Cerita asal: Yamas – Yeni
Diceriterakan oleh: Norbertus Owse
Diterjemahkan oleh: Yufen A. Biakai,BA
Konon di sebuah dusun hidup seorang pemuda ganteng bernama Tuutam. Kerjanya setiap hari berburu. Hasil perburuannya selalu dibagikan kepada segenap isi kampung halamannya. Karenanya banyak wanita tertarik padanya. Rupanya roh penjelmaan buaya betina juga berusaha menggaetnya.
Demi menunjang perburuannya, Tuutam memerlukan sebuah perahu. Suatu pagi, tanpa makan Tuutam ke hutan menebang kayu untuk membuat perahu baru. Ketika dia memotong ujung kayu tersebut, dia berhenti sejenak sambil menggerutu dengan mengatakan: “Mengapa perempuan ini (istrinya) tidak menyusul saya untuk mengantar makanan” . Keluhan ini didengar oleh roh buaya betina, yang dalam bahasa Asmat disebut ea kamor cowot.
Tak lama kemudıan, Wanita penjelmaan roh buaya betina yang menyerupai istri Tuutam muncul dengan sagu bungkus, yang dalam bahasa Asmat disebut amos jimin. Setelah memberi sagu bungkus, wanita penjelmaan itu mengajak Tuutam untuk berkencan. Melihat perilaku wanita tersebut, Tuutam tidak langsung makan sagu bungkus itu. Pun pula dia tidak melayani permintaannya untuk kencan. Tuutam sadar bahwa perempuan ini bukan isterinya yang sebenarnya., ketika ia melihat cara wanita itu menghindari belakangnya agar tak dilihat, berjalan diatas kayu seolah olah melayang dan cara spontan bernada memaksa untuk mengajak kencan. Menjadi jelas baginya bahwa wanita ini adalah roh penjelmaan buaya betina. Wanita itu terus menerus mendesak, namun Tuutam tidak menerima tawaran tersebut. Diajaknya wanita itu berjalan di depannya, namun wanita itu tidak mau.
Sebaliknya Tuutam juga tidak mau berjalan di depan. Dia takut jangan sampai wanita itu akan menempeleng kedua daun telinganya. Jika penjelmaan roh buaya betina memukul telinga akan berakibat telinga Tuutam menjadi tuli.
Kalau sudah tuli, tidak ada kemungkinan baginya untuk membalas. Oleh karena itu Tuutam tidak mau membiarkan wanita itu berjalan di belakangnya, tetapi akhirnya dia mengalah, namun terus menerus mengajak kencan. Tuutam juga selalu mengatakan “tunggu dulu sampai dekat perahu”.
Akhirnya di dekat perahu ada serumpun pohon sagu. Tuutam mengajak wanita itu untuk menyiapkan tempat mengadakan hubungan kencan. Tuutam sendiri turun ke perahu, membuka tali perahu sebagai persiapan untuk bergegas berangkat ke kampung. Setelah Tuutam menyiapkan perahu, ia kembali ke hutan bertemu dengan wanita penjelmaan yang telah menyiapkan tempat kencan. Ketika hendak berkencan, Tuutam segera memegang kedua tangan wanita itu. la mengangkat dan mencampakkan wanita itu ke dalam rumpun sagu. Lalu Tuutam segera lari ke perahu yang telah disiapkan, menuju ke kampung.. Roh wanita itu berteriak dengan mengatakan :”waduh, sungguh kesal aku, mengapa aku tak segera menampar telinganya. Kau tak pernah lari jauh, biarlah kau pergi dulu untuk hanya sebentar”. Dengan susah payah roh wanita itu keluar dari dalam rumpun sagu. Badannya penuh dengan duri sagu. Lalu bagaimana dengan Tuutam? Tuutam terus mendayung sampai di kampung.
Setiba di kampung la segera memerintahkan saudara-saudaranya untuk membelah perahu perahu yang ada. Selain membelah perahu mereka juga diperintahkan untuk menyiapkan kulit gagar (pinang). Pecahan-pecahan perahu diikat mengelilingi rumah kediamannya. Di lantai rumah pun diletakkan belahan perahu yang baru. Rotan dan kulit gagar dipakai untuk mengikat pintu. Dari arah atap juga disiapkan belahan perahu dan perisai yang semuanya dalam keadaan terikat. Dengan demikian roh wanita itu tidak dapat masuk ke dalam rumah. Tuutam tetap terlindungi di dalam rumahnya, di mana saudara saudaranya tetap bersamanya selama kurang lebih tiga bulan.
Selama wanita itu berusaha mengambil Tuutam, saudara-saudaranya juga tak pernah mau tidur, tak membiarkan kakak tertuanya pergi ke alam baka bersama roh wanita itu. Karena tak pernah keluar, Tuutam dan saudara-saudaranya berbadan kurus dan penuh daki. Agar dapat mandi, diupayakan untuk membunuh buaya tersebut. Caranya ialah setelah menyiapkan tombak tombak dan perisai perisai selama beberapa hari, seluruh penduduk kampung terutama kaum pria dikerahkan menebang kayu di sepanjang sungai kecil. Sambil menunggu air pasang, Tuutam dikeluarkan dari persembunyiannya untuk turun ke kali dan mandi. Sebelah menyebelah sungai kecil itu telah penuh dengan seluruh isi kampung. Mereka membiarkan buaya itu naik ke hulu sungai menuju Tuutam yang sedang mandi. Setelah buaya itu mendekat, ia ditombak oleh para tua tua. Buaya tersebut berusaha meloloskan diri namun usahanya sia-sia belaka.
Karena banyak tombak yang menembusi tubuhnya, maka buaya itu pun mati lemas. Seluruh warga kampung berpesta ria makan daging buaya itu.Sejak itu Tuutam kembali hidup seperti sediakala.
NB: Dengan cara ini diajarkan kepada anak-anak muda agar tidak sembarangan mengadakan hubungan dengan perempuan pada waktu mengerjakan sesuatu atau dalam perjalanan di hutan, terutama jika tidak mereka pergi bersama isteri ke hutan. Selain itu janganlah membuat janji dengan wanita untuk bertemu di suatu tempat.





