Ceritera asal : Mbait
Diceriterakan oleh : Bapak Willem Wof
Diterjemahkan oleh : Yufen A.Biakai,BA
Di kali Powets hiduplah Biwirpits, sang gagah perkasa. Isterinya sang Jelita Teweraut. Biwirpits dan Teweraut bersama sama hidup dengan saudara saudaranya. Mereka tak mengenal sagu. Hanya ikan, pucuk nipah, buah nipah, siput serta kepiting menjadi makanan mereka sehari hari.
Suatu hari Biwirpits bermimpi menemui sejenis palma yang berduri di tengah hutan. Dalam mimpi yang sama, dia bersama isteri isterinya menebang palma itu, menokok serta mengolah sari tepungnya dan memakan tepung itu.
Enak…, lezat rasanya !! Setelah terbangun dari tidur, dia teringat dan termenung merenungkan isi mimpinya tadi. Maka keesokan harinya, dia pergi ke hutan mencari pohon impiannya. Setiap kali pulang seusai mencari pohon tersebut dia selalu merahasiakan usahanya itu. Tak pernah ia memberitahukan maksud kepergiannya kepada isteri isterinya. Suatu hari Teweraut mendekatinya seraya menanyakan maksud kepergiannya setiap hari ke hutan.
Namun ia sama sekali tidak mau menceritakan hal tersebut kepada siapapun
sampai ia menemukan pohon impiannya. Keadaan ini berlangsung terus sehingga isteri isterinya merasa jengkel. Mereka jengkel karena musibah bisa datang atas diri suami mereka, lagi pula karena Biwirpits tidak mau isteri isterinya mengikuti dia. Kejengkelan para isteri menyebabkan Biwirpits pindah ke Yew. Saudara saudaranya yang hidup di Yew selalu merindukan ia ikut serta ke hutan untuk berburu, tetapi ia tak pernah mau ikut. Sebab itu mereka menganggap dia pemalas. Mereka tak pernah mengetahui bahwa setelah mereka pergi berburu, Biwirpits ke hutan mencari pohon impiannya. Untuk mengelabui saudara saudaranya agar mereka tidak mengetahui kerjanya sehari hari, dia selalu mendahului saudara saudaranya tiba di Yew, sehingga dengan demikian Biwirpits memberi kesan seolah olah dia tak perah keluar. Karena itu tak jarang saudara saudaranya memarahinya, mengolok oloknya sebagai orang yang tak bertulang dan mencacinya sebagai orang pemalas. Sebab itu Biwirpits tidak selalu mendapat bagian dari hasil perburuan mereka. Dia selalu berkata:
“Dor capok baman pak a” yang artinya: saya tak berniat memakan hasil buruanmu..
Pada suatu hari Biwirpits ke hutan lagi. Di tengah hutan dia menginjak duri sagu, sehingga kakinya merasa sakit. Setelah pulang kembali ke rumah, dia mengambil taf (duri ikan kakap) untuk mencabut duri yang menusuk kakinya. Setelah mencabut duri itu, ia yakin bahwa itulah duri pohon impiannya, yang dicarinya setiap saat. Duri sagu tersebut dibawanya ke hutan, ditanam kembali di lumpur pada hulu sebuah anak sungai. Keesokan paginya, ia menengok kembali ke tempat duri itu diletakkan. Dan.. mengherankan !
Ajaib!! Ternyata sebatang pohon palma berduri sesuai dengan mimpinya tumbuh dalam semalam. Biwirpits melompat kegirangan.
Dalam beberapa saat tanpa diketahui orang lain termasuk isteri isteri dan saudara saudaranya, Biwirpits menengok pohon itu dengan penuh rasa bangga. Dia memelihara pohon sagu itu dengan teliti hingga berbunga. Pada suatu hari bunga pohon sagu itu diambil dan dibawa ke rumah untuk diperlihatkan kepada isteri isteri dan saudara saudaranya. Semua bersuka ria meloncat kegirangan serta memeluknya seakan akan terpenuhi kerinduan bersama yang selama ini tak pernah kunjung tiba. Isteri isteri dan saudara saudaranya diperintahkan untuk menyiapkan alat penokok sagu (amoses) yang terbuat dari kayu dan bambu,, juga alat penyaring sagu (of) yang terbuat dari nipah. Selain amoses dan of dibuat juga noken dari akar pandan yang dalam bahasa Asmat disebut bow ese. Untuk dirinya sendiri ia minta dibuatkan noken yang lebih besar dari pada noken isteri isteri dan saudara saudaranya. Setelah menyiapkan segala peralatan sesuai dengan mimpinya, Biwirpits mengantar seluruh anggota keluarganya ke hutan dimana pohon sagu itu tumbuh. Setelah melihat pohon tersebut, semua bersukaria dan mencium Biwirpits. Biwirpits menebang pohon tersebut. setelah tumbang dikeluarkannya duri duri, dikupas kulitnya dan ditokok, kemudian diramas sari tepungnya. Semua noken yang dibawa, diisi dengan tepung sagu hingga penuh. Karena beratnya Biwirpits tergelincir pada titian kayu setapak di tengah jalan menuju ke rumah. Dia tertanam sebatas leher dengan noken sagu di belakangnya. Saudara saudaranya berusaha mengangkatnya, namun usaha mereka sia sia belaka. Maka Biwirpits berpesan kepada mereka sebagai berikut :
- “Biarlah kamu pulang dahulu ke rumah”
- “Ketahuilah, akan ada hari buruk nanti malam. Taruhlah belahan perahu di atas rumah”
- “Bumi akan menjadi gelap. Guntur, kilat serta hujan akan melanda bumi inı semalaman”
Mendengar itu, mereka semua pulang sambil meratapi Biwirpits. Keesokan harinya mereka pergi lagi ke hutan mengikuti jejak ke tempat Biwirpits ditinggalkan. Setiba disana mereka tidak melihat Biwirpits. Yang mereka lihat adalah pohon pohon sagu di sekitar tempat Biwirpits tertanam. Mereka semua pulang meratapi Biwirpits yang berubah menjadi pohon sagu.
Sejak itu orang Asmat mengenal dan memakan sagu yang dalam bahasa Asmat disebut Ambas atau Amos. Amos berasal dari kata om os, yang berarti pohon palma yang tepungnya diambil untuk dimakan. Dari kata omos menjadi ambas atau amos dengan mendapat arti baru: dari pohon menjadi sari tepung. Memelihara dan menggunakan tepung sagu dengan sebaik baiknya berarti menghormati Biwirpits, sehingga dengan demikian Biwirpits pun memberi kesuburan pada pohon sagu dan orang yang memakan sari tepungnya. Memang dia lenyap dan menjadi pohon sagu demi kelangsungan kehidupan isteri, anak serta saudara saudaranya; simbol memberi tubuhnya sendiri sebagai makanan bagi umat manusia Asmat.







