“Sa su bilang, jangan pernah panggil dorang masuk di kita pu dusun! Sapa yang ajar koe? Itu sa pu tete nene tidak pernah ajar begitu. Setan kamu orang! Kalau kampung lain mo kasih masuk tra pa-pa, itu mereka otak mati semua. ”Tete Sisomor tak berhenti marah sejak kemarin sore. Ia berteriak di depan Rumah Je. Sesekali ia masuk ke dalam Je, lalu menangis mengalunkan senandung kesedihan. Mama-mama yang ada di dekat situ pun ikut menangis. Suara lirih yang serak itu mengalun semalaman, menjadi satu-satunya suara yang terdengar di kampung. Layaknya kampung sedang berduka. Sungguh berduka. “Sudah-sudah! Saya ini kepala kampung, saya yang atur. Biar sudah mereka masuk. Yang penting kita dapat bayar. Kita bisa beli gula kopi. Bisa hisap rokok. Mereka kasih kita bensin. Sudah-sudah!” “Babi hutan! Ko mama dulu kasih ko minum bensin kah? Ooo… ko mama yang kasih makan ko kecil dengan rokok, hah?!” Tete mengurung diri di dalam Rumah Je. Nene Toyakap menyuruh cucu perempuannya mengantarkan sagu dan udang bakar untuk Tete Sisomor. Dibiarkannya sagu dan udang itu disantap oleh Minta, anjing kesayangan Tete Sisomor yang selama ini setia menemani Tete tinggal di bevak. Sudah hampir delapan belas tahun, Tete Sisomor tinggal di bevak kecilnya di tengah hutan seorang diri. Entah apa yang membuatnya memilih tinggal di hutan. Ia menjadi satu-satunya penjaga hutan. Banyak orang mengira ia hantu, sebab tak satupun orang seperti dia. Banyak orang bilang Tete sudah lama mati. Tubuhnya sudah menyatu dengan pohon beringin tua di Kali Bunar, tempat bersejarah orang Asmat Keenok. Belakangan, burung Ufur si Kakatua Hitam sering terbang melintas di atas kampung. Sendirian, tanpa ada yang lain menemaninya. Suaranya suka mengagetkan seisi kampung. Orang menjadi bertanya-tanya, ada gerangan apa yang akan terjadi. Kampung yang damai tiba-tiba menjadi ramai dengan suara tangisan. Paitua Ndo pagi-pagi buta sudah duduk di teras Pastoran sambil menghisap pipa, ditemani anak bungsunya. Ia menunggu Bapa Pater keluar dari Kapel. “Halo Ndo, bagaimana? Kenapa pagi-pagi sudah datang?” Paitua Ndo langsung berdiri, berusaha mencari-cari tongkatnya. Tombeap, si anak perempuan, langsung memegang tangan orang tua itu dengan sigap seraya menuntun tangan Paitua menuju tongkatnya. Pipanya jatuh ke bawah jalan jembatan. Tombeap langsung lompat ke bawah, berusaha secepat mungkin menyelamatkan pipa lapuk itu sebelum benar-benar basah oleh lumpur. “Bapa, aduh minta maaf pagi-pagi sa sudah mengganggu.” Ia berhenti bicara, sibuk memasukkan tembakau lempeng ke dalam pipa. Mulutnya sekuat tenaga menghisap pipa yang setengah basah itu. “Saya dapat mimpi setiap malam. Tidak baik sekali. Moyang datang hampir setiap malam. Mereka semua datang. Paitua Takane, Paitua Mbes, Paitua Sati. Semua, Pater. Semua!” Bapa Pater dengan raut wajah keheranan berusaha menangkap maksud omongan Paitua Ndo. “Heran, kenapa ya? Kemarin ko tidak datang ikut pesta roh, kenapa?” “Pater, saya tidak mau ikut dorang pu salah-salah. Itu dong pelanggaran sekali. Dong bikin diri macam tidak tau adat.” Tiba-tiba ia berhenti. “Anak… tolong ko pi ambil api di Omowir pu rumah, sa pipa mati.” “Sstt… Tombeap tidak usah. Ini ada korek api.” Pater menyodorkan kotak korek api ke Tombeap. “Pater, dong bikin pamali banyak sekali. Anak-anak sekarang pikiran sudah rusak. Dorang pasang spiker di hutan sambil anyam topeng. Itu bisa kah?” Sedari tadi tangannya sibuk menyulut api ke dalam pipa. Pipa belum berhasil menyala. “Mbi dan Manmar dorang bawa ke operator punya kem, minta-minta gula kopi dan rokok.” “Mungkin karena itu moyang marah.” “Sa pikiran juga begitu, Bapa. Sa takut moyang marah baru kita semua mati. Di bevak sekarang berisik sekali. Operator tebang kayu di mana-mana. Anak-anak sekarang kasih masuk operator tidak pikir panjang. Kita berburu sudah setengah mati. Babi, kasuari, kangguru semua tidak ada. Takut suara mesin sensor.” “Coba ko lihat, Ndo. Setiap hari saya pimpin ibadat kematian di kampung. Sebentar kita sembayang di Paitua Emnarip pu rumah. Kasihan dia, sakit tidak baik. ”Paitua Ndo memegang erat tangan Tombeap. Berusaha kembali duduk di lantai. Sedari tadi Tombeap seperti orang ketakutan mendengar pembicaraan Pater dan Bapaknya. Mama-mama sedang sibuk menganyam di Rumah Bina, rumah serba guna milik Misi Katolik. Mereka sedang menyiapkan anyaman untuk upacara kelahiran Yesus. Suasana senyap. Tidak ada yang menangis lagi. Biasanya manakala menganyam, mereka ribut sambil melontarkan cerita-cerita lucu tentang bodohnya kaum laki-laki bagi mereka. Kadang mereka tidak habis-habisnya tertawa membahas mengapa ada laki-laki di dunia ini. Tetapi sejak kemarin dulu, tak ada satupun yang tersenyum. Anyaman tentang kelahiran Yesus itu tampak basah oleh air mata mereka yang jatuh. Cucu-cucu mereka banyak yang mati. Bergantian. Mama Toyakap dengan suaranya yang hampir habis tiba-tiba bersenandung lirih sekali. “Auuu… Tombes aaa… saya yang kasih rawat koee… saya yang kasih rawat ko punya mamaaa… ko belum balas sa punya kebaikan… kenapa ko kasih tinggal kami oooww… ko baru tau cari makan… oo… Tombes aaa…” Tidak lama suara tangisan mulai nyaring terdengar dari Rumah Bina. Semua mama-mama meratap. Pastor berdiri dekat lubang yang sudah digali. Beberapa orang sedang bersusah payah mengeluarkan air yang menggenangi lubang itu. Matahari sudah hampir tenggelam di ujung muara Kali Pomats. Semua orang berkumpul dalam upacara penguburan itu. Mereka tampak seperti batang-batang kayu berdiri mengelilingi kuburan. Tubuh mereka seluruhnya tertutup lumpur. Sebagai tanda duka yang mendalam, orang Asmat akan meratap di tepi sungai sambil membanting-banting tubuh mereka di lumpur. “Ya Tuhan Yesus Kristus, Engkau mengalami kematian sebagai manusia, tetapi dibangkitkan oleh kekuasaan Bapa dalam Roh Kudus. Kami percaya bahwa saudara kami Emnarip akan dibangkitkan oleh kekuasaan Bapa dalam Roh Kudus juga.” Suara Pastor berusaha sekuat mungkin memimpin ibadat penguburan itu. Burung Ufur melintas di atas mereka yang sedang menatap peti mati di samping liang kubur. Suaranya yang bergema membelah kesedihan mereka. Pastor seketika terdiam. “Tuhan, kasihanilah kami.” “Tuhan kasihanilah kami.” Semua orang berseru membalas doa sang Pastor. “Saudara-saudara, kami ingin supaya saudara mengetahui yang sebenarnya mengenai orang-orang yang sudah meninggal; supaya saudara tidak bersedih hati seperti orang-orang lain yang tidak mempunyai harapan.” Tangan Pastor membuat tanda salib di udara, sembari memercikkan air suci. Semua orang membuat tanda salib di dahi dan dada mereka. Seketika semua orang kembali membanting tubuh di lumpur sambil meratap. ** Tete Sisomor tidak hadir di acara penguburan. Ia terlalu sakit hati. Kesedihannya membuat ia tampak seperti batang kayu


