jadi.
Dalam keadaan setengah sembuh, Cikokor ke Jew dengan tujuan mau menikmati daging buaya dan telurnya. Kepadanya diberikan daging dan telur secukupnya dari orang yang mengambilnya. Sebutir telur disimpannya untuk membalas perbuatan isterinya. Maka keesokan paginya Cikokor mengajak Oanaut isterinya ke hutan mengambil ulat sagu. Ketika berkencan, telur buaya yang disimpannya itu dimasukkan ke dalam alat kelamin isterinya. Setelah berkencan isterinya merasa ada sesuatu yang tertinggal dalam rahimnya.
Selama mengandung, suaminya tak pernah mengunjunginya. Cikokor tinggal dalam Jew. Maka dengan mudah ia menghubungi saudara-saudaranya secara diam-diam untuk pindah.
Mereka merencanakan pindah ke muara sungai Bufit dan meninggalkan isteri dan ibu mertuanya. Maka terjadilah demikian. Seluruh warga masyarakat pindah meninggalkan Oanaut dan ibunya yang sedang berada di hutan mengambil pucuk sagu. Sekembalinya dari hutan, Oanaut dan ibunya menerima saja kenyataan yang terjadi. Kian hari anak buaya dalam kandungannya bertambah besar.
Konon anak buaya itu setelah besar sering keluar masuk rahim ibunya sedemikian rupa sehingga ibunya benar-benar merasa sakit. Pengalaman ini berjalan agak lama, sampai ibuny apun turut merasakan apa yang dialami anaknya Oanaut. Hingga suatu saat, ketika anak buaya itu keluar mencari makan di luar, Oanaut dan ibunya naik ke sipam (para para). Anak buaya itu terus menerus mencari ibu dan neneknya. Ditengah kesibukan mencari ibu dan neneknya, ıbunya berpesan darı atas sipam dengan mengatakan sebagai berikut:
"Cobalah turun ke air".
"Jika keadaan nyaman tinggallah di air"
"Jika kami panggil untuk makan, baru kamu bisa naik"
Anak buaya itu melakukan apa yang dipesan oleh ibunya. Ia tinggal hidup di dalam aır dan bertambah besar. Sebagai anak yang berdaya hebat, ia merasa berkewajiban menghidupi ibu dan neneknya yang tinggal sendirian tanpa orang lain. Maka dicobanya menangkap anak babi dan kasuari sekaligus dalam sehari. Hasil perburuan itu dibawanya kepada ibu dan neneknya. Ibu serta neneknya merasa sangat senang dan bahagia karena dapat menikmati daging setiap hari.
Suatu saat anak ini menanyakan nama ayahnya. Ibunya menjawab:
"Kau tak mempunyai ayah".
Jawaban tersebut tidak memuaskannya, sehingga berulang kali dia menanyakan dimana ayah dan nama ayahnya. Karena jengkel terhadap sikap dan perbuatan suaminya, Oanaut sama sekali tak mau memberitahukan nama suami itu kepada anaknya. Tetapi karena anak buaya itu terus mendesak, maka Oanaut terpaksa memberitahukannya dengan berkata:
Ayahmu bernama Cokokor.
Dia takut dan meninggalkan mama saat mama mengandungmu
Ayahmu sebagai tokoh penggerak massa untuk pindah ketika mama dannenekmu di tengah hutan mengambil pucuk sagu.
Maksudnya agar mama dan nenek menderita sendiri mengurusi kamusetelah lahir dan menjadi besar hingga kini.
Sekarang setelah kamu menjadi dewasa, menanyakan dimana ayahmu! Ayahmu hidup bersama semua warga masyarakat Mbait di muara sungai Bufit ini.
Mendengar itu, anak buaya tersebut sungguh menyayangi ibu dan neneknya.
Dan tekadnya untuk membalas kejahatan ayahnya mulai berputar di otaknya.
Dia bingung dan pusing memikirkan nasib seluruh keluarganya. Ditengah kebingungan, anak buaya tersebut tenggelam dan berenang menuju muara Bufit tempat ayahnya tinggal.
Setelah tiba di muara, dia timbul di permukaan air sambil memasang telinga kalau kalau ada orang memanggil nama ayahnya. Dia berputar putar di sekeliling kampung, tetapi tak terdengar orang memanggil nama ayahnya Cikokor. Akhirnya di ujung kampung ada orang memanggil nama Cikokor.
Maka perlahan lahan ia ke pinggir dekat perumahan ayahnya. Guna menarik perhatian seluruh anggota keluarganya, maka anak buaya tersebut memasukkan haluan perahu kecil milik bapanya ke dalam air. Beberapa pria dan wanita berupaya mengeluarkan perahu kecil itu tetapi usaha mereka sia sia belaka. Maka tibalah giliran Cikokor turun ke air untuk mencobanya. Ketika hendak menarik perahu kecil miliknya, Cikokor ditangkap anaknya di hadapan sanak saudaranya.
(Lanjut ke bagian 2..)
Konon buaya itu dapat berkata kata dan memberitahukan Cikokor bahwa dialah anak yang ditinggalkan bapa ketika ibunya mengandung. Setelah itu Cikokor dibawa ke tengah kali. Dia berpesan kepada ayahnya beberapa hal agar disampaikan ayahnya kepada pihak keluarga di darat. Pesan pesan yang disampaikan adalah sebagai berikut:
Yang menangkap saya adalah anak saya, anak kita dan saudaramu.
Dia akan mengantar kita kembali ke kampung lama dimana mamanya Oanaut ditinggalkan.
Jika tak menuruti kehendaknya, dia merencanakan akan membunuh saya sekarang ini juga dan akan berperang melawan Mbait menghabisi kamu semua.
Memang orang Mbait lalu mengumpulkan barang dan turun ke perahu masing masing untuk menuju ke kampung lama dimana Oanaut tinggal.
Cikokor dibawa anaknya menuju tempat ibunya berada. Setibanya di kampung lama, Cikokor pura pura menyayangi isterinya. Isterinya memaafkan perbuatannya dan memberi ampun atas tindakan balasan suaminya. Dengan demikian keduanya berdamai kembali disaksikan oleh anak buaya tersebut.
Setelah beberapa hari, Cikokor pura pura mengajak isterinya Oanaut memanggil anak buaya itu naik ke darat menuju Jew. Tujuannya adalah untuk membunuh buaya raksasa itu dalam Jew. Tanpa mengetahui rencana tersebut, Oanaut memanggil anaknya dari air dan mengijinkannya masuk rumah Jew.
Di rumah Jew mereka merias buaya tersebut dengan wasa (kapur merah) dan bi (kapur putıh) seraya memujı ketangkasannya menangkap babi dan kasuari.
Mereka berharap agar kelak bukan hanya babi dan kasuari, tetapi juga manusia dari kampung musuh menjadi sasarannya. Mendengar pujian dan harapan harapan warga Mbait, anak buaya itu seakan akan mengiyakan apa saja yang dıpesankan kepadanya. Setelah mulai petang, buaya itu disuruh keluar dan turun di kali. Tetapi sayang buaya tersebut ditombak dari pelbagai arah sehingga matilah anak kesayangan Oanaut.
Semua orang bersuka ria memakan daging buaya tersebut. Mendengar berita bahwa ada buaya yang terbunuh, seorang ibu tua bernama Apemanmak dengan tongkat datang ke depan Jew untuk menerima daging bagiannya.
Badannya kaskadu (kudis) dan penglihatannya sudah memburuk. Karena tidak bisa melihat dengan baik, para pemuda nakal memasukkan puntung-puntung api sebagai penggalan-penggalan daging dan pelepah nipah sebagai ekor buaya.
Setelah semua diisi dalam nokennya, Apemanmak pulang ke rumahnya.
Setibanya di rumah cucu-cucunya merasa lucu karena dalam noken nenek terlihat puntung puntung api. Ketika dilihatnya secara seksama bahwa yang ada di dalam noken adalah penggalan-penggalan kayu bakar, maka dıapun terdiam. Untuk melampiaskan kemarahannya dia ke hutan, mengambil segala jenis obat obatan. Obat obatan itu menyebabkan orang orang Mbait bubar dari Bufit pada malam itu juga. Mereka bubar dalam keadaan basah kuyup akibat hujan lebat. Masing masing perahu mengarah ke pantai menuju Safan atau selatan. Karena kencangnya angin, mereka tak tahu lagi arah kemana mereka pergi. Akhirnya mereka terdampar di kali Fayit tepatnya di Basiem. Di Fayit seorang bernama Basiemakap, moyang kampung Basıem sekarang, menerima mereka dan mengantar mereka ke arah Siretsj. Di muara Siretsj mereka terdampar lagi dekat kampung Omanesep dan Biwar. Saat itu warga Biwar dan Umanesep hendak membunuh semua warga Mbait. Namun seorang jagoan asal Omanesep bernama Oakat Simit tak menyetujui niat itu, bahkan dia sendiri mau mengantarnya ke kali Ciaf di Sirapoman (muara Siretsj).
Mereka hidup di Ciaf dalam waktu lama. Dari Ciaf, karena merasa kekurangan dusun sagu, mereka pindah lagi ke kali Seper di kampung Beriten sekarang.
Dari Seper, oleh Joakpit, seorang tokoh Bismam, Mbait dipindahkan ke kali Jo. Jo adalah anak sungai Bow, sungai masuk ke kampung Uwus. Jo inilah menjadi tempat pergi datang dari perpindahan (Jiwis) temporer, yang kalau dusun sagu sudah tipis mereka berpindah lagi ke tempat yang mereka kehendaki. Jika Jiwis ke kali mana saja seperti Jep, Jum, Jirar, Sam, Benew dan Sosor, ia selalu kembali ke Jo.
Akhirnya saat kelompok Mbismam yang terdiri dari kampung Syuru, Ewer, Uwus, Per, Beriten terpecah belah di kali Bow, Mbait bergabung dengan Syuru untuk sekian lama. Kini terhitung sejak tahun 1988 sampai 1993, kelompok Mbait telah berusaha memisahkan diri. Maka sejak tahun 1993 secara resmi kampung ini terpisah dari kampung Syuru berkat dukungan serta persetujuan pelbagai pihak. Dan seorang tokoh yang berjasa dalam perpisahan ini adalah Bapak Willem Wof.
NB:
cerita manusia melahirkan anak hewan tak jarang terdengar dan terjadi di kawasan Asmat. Ini pralambang hubungan yang erat antara manusia dengan alam.







