Edit Template

Otapor Disambar Ular Piton (Bini) Di Sungai Pi

Cerita asal: Kampung Yeni

Diceritakan oleh: Darius Faya

Diterjemahkan oleh: Yufen A. Biakai

Ada seorang pemuda gagah perkasa bernama Otapor. Pekerjaannya sehari-hari adalah berburu, dan sang perkasa itu selalu berhasil membawa pulang banyak hasil buruan. Namun, tanpa ia sadari, saat hendak pulang ke rumah, Otapor diincar oleh seorang gadis jelmaan ular. Ular itu bernama Baci, yang dalam bahasa Asmat digambarkan bertubuh pendek, berwarna cokelat, dan sangat berbisa. Konon, dalam cerita ini, Baci bersuamikan Bini, sang piton hitam.

Bini dalam ungkapan Asmat sering disebut sebagai wasan barukipit yang berarti “raja hutan”. Sebutan ini diberikan karena di hutan Asmat memang tidak terdapat binatang buas seperti harimau atau singa. Setiap kali Otapor melewati tempat tinggal mereka, Baci selalu memperhatikannya. Hal ini memicu kecemburuan sang raja hutan. Suatu ketika, Bini menjelma dan memukul Baci. Akibat pukulan yang sangat keras itu, Baci berteriak kesakitan: “Otapor, ketahuilah bahwa Bini cemburu dengan engkau.”

Teriakan tersebut terdengar oleh Otapor dari kejauhan. Otapor yang kebetulan sedang lewat secara diam-diam berkata: “Ah, kasihan, saya tidak mengenal istrimu. Kalian penghuni rimba raya ini. Lagi pula kita tak pernah saling bertemu.” Setelah berkata demikian, Otapor mempercepat langkahnya untuk pulang. Ia menyadari bahwa hidupnya sedang terancam karena suara itu berasal dari roh-roh penghuni hutan. Sejak saat itu, ia menjadi sangat berhati-hati dan selalu berburu bersama banyak teman agar sang raja hutan tidak memiliki kesempatan untuk mencelakainya.

Suatu hari, Otapor kembali pergi berburu bersama teman-temannya dan mereka mendapatkan hasil yang melimpah. Kali ini, masing-masing temannya diberikan seekor hasil buruan, begitupun dengan dirinya. Otapor membawa babi bagiannya ke rumah dan berpesan kepada keluarganya agar segera mengurusnya. Karena merasa sangat lelah, ia pun tertidur dengan sisa darah babi yang masih melekat di tubuhnya.

Setelah terbangun beberapa jam kemudian, Otapor langsung berjalan menuju sungai untuk mandi tanpa sempat mengusap matanya. Namun malang, saat ia menceburkan diri ke dalam air, Otapor langsung masuk ke dalam mulut Bini. Sang raja ular menangkapnya sebagai bentuk balas dendam atas tuduhan bahwa Otapor telah mengganggu istrinya, Baci.

Seorang pria tua yang sempat menyaksikan Otapor turun mandi merasa heran karena pemuda itu tidak kunjung muncul ke permukaan. Ia segera memperingatkan penghuni rumah panjang di pinggir Sungai Pi untuk mengecek keadaan. Tak lama kemudian, Otapor tampak muncul di tengah sungai dan berseru: “Saudara saudara, dengarlah. Saya diambil ular yang menuduh saya mengganggu istrinya.”

Melihat dan mendengar hal itu, teman-temannya segera menaiki perahu dan berusaha menolong, namun usaha mereka sia-sia. Ular raksasa itu menyelam dan membawa Otapor pergi. Konon, ular itu membawa Otapor keluar dari Sungai Pi, melewati anak Sungai Es, tembus ke Sungai Asuwets, mengikuti Sungai Jets, hingga masuk ke Sungai Sirets. Dari sana, mereka masuk ke anak Sungai Cakao. Sesampainya di tempat tinggalnya, Bini memperlihatkan Otapor kepada Baci sambil berkata: “Suamimu telah saya ambil dan aku akan menyiksanya dalam beberapa hari ini. Caranya dengan jalan menelannya perlahan lahan hingga hari ketiga sebagai hari terakhir menelan kepalanya.”

Mendengar itu, Baci merasa kasihan kepada Otapor dan berusaha memberitahu pihak keluarga pemuda itu melalui mimpi. Pada hari kedua, Baci hadir sebagai putri cantik dalam mimpi ipar Otapor. Di dalam mimpi yang sama, Otapor pun hadir dan memberitahu iparnya bahwa masa hidupnya akan segera berakhir. Ia berpesan: “Jika terlambat datang ke sungai Cakao di Sirets, saya tidak akan hidup lagi, biarpun hanya dengan kepala saja.”

Setelah terbangun, sang ipar menceritakan mimpi itu kepada saudara-saudaranya. Mereka segera berangkat menuju anak Sungai Cakao di Sirets. Seolah dituntun oleh putri Baci, mereka akhirnya menemukan Otapor dalam keadaan yang persis seperti di dalam mimpi.

Mereka pun membunuh ular raksasa tersebut. Perut ular itu dibelah untuk mengeluarkan Otapor. Namun, karena badannya sudah mulai membusuk, bagian tubuhnya dipotong dan hanya kepalanya—yang secara ajaib masih bisa berkata-kata—yang diambil. Kepala Otapor kemudian mengisahkan seluruh perjalanan dan kejadian yang dialaminya hingga ular itu terbunuh. Rombongan ipar-iparnya sangat sedih dan meratapi kejadian itu dengan penuh haru.

Setibanya di Sungai Pi, tepatnya di area Sungai Akamoman, kepala Otapor diletakkan di atas pohon beringin. Sejak saat itu, Otapor diyakini menjadi penghuni tempat tersebut.


Catatan: Cerita ini memberikan peringatan tentang kewaspadaan terhadap kekuatan gaib di hutan dan bagaimana kesalahpahaman (cemburu) bisa membawa malapetaka. Selain itu, ia menjelaskan asal-usul mengapa tempat tertentu dianggap keramat.

Asmat Archives

Asmat Cultural Archives and Research Center adalah lembaga independen di bawah naungan Ordo Salib Suci, yang didedikasikan untuk melestarikan, mendokumentasikan, dan memanfaatkan arsip yang berkaitan dengan sejarah dan budaya masyarakat Asmat.

Articles

Asmat Terei & Ji Atakam

Asmat Cultural Archives and Research Center

“Reconnecting the Asmat with Their Own Archives and Knowledge”

Newsletter

You have been successfully Subscribed! Ops! Something went wrong, please try again.

Get in touch

Copyright © 2026 Asmat Cultural Archives and Research Center

You cannot copy content of this page