SEJARAH KOTA AGATS
Hingga pertengahan abad ke-20, wilayah pesisir selatan Papua, dari kawasan Mimika hingga bagian barat wilayah Merauke, merupakan kawasan yang relatif jarang tersentuh oleh dunia luar. Masyarakat yang mendiami wilayah ini hidup dalam tatanan sosial yang kuat, dengan para pejuang (warriors) yang mempertahankan wilayah dan kehormatan kelompok masing-masing. Ketika interaksi dengan dunia luar mulai terbuka, kehidupan sosial, kebudayaan, serta seni masyarakat di wilayah ini kemudian menarik perhatian para pendatang dan peneliti.
Catatan mengenai perjumpaan paling awal dengan dunia luar muncul pada tahun 1606, ketika kapal San Pedro yang dinahkodai Kapten Luis Váez de Torres melintas di perairan selatan New Guinea. Torres mencatat keberadaan perahu-perahu di kawasan hutan mangrove yang oleh para peneliti diyakini berada di wilayah perairan Asmat. Pada tahun 1623, penjelajah Belanda Jan Carstensz juga melintas di kawasan ini, meskipun tidak tercatat melakukan kontak langsung dengan masyarakat setempat.
Kontak fisik yang lebih langsung tercatat pada 3 September 1770, ketika Kapten James Cook mendarat di wilayah Asmat. Kedatangan rombongan Cook mendapat perlawanan dari pejuang lokal yang melemparkan debu kapur dan tombak sehingga Cook memilih untuk mundur. Peristiwa serupa kemudian dialami oleh penjelajah Belanda, Kolff, pada tahun 1826.
Perjumpaan-perjumpaan tersebut belum serta-merta menghasilkan kehadiran permanen. Baru pada awal abad ke-20, serangkaian ekspedisi mulai membuka hubungan yang lebih intensif dengan wilayah Asmat, antara lain Ekspedisi Zuid Nieuw Guinea yang dipimpin H.A. Lorentz pada 1907, Ekspedisi Militer pada 1913, serta ekspedisi Lord Moyne pada 1936.

Sebelum tahun 1950, istilah “Asmat” belum digunakan secara luas untuk menyebut masyarakat yang mendiami wilayah ini. Orang-orang Mimika menggunakan sebutan “Manawe”, yang berarti pengayau atau pemburu kepala. Ketegangan antara kelompok-kelompok di wilayah Asmat dan masyarakat Mimika menjadi salah satu alasan pemerintah kolonial mulai menempatkan pos-pos pengawasan di wilayah perbatasan.
Dalam konteks inilah Felix Maturbongs menjalankan tugasnya sebagai Bestuurs Assistent. Dari 14 Januari 1937 hingga 28 April 1938, ia bertugas di Yapero, Mimika, Papua Bagian Selatan. Pos Yapero dibangun antara lain untuk menjaga keamanan karena pada masa itu orang-orang dari wilayah Asmat sering datang ke wilayah Mimika dan terlibat dalam konflik antarkelompok. Masyarakat Mimika yang tinggal di kampung-kampung dekat sungai dan pantai yang berbatasan dengan wilayah Asmat hidup dalam situasi yang penuh kekhawatiran.

Sebagai Bestuurs Assistent, Felix Maturbongs kemudian mendapat tugas mencari lokasi yang sesuai untuk mendirikan pos pemerintahan di wilayah Asmat. Ia melakukan perjalanan keliling (tournee) menyusuri wilayah Asmat untuk mencari tempat yang dianggap paling tepat.
Setelah berbulan-bulan, Felix Maturbongs menemukan sebuah lokasi cocok untuk mendirikan pos pemerintahan. Lokasi tersebut memiliki nama asli Blutseweu atau Buciew, yang berarti “mata air”. Karena nama tersebut dianggap sulit diucapkan, Felix kemudian menggunakan nama Akatsj, yang berarti “baik” atau “bagus”. Dalam pengucapan orang Belanda, Akatsj kemudian terdengar sebagai “Agats”, nama yang digunakan hingga sekarang.
Sekembalinya dari perjalanan, Felix melaporkan hasil temuannya kepada Assistent Resident di Fak-Fak. Rencana pendirian pos baru tersebut kemudian mendapat persetujuan dari pihak Fak-Fak maupun Ambon.
Pada 1 Mei 1938, Felix Maturbongs diangkat sebagai Bestuurs Assistent di wilayah Pomatsj dan menetap di Akatsj. Pada masa inilah sebuah permukiman awal mulai dibangun. Rumah-rumah darurat didirikan berjajar di sepanjang pantai, sementara jalan-jalan dibuat menggunakan papan karena kondisi tanah yang masih berupa rawa dan selalu berair.
Permukiman tersebut berada di tengah-tengah, antara Kampung Ayam di sebelah kanan dan Kampung Syuru di sebelah kiri. Felix Maturbongs kemudian memulai pekerjaan di wilayah Asmat tengah. Setelah beberapa waktu, ia meminta izin kepada atasannya untuk melanjutkan pekerjaan pembangunan dan permukiman.
Berbagai kebutuhan didatangkan dari Ambon, mulai dari bahan bangunan, makanan, hingga pakaian. Kapal pemerintah secara rutin datang setiap bulan untuk membawa logistik bagi penduduk dan pos Agats. Untuk menjaga keamanan, pasukan veldpolitie diganti setiap enam bulan dan didatangkan langsung dari Ambon. Sementara itu, para tukang didatangkan dari Kepulauan Kei-Tual.
Masyarakat Asmat dari berbagai kampung juga dilibatkan secara bergiliran dalam pekerjaan pembangunan. Sebagai imbalan, mereka menerima kapak, parang, pisau, dan pakaian.
Perintisan pendidikan juga mulai dilakukan. Felix meminta bantuan guru-guru dari Misi di Langgur, Kepulauan Kei. Tiga guru pertama tiba pada April 1941. Pada 1 Agustus tahun yang sama, sekolah mulai beroperasi di Ayam, Syuru, dan Ewer. Kehadiran sekolah menjadi salah satu awal dari perkembangan pelayanan misi di wilayah Asmat.
Namun, perkembangan awal tersebut terhenti akibat Perang Dunia II. Ketika tentara Jepang menduduki Timika, Felix Maturbongs menerima telegram dari Residen Merauke yang memerintahkan agar seluruh penduduk (para pendatang) Agats dievakuasi ke Merauke dan pos Agats dimusnahkan. Pada 26 Januari 1943, Felix bersama seluruh warga Agats berangkat menuju Merauke menggunakan kapal Herman dan tiba di sana pada 28 Januari 1943.
Setelah Perang Dunia II berakhir, dua kelompok besar masyarakat Asmat kembali datang ke wilayah Mimika. Pada tahun-tahun itulah karya misi di kalangan orang Asmat dimulai kembali. Ketika pada tahun 1949 kepulangan orang-orang Asmat ke wilayah mereka diatur oleh pihak Pemerintah (Bestuur), para pastor di Mimika mendiskusikan kemungkinan bahwa Pastor Zegwaard akan ikut pergi bersama rombongan Asmat. Hal ini dapat berarti bahwa sekolah-sekolah bersubsidi milik orang Asmat di Mimika akan dipindahkan ke ‘wilayah yang belum diperintah’ (onbestuurd gebied), yaitu Asmat sendiri, dan dengan cara demikian Misi akan memulai karya mereka di sana sebelum Pemerintah mendirikan pos di wilayah tersebut.
Pastor Zegwaard menulis:
Setelah kepindahan mereka pada tahun 1949, orang-orang Asmat masih secara teratur datang dalam kelompok-kelompok kecil untuk berkunjung secara damai ke Kokonao, sehingga saya dapat mempertahankan hubungan yang telah terjalin dan tetap mendapat gambaran umum tentang apa yang terjadi di Asmat.
Selama tahun 1950 sampai 1953, Pastor Zegwaard dan Pastor Welling rutin melakukan perjalanan ke hampir seluruh wilayah Asmat di bagian Barat. Hingga akhirnya Pastor Gerard Zegwaard, MSC, memutuskan untuk menetap di Akatsj dan membangun kembali pos yang sebelumnya pernah didirikan pada masa pemerintahan kolonial sebelum perang.
Pemilihan Akatsj bukan tanpa alasan. Lokasinya dianggap strategis karena berada di mulut Teluk Flamingo, tempat bermuaranya Sungai Lorentz (Unir) dan Sungai Pomatsj.
Pada tahun 1953, Pastor Zegwaard bersama Pastor Welling mulai membangun permukiman yang lebih permanen. Kondisi geografis Agats menjadi tantangan utama. Lahan rawa yang selalu terendam air pasang harus diperkuat, sementara parit-parit digali untuk membantu mengeringkan tanah. Rumah-rumah yang sebelumnya menggunakan daun sebagai dinding mulai diganti dengan gaba-gaba, yaitu pelepah sagu.


Bruder Ariens dan Pastor Welling turut membuka lahan untuk permukiman dan kebun. Mereka membangun jalan dari tepi sungai menuju hutan, mendirikan sekolah dan fasilitas penyimpanan, serta membangun rumah misi permanen dari kayu besi.
Meskipun menghadapi keterbatasan logistik, gangguan nyamuk, pencurian, serta kondisi lingkungan yang berat, kehidupan di Agats mulai berkembang. Kedatangan kapal Carstensz pada Mei 1953 dan masuknya perusahaan perdagangan kayu IMEX turut membuka keterisolasian Agats dari dunia luar.

Memasuki tahun 1954, perkembangan Agats memasuki tahap baru. Residen Merauke, Y.Y. Spyker, semakin kuat mendorong pendirian pos pemerintahan resmi di Agats.
Pada saat yang sama, sejumlah tokoh dari luar mulai mengunjungi wilayah tersebut. Van Doorenmalen, Kepala Pendidikan, dan wartawan dari Dutch South East News Press, Tuan Bertels, mengunjungi Syuru dan turut mempublikasikan kondisi perintisan wilayah Asmat kepada masyarakat di Belanda.
Di lapangan, agen pemerintah lokal, Tuan Palit, mulai membersihkan lahan pemerintah, menggali parit, serta membangun asrama polisi, gudang, dan rumah singgah menggunakan tiang-tiang kayu besi.
Namun, kehadiran pemerintah tidak berlangsung tanpa dinamika. Terdapat perbedaan kepentingan antara wilayah yang dikembangkan oleh misi dan wilayah yang hendak dikembangkan oleh pemerintah. Kepala Pemerintahan Setempat, A.R. Scheele, bahkan mengusulkan agar ruang antara wilayah misi dan pemerintah dibiarkan terbuka sehingga dapat digunakan bersama untuk perayaan dan kegiatan olahraga.
Ketegangan mengenai batas wilayah juga terlihat dalam proses pemetaan. Pada peta sketsa wilayah baru yang dibuat oleh Residen Y.Y. Spyker, batas wilayah misi ditandai secara khusus. A.R. Scheele kemudian menggarisbawahi bagian tersebut dan memberi tanda tanya, mempertanyakan luas wilayah misi yang dianggap terlalu besar.
Dalam situasi tersebut, persoalan yang dihadapi pemerintah bukan hanya mengenai pembangunan fisik, tetapi juga bagaimana memahami masyarakat Asmat yang akan menjadi bagian dari wilayah administrasi baru.
Karena itu, pemerintah meminta bantuan Pastor Boelaars, yang juga merupakan etnografer di wilayah selatan, untuk mempelajari masyarakat Asmat secara antropologis. Selama lima minggu, Pastor Boelaars bersama Pastor Zegwaard melakukan penelitian mengenai struktur sosial masyarakat Asmat. Hasil penelitian tersebut kemudian digunakan sebagai salah satu dasar bagi pemerintah dalam menentukan kebijakan.
Perbedaan orientasi antara kedua pihak menjadi semakin jelas. Misi membangun berdasarkan kebutuhan pelayanan Katolik, sedangkan pemerintah Belanda membangun berdasarkan kebutuhan administrasi pemerintahan.
Meski demikian, hubungan keduanya juga tidak sepenuhnya bersifat pertentangan. Ada kepentingan yang mengikat keduanya melalui perjanjian antara Mgr. Tillemans, MSC, dan pemerintah Belanda: misi akan membuka pelayanan di suatu wilayah apabila pemerintah juga membuka pos di wilayah yang sama.
Pada akhirnya, misi dan pemerintah memiliki kepentingan yang saling beririsan. Wilayah Asmat dianggap sebagai kawasan yang sulit dijaga kestabilannya, sementara membiarkannya tidak tersentuh juga dipandang dapat berdampak terhadap keamanan wilayah tetangga, terutama Mimika dan Merauke.
Tahun 1955 menjadi salah satu periode paling menentukan dalam sejarah Agats.
Pada paruh pertama tahun tersebut, Agats menghadapi krisis keamanan akibat meningkatnya perang antar kampung dan maraknya pencurian. Kondisi lingkungan yang berlumpur dan berat membuat Agats bahkan digambarkan sebagai “a very bad place to live in”. Sejumlah petugas, termasuk mantri kesehatan, pegawai kantor, dan tukang, memilih meninggalkan Agats.
Kondisi tersebut memunculkan keraguan mengenai kelayakan Agats sebagai pusat pemerintahan. Kepala Pemerintahan Setempat, A.R. Scheele, memandang Agats tidak layak (unfit), baik secara geografis maupun psikologis, untuk dijadikan pusat pemerintahan.
Perbedaan pandangan kemudian muncul antara pemerintah daerah di Merauke, yang melalui Residen Boendermaker mendukung Agats, dan otoritas pusat di Hollandia.
Titik balik terjadi pada pertengahan Juni 1955 ketika Gubernur Hollandia, Jan van Baal, mengunjungi Agats menggunakan pesawat Catalina. Kunjungan tersebut memberinya kesempatan untuk melihat secara langsung kondisi wilayah yang selama ini menjadi bahan perdebatan.
Di satu sisi, Van Baal menegaskan bahwa tanggung jawab atas wilayah Asmat sepenuhnya berada di tangan pihak Administrasi, yang tidak memerlukan arahan dari pihak Misi. Di sisi lain, ia begitu terkesan dengan situasi di sana hingga berulang kali berkomentar: “Ini seperti Merauke tahun 1902!”
Setelah meninjau Agats, Van Baal memutuskan untuk mengakhiri keraguan mengenai kedudukan wilayah tersebut. Ia secara resmi menetapkan Agats sebagai pusat kedudukan pos pemerintahan dan merancang program pembangunan selama dua tahun untuk menata Agats menjadi sebuah kota kecil, melengkapi fasilitas administrasi, serta mendatangkan tenaga kerja dari berbagai sektor.
Keputusan pada Juni 1955 tersebut menjadi titik penting dalam sejarah Agats. Sebuah permukiman yang sebelumnya dibangun di atas lahan rawa dan mengalami beberapa kali perubahan fungsi akhirnya ditetapkan sebagai pusat pemerintahan dan administrasi di wilayah Asmat.


Setelah penetapan tersebut, Agats berkembang tidak hanya sebagai pusat administrasi pemerintahan, tetapi juga sebagai sebuah kawasan yang semakin terbuka dan menarik kedatangan banyak pendatang.
Menjelang akhir tahun 1958, rombongan pertama misionaris Krosier tiba di Agats melalui Merauke. Kehadiran mereka kemudian turut mendorong perkembangan pembangunan di wilayah ini. Para misionaris OSC membuka kebun kelapa di sekitar wilayah misi, membangun sekolah dan asrama, serta terlibat dalam berbagai pembangunan lainnya.
Perkembangan infrastruktur kemudian berlanjut dengan pembangunan Bandara Ewer pada tahun 1967. Pembangunan tersebut dipimpin oleh Bruder Joseph DeLouw, OSC. Pendaratan pertama pesawat Cessna dilakukan oleh Pilot Bruder Tom Benoit, OSC, yang terbang dari Bandara Sentani.


Perjalanan Agats sejak masa awal hingga hari ini menunjukkan bahwa kota ini tidak lahir dalam satu peristiwa tunggal. Agats terbentuk melalui rangkaian panjang perjumpaan, perintisan, penghentian akibat perang, kembalinya misi, pembangunan permukiman, masuknya pemerintahan, penelitian mengenai masyarakat Asmat, perdebatan mengenai kelayakan wilayah, hingga keputusan politik pada tahun 1955.
Hari ini, Agats telah berkembang jauh dari bentuk awalnya sebagai permukiman di atas rawa. Kota ini menjadi tempat tinggal bagi puluhan ribu orang sekaligus menjadi ruang perjumpaan berbagai kelompok, kepentingan, dan perubahan.
Namun, perkembangan tersebut juga membawa tantangan. Sebagian wilayah Agats telah mengalami perubahan akibat erosi, sementara pertumbuhan penduduk dan pembangunan terus mengubah wajah kota.
Pertanyaan mengenai masa depan Agats karena itu tidak hanya menyangkut bagaimana kota ini akan dibangun, tetapi juga bagaimana sejarahnya akan diingat.
Sebagai generasi yang hidup di Agats hari ini, kita memiliki tanggung jawab untuk tidak melupakan rangkaian peristiwa yang membentuk kota ini. Sejarah Agats bukan hanya kisah tentang pembangunan sebuah pusat pemerintahan, tetapi juga kisah tentang manusia, lingkungan, perjumpaan, konflik, pengetahuan, dan keputusan-keputusan yang dari waktu ke waktu membentuk kota ini.
Memahami sejarah Agats berarti memahami bahwa kota ini tidak muncul begitu saja. Ia dibentuk oleh proses panjang—dan karena itu, masa depannya juga berada di tangan generasi yang hidup di dalamnya hari ini.
Dormom.
Sumber:
Van Kessel MSC, Kees. Asmat Mission History.
Zegwaard MSC, G., Bijdrage Het Asmatgebied.
Maturbong, Victoria. Riwayat Kota Agats. 1967.
N. Kelanit & E. Rahawarin. Pembukaan Agats. 1982











End of Content.
Asmat Cultural Archives and Research Center
“Reconnecting the Asmat with Their Own Archives and Knowledge”
Copyright © 2026 Asmat Cultural Archives and Research Center
You cannot copy content of this page