Cerita asal: Kampung Yamas
Diceritakan oleh: Bapak N. Owse
Diterjemahkan oleh: Yufen A. Biakai
Sok adalah seorang tokoh terpandang dari Kampung Canir, salah satu kampung kelompok Kaimes yang kini telah punah, yang dahulu terletak di hulu sungai Wumpok, anak Sungai Fai. Dalam setiap perencanaan pesta maupun perang, Sok selalu berada di barisan terdepan untuk membakar semangat seluruh warga kampung. Tak heran jika semua orang sangat menghormati dan tunduk kepadanya.
Konon, pada suatu masa, masyarakat Canir sedang menyelenggarakan pesta peringatan roh orang mati yang dalam bahasa Asmat disebut Jipai atau Jipuy. Sebagaimana lazimnya, suatu hari Sok pergi ke Jew (rumah adat) sambil menghias dirinya dengan bulu burung kakatua putih, hiasan khas suku Asmat. Sok menari hula-hula Asmat seorang diri sembari berseru, “Putra-putriku dan saudara-saudaraku, Sungai Fai sungguh indah!” Ungkapan tersebut merupakan caranya memberikan semangat kepada masyarakat kampung.
Di tengah keasyikannya menari dan memberi semangat, sang istri datang ke Jew dan mengajaknya ke hutan untuk memasang sero (jebakan ikan). Dengan berat hati, Sok mengambil sero tersebut lalu berangkat menuju anak Sungai Esyat yang letaknya tidak jauh dari kampung. Namun malang nasibnya, saat hendak memasang jebakan tersebut, Sok justru terjerat dan terbungkus di dalam sero-nya sendiri. Istrinya mencoba menolong, namun usahanya sia-sia. Sok hanyut ke tengah sungai, lalu sempat muncul ke permukaan bersama sero tersebut dan berpesan kepada istrinya:
“Pergilah ke kampung dan beritahukan peristiwa ini kepada seluruh penduduk. Aku kini berada di tangan Ndat Jumu atau roh topeng. Sebenarnya ini salahmu, karena engkau berani mengajakku keluar dari Jew di tengah lantunan lagu suci dan di antara para Ndat Jumu.” Setelah berkata demikian, Sok hanyut terbawa arus menuju muara Sungai Jii. Di sana, Sok tenggelam selamanya dan menjadi penghuni dasar sungai.
Istrinya kembali ke kampung sambil meratap hingga tiba di hadapan penduduk. Ia menceritakan kejadian tersebut kepada semua orang. Dengan perasaan sedih yang bercampur jengkel terhadap istri Sok, masyarakat berbondong-bondong menuju muara Sungai Jii. Di antara kerumunan itu, para menantu Sok merasa paling bertanggung jawab atas keselamatan mertua mereka. Mereka memotong sebatang pohon bakau (Je) yang panjang dan menancapkannya di muara sungai sebagai pemandu.
Satu per satu para menantu menyelam mengikuti batang kayu tersebut, mulai dari yang termuda hingga yang tertua. Menantu yang terakhir akhirnya berhasil menemukan Sok di dasar sungai dalam keadaan yang sangat mengherankan. Mengapa demikian?
Konon, kayu bakau tadi tertancap tepat di dekat sebuah rumah di dasar sungai. Di sana, Sok ditemukan sedang asyik menari di dalam rumah tersebut. Ternyata, masyarakat di dasar Sungai Jii juga sedang merayakan pesta Jipai. Meski sang menantu telah membujuknya untuk pulang, Sok tidak mampu melepaskan diri dari cengkeraman roh-roh tersebut. Akhirnya, sang menantu kembali ke permukaan dengan membawa pesan terakhir dari Sok:
“Sampaikanlah kepada seluruh penduduk kampung apa yang telah kau lihat di sini. Aku akan tetap menjadi penghuni tempat ini. Dan satu hal, jangan pernah menganggap remeh Ndat Jumu.”
Menantu itu naik mengikuti batang kayu hingga muncul di permukaan dalam keadaan tidak sadarkan diri. Setelah siuman beberapa menit kemudian, ia menceritakan kembali segala keajaiban yang dilihatnya serta pesan dari Sok. Setelah mendengar kisah aneh tersebut, mereka semua pulang ke kampung sambil meratapi kepergian Sok sepanjang hari.
Catatan: Itulah sebabnya topeng roh dianggap sebagai benda suci yang memiliki kekuatan dan harus dihormati. Keputusan Sok untuk keluar dari Jew saat prosesi sakral dianggap tidak wajar karena mengabaikan nilai kesucian dan tidak menghormati roh-roh yang namanya disematkan pada topeng-topeng dalam pesta Jipai.




