Cerita asal: Mbait
Diceritakan oleh: Bapak Willem Wof
Diterjemahkan oleh: Yufen Biakai
Di sebuah kampung yang terletak di tepi Sungai Mamats, hiduplah seorang tokoh gagah perkasa bernama Beres. Istrinya bernama Mamats. Sebagai seorang Tesipits (pemimpin), Beres memiliki hubungan baik dengan para pemimpin kampung lain di kawasan Asmat. Namun, karena suatu penghinaan, Beres akhirnya bersekutu dengan Sokorew, pemimpin tersohor di kawasan Sungai As dan Bets.
Kisah ini bermula pada suatu hari ketika Mamats pergi menjaring ikan di sebuah anak sungai bersama teman-teman wanitanya. Beres mengikuti rombongan itu dari belakang dengan sebuah perahu kecil. Saat sedang menjaring, kaki Mamats terkena duri ikan yang menyebabkan rasa sakit luar biasa hingga ia menjerit sepanjang hari. Dari kejauhan, Beres yang mendengar jeritan itu tersentak, lalu segera mendekat untuk mengintip. Ternyata benar, itu adalah istrinya.
Tanpa menemui istrinya, Beres justru pergi mengikuti jejak perempuan-perempuan lain dalam rombongan tersebut. Ia menemui mereka secara terpisah dan menggauli mereka. Setelah itu, barulah Beres menemui Mamats yang masih mengerang kesakitan. Mamats terkejut dan sempat menyangka suaminya adalah hantu. Setelah sadar bahwa itu adalah Beres, tanpa rasa curiga ia memohon agar suaminya memanggil teman-teman wanitanya. Beres pun pergi memanggil mereka untuk pulang. Di saat itulah, Beres kembali berkencan dengan seorang wanita bernama Teweraut, bekas kekasihnya yang ia rencanakan untuk dibawa lari ke kampung lain.
Pada saat yang sama, Beorpit, suami Teweraut, tiba di tempat tersebut. Wanita-wanita lain terus memanggil Teweraut, sementara Beorpit menunggu dengan hati yang tidak menentu. Kecurigaannya memuncak karena Teweraut berada sangat jauh dari perahu. Dalam kemarahan yang besar, Beorpit membunuh istrinya sendiri. Ia kemudian mencaci Beres sebagai pemimpin yang hanya mencari popularitas murahan di kalangan wanita dan menjuluki Beres sebagai cowut apom, yang berarti “perempuan betul.”
Melihat pembunuhan itu dan mendengar caci maki tersebut, Beres merasa sangat malu. Ia hanya diam, namun kemarahan besar terpendam di hatinya. Setelah rombongan kembali ke kampung, Beorpit menyerang Beres dan menghancurkan perahunya. Beres tidak membalas, namun ia menyadari bahwa tindakan keras Beorpit adalah isyarat bahwa ia harus meninggalkan kampung halaman untuk mencari tempat tinggal baru.
Beres pun berangkat menuju Sungai As bersama istrinya setelah menyiapkan perahu baru selama satu bulan. Mereka bermaksud bersekutu dengan Sokorew. Sepanjang perjalanan melewati muara-muara besar di Teluk Flamingo, mereka sempat dikejar oleh masyarakat sekitar. Namun, begitu mendengar bahwa yang berada di perahu adalah Beres dan Mamats, masyarakat tersebut segera meletakkan senjata mereka karena rasa hormat terhadap nama besar Beres.
Setibanya di muara Sungai Bets, Beres dan Mamats meratapi sanak saudara yang mereka tinggalkan di Mamats. Sebagai tanda berkabung, mereka mandi lumpur, seolah-olah keluarga mereka telah meninggal dunia. Sebelum memasuki dunia baru, mereka mandi di muara sungai sebagai simbol melepaskan masa lalu, meski keinginan Beres untuk membalas dendam kepada Beorpit tetap membara. Beres pun pergi berburu dan berhasil mendapatkan beberapa ekor babi untuk dipersembahkan kepada Sokorew sebagai tanda persahabatan.
Sokorew Menerima Beres Suami istri itu mendayung hingga mencapai As Arep (hulu Sungai As) pada tengah malam. Karena belum mengenal medan, perahu mereka menabrak panggung rumah Sokorew yang berdiri di tengah sungai. Awalnya mereka mengira telah menabrak kayu gelondongan, namun setelah melihat perahu tertambat, mereka sadar itu adalah rumah Sokorew.
Sokorew yang belum tidur merasa ada orang di kolong rumahnya. Ia turun dengan berpura-pura hendak buang air kecil. Di bawah sana, ia melihat seseorang berdiri di depan perahu. Sokorew bertanya: “Siapa gerangan engkau.”
Beres menyahut: “Sebutlah namamu dahulu karena saya hanya seorang tamu saja.”
Sokorew menjawab: “Saya Sokorew, saya penguasa sungai As.”
Lalu Beres berkata: “Saya Beres, pemilik sungai Mamats.”
Keduanya pun berpelukan sebagai tanda dimulainya persahabatan. Sokorew membangunkan istri-istrinya untuk menyiapkan tempat tidur bagi tamu mereka. Sejak saat itu, Beres tinggal bersama Sokorew di As Arep dan menjadi sekutu kuat dalam menguasai kawasan Sungai As dan Bets.
Sokorew Menyerbu Beorpit di Sungai Mamats Keakraban kedua pemimpin ini semakin erat hingga mereka merencanakan penyerbuan terhadap Beorpit di Sungai Mamats. Setelah strategi disusun dengan seksama, mereka berangkat menyerang. Terjadilah pertempuran hebat yang berakhir dengan kematian Beorpit di tangan Sokorew yang memanahnya.
Sejak peristiwa itu, nama Sokorew semakin dijunjung tinggi oleh masyarakat di sekitar Sungai Mamats. Penduduk kampung asal Beres meratapi kematian Beorpit, namun mereka juga merasa sedih karena Beres ikut berperang melawan orang dari kampungnya sendiri, sehingga mereka merasa kehilangan sosok orang tua atau pemimpin.
Catatan: Cerita ini menggambarkan bagaimana persekutuan antar-pemimpin di Asmat sering kali dipicu oleh rasa malu (sir) dan keinginan untuk memulihkan harga diri melalui bantuan kekuatan dari wilayah lain.






