Asal Cerita: Kampung Yamas
Narasumber: Bapak Norbertus Owse
Penerjemah: Yufen A. Biakai
Kelahiran dari Pohon Beringin
Kisah Ufiripits, seperti halnya Fumiripits, sangat tersohor di tanah Asmat sebagai mitos asal-usul perayaan pesta Emak-cem. Peletak dasar pesta ini dikisahkan menyusuri pantai menuju wilayah Emari (Barat) demi mencari tempat kebahagiaan dan kedamaian abadi.
Konon, di hulu sungai Ayip, hiduplah dua gadis di dalam lubang pohon beringin. Karena tempat tinggal mereka, keduanya disebut Ucukamoraot (Ucu: pohon beringin; Kamor: penjelmaan roh halus; Aot: wanita). Menurut legenda, mereka sering menjelma menjadi burung nuri yang terbang kian kemari di dusun sagu, berteriak di atas pepohonan seakan mencari sahutan dari manusia.
Di wilayah yang sama, hiduplah seorang lelaki tua bernama Ufiripits. Suatu hari saat berburu, Ufiripits hendak memanah burung-burung nuri tersebut. Namun, burung-burung itu menghilang dan kembali ke pohon beringin untuk menunggu sang lelaki tua. Setibanya Ufiripits di sana, tanpa sepatah kata pun, kedua roh tersebut menghampiri dan masuk ke dalam tubuhnya.
Kelahiran Omoraot dan Bafaraot
Ufiripits seketika kemasukan roh. Tangan kanannya menjadi tak berdaya dan terasa panas. Tak lama kemudian, muncul bisul besar yang sangat menyakitkan hingga ia tidak bisa tidur. Dalam mimpinya, roh-roh itu membisikkan nama mereka dan meminta agar bisul tersebut dibelah keesokan harinya.
Saat dibelah, keluarlah dua bayi kecil. Sesuai pesan di mimpi, Ufiripits menamai yang tertua Omoraot dan adiknya Bafaraot. Ia membesarkan kedua putri tersebut dengan penuh kasih sayang.
Tipu Muslihat Ufiripits
Setelah kedua putrinya dewasa, Ufiripits mulai merasa tertarik pada mereka. Ia pun menyusun rencana licik dengan membangun sebuah rumah di hilir sungai Ayip serta membuat jalan potong (Bes) di daratan agar lebih cepat sampai ke sana dibandingkan melalui sungai yang berliku.
Ufiripits kemudian berpura-pura sakit parah. Di hadapan kedua putrinya yang sedang menangis, ia memberikan pesan terakhir:
“Jika aku meninggal, buatkanlah para-para (ko) yang tidak terlalu tinggi dan bungkuslah mayatku dengan tikar (tapen) yang baik tanpa perlu mengikatnya dengan kuat. Setelah itu, pergilah kalian menyusuri sungai ini hingga menemukan sebuah rumah. Di sana kalian akan bertemu dengan ‘bapak muda’ yang wajah dan sifatnya persis denganku.”
Setelah berkata demikian, Ufiripits berpura-pura mati. Saat Omoraot dan Bafaraot pergi melaksanakan pesannya, Ufiripits segera bangkit, membongkar bungkus tikarnya, lalu berlari lewat jalan potong menuju rumah di hilir. Di sana, ia menunggu kedua putrinya untuk dijadikan istri. Ketika mereka tiba sambil menangis, Ufiripits bersandiwara seolah ikut berduka atas “kematian” kakaknya.
Penyesalan dan Hukuman
Singkat cerita, Omoraot dan Bafaraot akhirnya menjadi istri Ufiripits. Omoraot melahirkan Kurap, dan tiga tahun kemudian Bafaraot melahirkan Sawarap.
Suatu hari, saat kedua wanita itu sedang menokok sagu, alat milik Bafaraot rusak. Ia pun pulang untuk mengambil alat baru. Dari kejauhan, ia mendengar Ufiripits sedang membujuk anaknya, Sawarap, yang tengah menangis dengan berkata: “Engkau adalah anakku, sekaligus cucuku sendiri.”
Mendengar rahasia itu, Bafaraot merasa sangat terhina dan malu karena telah menikahi ayahnya sendiri. Ia segera memberitahu kakaknya. Meski awalnya Omoraot ragu, kebenaran itu tak lagi terbantahkan. Mereka pun bertekad membunuh Ufiripits.
Mereka membuat jebakan berupa bubu raksasa (Sasa) yang telah diolesi obat-obatan magis di muara sungai. Saat Ufiripits turun untuk mandi, ia terjebak di dalam bubu tersebut. Sebelum tenggelam selamanya menjadi raksasa laut (Cesar Pak), Ufiripits memberikan pesan terakhir agar mereka pergi ke arah Barat (Emari) menggunakan perahu yang terbuat dari batang pohon sagu.
Dalam perjalanan, lahir seorang anak bernama Seos dari rahim Bafaraot. Seos adalah anak ajaib yang sudah bisa berbicara sejak dalam kandungan dan langsung mengambil alih kepemimpinan. Ia menuntun rombongan tersebut hingga tiba di Upuye dan Esamu.
Keadaan dan Kehidupan di Upuye dan Esamu
Sehari setelah tiba di Upuye dan Esamu, Omoraot dan Bafaraot pergi menjaring ke tengah laut. Dalam upaya tersebut, mereka berhasil mendapatkan seekor paus raksasa. Atas perintah Seos, kulit paus itu diambil untuk dijadikan atap rumah Jew, sementara tulang belakangnya digunakan sebagai tiang-tiang tungku api yang dalam bahasa Asmat disebut Jew bisip. Setelah bahan-bahan itu terkumpul, Seos berseru: “Wahai atap dan tiang-tiang, jadilah rumah Jew!” Maka terjadilah rumah itu sesuai dengan perkataannya.
Keesokan harinya, Kurap dan Sawarap pergi mengambil bahan-bahan tambahan untuk mendirikan rumah pesta yang disebut Emak-cem. Nama ini berarti “Rumah Tulang” (Emak: tulang; Cem: rumah), karena separuh dari ramuan bangunannya menggunakan sisa-sisa tulang paus tersebut. Setelah Emak-cem berdiri, mereka mulai memukul tifa sepanjang malam dengan iringan terompet bambu (Fu) yang melantunkan nada biku wompa secara silih berganti.
Pada pagi berikutnya, muncul seorang tua bernama Jisbermerat yang datang dari hutan membawa noken penuh berisi benda-benda jimat. Ia memberitahu Kurap dan Sawarap bahwa lagu-lagu yang mereka nyanyikan semalam belum lengkap. Jisbermerat kemudian memberikan noken jimat tersebut untuk melengkapi ritual mereka sebelum ia pergi menghilang.
Namun, sebuah keanehan terjadi. Selama dua malam berturut-turut, rumah yang telah mereka bangun selalu ditemukan dalam keadaan bongkar bangkir tanpa diketahui pelakunya. Untuk mengakhiri kekacauan itu, Seos diminta berjaga pada malam ketiga. Ternyata, sosok yang selama ini merusak rumah tersebut adalah seekor biawak raksasa (Jok) yang naik dari dasar laut. Dengan kekuatannya, Seos berhasil membunuh biawak tersebut malam itu juga.
Sejak saat itu, Seos menetap di dalam Rumah Tulang hingga akhir hayatnya. Jasadnya diyakini berubah menjadi tulang-tulang dan kepingan besi yang kemudian digunakan oleh masyarakat untuk membangun rumah-rumah di Upuye dan Esamu. Sebagai jejak perjalanan mereka, di setiap pantai yang pernah disinggahi Omoraot dan Bafaraot, mereka menggali sumur dan menanam ruas bambu di pinggirnya. Hingga kini, sumur-sumur tersebut tetap mengeluarkan air tawar yang segar meski letaknya sangat dekat dengan air laut yang asin.






