Edit Template

Asal Mula Terjadinya Kampung Yipawer dan Bu-Agani

Cerita asal: Kampung Yipawer

Diceritakan oleh: Bapak Tamneko

Diterjemahkan oleh: Yufen A. Biakai

Konon, di tepian Sungai Pomats, tepatnya di sebuah anak sungai bernama Esee yang terletak di dekat Kampung Yamas, hiduplah sebuah keluarga kecil. Keluarga tersebut terdiri dari ayah, ibu, dan seorang putra bernama Sot. Beranjak dewasa, Sot tumbuh menjadi pemuda yang sangat tampan dan pemberani. Di sana, tinggal pula seorang nenek bernama Bunai bersama mereka.

Alkisah, Bunai menaruh hati pada Sot. Seluruh keluarga memang menyayangi pemuda itu, namun perasaan Bunai jauh lebih dalam; ia sangat mencintai Sot dan bertekad menjadikannya sebagai suami. Untuk mewujudkan niatnya, Bunai berpura-pura mengajak cucunya itu pergi berburu.

Pada suatu hari yang cerah, saat kedua orang tua Sot pergi ke hutan untuk menokok sagu, suasana terasa sangat indah. Suara burung bersahut-sahutan, seolah mengiringi sang ayah yang sedang menyanyikan syair untuk memuji para leluhur. Di saat itulah, sang nenek mengajak Sot berburu dengan berkata, “Nenek pernah melihat sarang burung mambruk.” Sot menerima ajakan itu, dan mereka pun berangkat menuju lokasi sarang tersebut.

Sesampainya di muara sungai, Sot berhenti mendayung dan bertanya, “Di mana letak sarang burung mambruk itu?” Neneknya menjawab, “Masih jauh.” Pertanyaan dan jawaban serupa terus berulang berkali-kali hingga mereka tiba di muara Sungai Pomats.

Dari muara Pomats, mereka terus mendayung ke arah hulu Sungai Unir hingga akhirnya memasuki Sungai Por. Wilayah Por inilah yang sekarang dikenal sebagai Kampung Yipawer. Di sana, Bunai bertemu dengan kawan roh wanitanya, sang penguasa Sungai Por. Roh wanita itu bernama Jiwatowor, yang berarti “wanita dari lubang pohon jiwa.” Jiwa sendiri adalah sejenis pohon berwarna merah yang tumbuh di dataran tinggi dekat rawa-rawa sagu.

Penduduk setempat menyebut Jiwatowor dengan nama Tojiwar. Menurut kepercayaan orang Asmat, jika ada anak yang lahir dengan kulit kemerahan, anak tersebut dianggap sebagai titisan roh yang bersemayam di dalam lubang pohon jiwa.

Bagaimana nasib Sot? Pemuda itu, yang sedari awal tidak menyadari niat terselubung neneknya, akhirnya mulai mengerti. Baginya, keinginan neneknya sangat tidak masuk akal. Sot menangis sepanjang hari dan berupaya membujuk Bunai untuk pulang, namun segala usahanya sia-sia. Ia bahkan mencoba melakukan aksi mogok makan selama beberapa hari agar sang nenek mengurungkan niatnya, tetapi tetap tidak berhasil.

Sebaliknya, kedua nenek itu (Bunai dan Tojiwar) terus berusaha membujuk Sot agar berhenti bersedih. Akhirnya, Sot pun menyerah; ia berhenti menangis, mulai makan kembali, dan terpaksa menjadi suami bagi Bunai dan Tojiwar.


Catatan: Para penutur cerita di berbagai tempat, termasuk di Yipawer sendiri, mengisahkan bahwa penduduk Kampung Yipawer merupakan keturunan langsung dari Tojiwar, sementara penduduk Kampung Bu dan Agani adalah keturunan dari sang Bapak (Sot).

Asmat Archives

Asmat Cultural Archives and Research Center adalah lembaga independen di bawah naungan Ordo Salib Suci, yang didedikasikan untuk melestarikan, mendokumentasikan, dan memanfaatkan arsip yang berkaitan dengan sejarah dan budaya masyarakat Asmat.

Articles

Asmat Terei & Ji Atakam

Asmat Cultural Archives and Research Center

“Reconnecting the Asmat with Their Own Archives and Knowledge”

Newsletter

You have been successfully Subscribed! Ops! Something went wrong, please try again.

Get in touch

Copyright © 2026 Asmat Cultural Archives and Research Center

You cannot copy content of this page